Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Kisah Inspiratif Saniar, Nenek Berusia 82 Tahun yang Menjadi Pekerja Keras

Yusnadi BP • Rabu, 23 Oktober 2024 | 18:05 WIB

 Kisah-kisah inspiratif dari orang yang lebih berpengalaman dalam menjalani kehidupan, sering kali memberikan pelajaran hidup berharga dan menjadi inspirasi bagi generasi muda. Salah satunya adalah kisah Saniar, seorang nenek tangguh berusia 82 tahun yang memperlihatkan ketekunan dan kemandirian hingga menunjukkan rasa syukur.

***

Saniar (82 tahun) saat menjajakan dagangan berupa es jeli dan kue serabi menggunakan kereta bayi di Jalan Bakar Batu Tanjungpinang.
Saniar (82 tahun) saat menjajakan dagangan berupa es jeli dan kue serabi menggunakan kereta bayi di Jalan Bakar Batu Tanjungpinang.

Ba'da Zuhur, cuaca terik dengan hawa panas yang cukup menyengat, menghiasi suasana siang itu. Matahari pun memancarkan sinarnya menerangi kawasan Sukaberenang Jalan Ir Sutami Tanjungpinang.

Di kawasan itu, sejumlah warga tampak sibuk menjalankan aktivitas masing-masing. Ada yang berjualan di pertokoan, sebagian lagi tengah istirahat siang di kedai kopi. Sementara pengendara lalu lalang memadati ruas jalan raya.

Namun di tepi jalan raya, tampak pemandangan luar biasa dan unik yang hampir setiap hari sering terlihat. Pemandangan khas itu adalah seorang perempuan yang terlihat bungkuk dengan kulit yang tampak telah keriput, mendorong kereta bayi (stroller).

Meskipun diterpa terik matahari dan tampak berjalan pelan pelan dan sedikit tertatih-tatih, perempuan berhijab yang berusia 82 tahun itu, tetap bersemangat mendorong kereta bayi menyusuri sepanjang Jalan Ir Sutami Tanjungpinang.

Hal yang unik lainnya, ternyata sang nenek yang bernama Saniar ini, bukan membawa bayi atau cucunya pada kereta bayi. Namun ternyata isi kereta bayi adalah sebuah boks atau kotak pendingin berisi beberapa botol es jeli. Selain itu, di dalam kereta bayi, tampak juga beberapa bungkus kue serabi.

Usia lanjut, tidak menjadi alasan bagi Saniar untuk menikmati hari tua dan bersantai di rumah. Saniar dengan penuh semangat justru terus berjuang dan bekerja keras membantu perekonomian keluarga dengan berjualan es jeli dan kue serabi.

Beberapa tahun belakangan ini, hampir setiap hari, sejak subuh, Saniar dan kerabatnya mulai menyiapkan dan memasak adonan serabi. Ia juga menyiapkan dan mengolah berbagai es jeli segar berbagai rasa.

Hampir setiap hari pula, Saniar sanggup berjalan kaki mendorong kereta bayi menempuh jarak hampir lima kilometer pulang pergi. Tanpa kenal lelah, Saniar menjajakan es jeli dan dan kue serabi kepada warga Tanjungpinang.

Saniar menempuh perjalanan dan jarak yang cukup jauh. Dari rumahnya di kawasan Kampung Baru Jalan Dr Sutomo, ia menyusuri Jalan Juanda ke kawasan Jalan Bakar Batu hingga ke Kampung Tambak.

Terkadang, pada hari lain, dari Kampung Baru, Saniar menyusuri kawasan Jalan Ir Sutami ke Jalan Raja Ali Haji Batu 4 hingga kawasan Jalan Ahmad Yani Batu 5 Tanjungpinang. Selain menjajakan dagangannya di jalan raya tersebut, Saniar terkadang dari Kampung Baru, menyusuri Jalan Tugu Pahlawan hingga ke Jalan Sumatera Tanjungpinang.

Pembelinya datang dari berbagai kalangan, baik anak-anak sekolah, pekerja kantoran, hingga masyarakat menjadi pelanggan setia. Dengan senyum ramah dan tangan cekatan yang telah keriput, Saniar tanpa lelah dan penuh semangat, menawarkan dan melayani pembeli.

Siang itu, salah seorang pembeli menghampiri Saniar dan membeli satu botol es jelly seharga Rp 13 ribu dan satu bungkus kue serabi seharga Rp 10 ribu. Pembeli itu tampak memberikan uang Rp 50 ribu.

Saat Saniar ingin menyerahkan kembalian, sang pembeli dengan ikhlas menyerahkan uang kembaliannya kepada Saniar. Dengan wajah tersenyum, Saniar pun membalas dengan mengucapkan Alhamdulillah dan terima kasih kepada pembeli. Tak lupa ia mendoakan pembeli agar mendapatkan rezeki berlimpah.

Saat istirahat berteduh dari sengatan sinar matahari, Saniar sempat bercerita. Biasanya, sisa kembalian dari pembeli itu ia tabung. Karena menurut Saniar, menabung itu sangat penting.

“Sebagian ditabung di Masjid,” sebut Saniar sambil tersenyum riang.

Di sela-sela istirahat menghilangkan lelah, Saniar mengaku, dengan berkat izin Allah, ia masih diberi nikmat sehat dan sanggup berjalan kaki mendorong kereta bayi. Ia mengaku tekun dan mandiri serta telah terbiasa bekerja keras sejak muda.

Meskipun kerabat dan keluarganya telah beberapa kali menyarankan agar ia berhenti berjualan dan menikmati masa tuanya, namun Saniar tetap dengan pendiriannya. Menurutnya, berjualan ini adalah cara bersyukur atas nikmat kehidupan yang Allah berikan kepadanya hingga saat ini.

"Ya mau jualan saja, tidak betah berada di rumah. Kalau capek istirahat dan pulang naik transpot (angkutan umum)," kata Saniar yang mengaku sebagai pensiunan pegawai Pertamina di Bintan.

Meskipun persaingan usaha semakin ketat, Saniar tetap konsisten mempertahankan usaha menjual es jeli dan kue serabi menggunakan kereta bayi. Hal itu dilakukannya demi keluarga kesayangannya.

Selama tubuh masih kuat, tangan masih bisa bergerak serta masih mendapatkan nikmat sehat dari Allah, ia akan terus bersyukur dan menjalankan usaha. Menurutnya, hal yang dilakukannya, bukan hanya soal uang, namun bagaimana mencari rezeki halal dan bermanfaat bagi keluarga dan orang lain.

"Alhamdulillah, uang hasil penjualan bisa untuk bantu (kebutuhan) keluarga, beli popok dan beli susu untuk cucu," ungkap Saniar yang mengaku kelahiran Sumatera Barat ini.

Usai istirahat dan merasa letihnya telah hilang, Saniar melanjutkan perjalanan untuk menjajakan dagangannya ke kawasan Jalan Raja Ali Haji yang berjarak lebih kurang satu kilometer dari kawasan Sukaberenang Jalan Ir Sutami Tanjungpinang.

Saniar pun sempat berpesan, dalam keadaan apapun, jangan meninggalkan kewajiban salat, berdoa dan sedekah. Selalu berbuat baik kepada sesama. Begitulah pesan Saniar.


Inspirasi bagi Generasi Muda agar Tidak Pantang Menyerah

Kisah semangat dan ketekunan Saniar ini bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang khususnya generasi muda di Tanjungpinang. Inspirasi untuk selalu bersyukur dan pantang menyerah serta tangguh dalam berbagai keadaan.

Sebab pada zaman modern yang serba cepat dan serba mudah ini, ketekunan dan kerja keras menjadi kunci serta pengingat, bahwa kesenangan dan kebahagiaan sejati tidak datang dari hal-hal yang mudah dan instan. Namun datang melalui perjuangan, ketekunan dan usaha yang tulus.

Banyak pelanggan dan pembeli yang kagum dengan ketangguhan dan kegigihan Saniar dalam menikmati masa tuanya. Saniar disebut sebagai simbol ketekunan dan ketangguhan yang menyebarkan kebaikan dan semangat hidup kepada siapa saja.

Saniar telah membuktikan bahwa usia yang telah menua, bukan penghalang untuk tetap produktif dan bersemangat menjalani kehidupan. Saniar merupakan simbol dari ketekunan, kemandirian dan cinta pada pekerjaan dan selalu mengucap syukur.

"Nenek Saniar mengajarkan kita semua untuk bersyukur. Selama masih sehat dan memiliki semangat hidup, segala sesuatu bisa kita capai, tidak peduli berapa pun usia kita," kata Ayu, 40, salah seorang pelanggan Saniar.

Ayu bercerita, pernah suatu hari, ia membeli dagangan nenek Saniar. Ia kemudian menawarkan jasa untuk menemani dan mengantar nenek Saniar ke tujuannya. Namun, kata Ayu, nenek Saniar menolak secara halus tawaran tersebut.

"Waktu itu nenek Saniar mengaku ingin berjalan kaki saja. Alasannya karena sudah terbiasa sejak muda," katanya.

Pada lain hari di kawasan Batu 4, usai pulang bekerja, Ayu ingin membeli dagangan nenek Saniar. Namun dagangan Saniar telah ludes diborong pembeli. Lalu Ayu menawarkan kepada nenek Saniar untuk mengantarkannya pulang ke rumah.

"Nenek Saniar memang sudah agak pelupa karena umurnya. Awalnya nenek tidak mau, tapi akhirnya mau diantar pulang. Kami antar sampai di depan gang rumahnya. Nenek tidak mau diantar sampai rumah. Nenek mengucapkan Alhamdulillah dan terima kasih," ungkapnya

Menurut Ayu, sikap rendah hati, semangat, ketekunan, kegigihan, ketangguhan dan rasa syukur yang ditunjukkan oleh nenek Saniar, patut menjadi inspirasi bagi generasi muda dan contoh yang baik bagi siapa saja termasuk dirinya.

"Semoga Allah terus memberi nikmat sehat kepada nenek Saniar dan keluarganya. Kami sebagai pelanggannya, dapat ilmu bermanfaat dan berharga dari sosok tangguh nenek Saniar," tutup Ayu. (*)ar

 

Editor : Tunggul Manurung
#nenek