Kawasan Kampung Bukit atau Bukit Cermin memiliki peran penting dalam sejarah pertahanan kerajaan melawan penjajah. Menjadi tempat pengintaian penjaga perbatasan kerajaan untuk memantau kedatangan kapal penjajah.
Asal usul nama kawasan Kampung Bukit atau Bukit Cermin tidak terlepas dari kondisi geografis yang terletak di kawasan paling tinggi di Kota Tanjungpinang.
Menurut penuturan masyarakat setempat atau cerita rakyat disebutkan bahwa kawasan tersebut, diberi nama Kampung Bukit karena terletak di perbukitan yang begitu tinggi.
Selain itu, berdasarkan penuturan masyarakat setempat bahwa dahulunya Kampung Bukit merupakan kawasan yang memiliki banyak bukit.
Saat ini, kawasan paling tinggi di Tanjungpinang ini berdiri satu masjid berwarna kuning kombinasi putih dan dua menara atau tower telekomunikasi.
Oleh karena keberadaan satu masjid dan dua tower ini, menunjukkan bahwa perbukitan ini yang menjadi dasar penamaan kawasan Kampung Bukit.
Selain itu, Kampung Bukit juga memiliki nama lainnya yang dikenal masyarakat Tanjungpinang saat ini yaitu terkenal dengan nama Bukit Cermin.
Menurut Budayawan Tanjungpinang Yoan Sutrisna Nugraha, penamaan nama Bukit Cermin, berkaitan erat dengan era Kerajaan Riau Lingga Johor Pahang yang berkuasa sekitar tahun 1700-1784 dengan Ibu Kota di Sungai Carang atau Hulu Riau.
Pada zaman itu yang berkuasa adalah Yang Dipertuan Muda ke IV Raja Haji, maka di Kampung Bukit tepatnya di puncak bukit
tertinggi di Tanjungpinang ini dibangun sebuah cermin besar untuk pengintaian.
Bukit ini pun menjadi bukit intai para Ribath atau penjaga perbatasan kerajaan. Tugasnya tidak lain untuk memantau dan melihat kapal-kapal yang tak dikenal terutama kapal Portugis masuk ke Hulu Riau.
Para penjaga perbatasan ini menggunakan cermin besar yang diletakkan di atas bukit paling tinggi di Tanjungpinang ini untuk menjangkau penglihatan hingga ke semenanjung pantai.
Selain itu, cermin besar tersebut digunakan sebagai alat pantul cahaya atau kode bagi pertahanan kerajaan ke Pulau Penyengat, Istana Kota Rebah di Hulu Riau dan wilayah Sungai Carang, tempat para hulubalang berdiam diri.
Kawasan Bukit Cermin juga memiliki peran penting dalam sejarah pertahanan sebagai tempat pengintaian oleh penjaga perbatasan kerajaan untuk memantau kedatangan kapal penjajah.
Dari buku Sejarah Melayu karya Ahmad Dahlan dari pekerjaaan para Ribath inilah salah satu kapal Inggris yaitu Betsy tertangkap oleh armada keamanan laut Raja Haji Fisabilillah pada 15 Januari 1782.
"Dari sejarah dibangun dan dipasangnya cermin besar tersebut, kampung ini sekarang juga dikenal sebagai Bukit Cermin," jelas Yoan.
Namun, lanjut Yoan, saat penjajah Belanda berkuasa di Tanjungpinang, versi penamaan Bukit Cermin berubah. Bukan dari latar belakang sejarah yang merupakan pos penjaga perbatasan.
Menurut cerita rakyat, Belanda menamakan Bukit Cermin karena kawasan ini telah lama tidak berpenghuni, maka ditumbuhi pohon-pohon besar.
Jika hujan mengguyur, air di dedaunan pohon akan bersinar dan berkilau sehingga Belanda mengatakan cahaya tersebut adalah Spie yang artinya cermin.
"Makanya Belanda menamakan bukit itu sebagai Bukit Cermin," jelas Yoan.
Saat ini, kata Yoan, Kampung Bukit atau Bukit Cermin Tanjungpinang juga dikenal masyarakat dengan nama Puncak.
"Saat ini sudah padat rumah penduduk, ada juga rumah makan dan cafe," ungkapnya.
Dari kawasan Kampung Bukit atau Bukit Cermin, masyarakat Tanjungpinang dapat menyaksikan keindahan Gunung Bintan dan Sungai Carang atau Hulu Riau dengan sangat jelas.
Selain itu tampak pemandangan ribuan rumah penduduk yang berdiri di atas laut serta hiruk pikuk kapal-kapal yang berlabuh dan lalu lalang serta aktivitas ekonomi lainnya.
Kawasan yang berbatasan langsung dengan Kelurahan Kemboja ini juga dapat ditembus dari berbagai arah. Untuk menebus Bukit Cermin, bisa dari Kampung Melati dan Gang Melur Jalan Kemboja serta Jalan Sunaryo Tanjungpinang.
Selanjutnya, Kelurahan Bukit Cermin dapat ditembus melalui Jalan Tugu Pahlawan, kawasan Kampung Baru Jalan Dr Sutomo, kawasan Pancur Jalan Ir Juanda, Jalan Borobudur dan Gang Kulim Batu 2 Jalan Brigjen Katamso Tanjungpinang.
Saat ini, Bukit Cermin menjadi salah satu Kelurahan di Kecamatan Tanjungpinang Barat, Tanjungpinang, Kepri. Bukit Cermin telah berkembang menjadi area pemukiman yang dihuni oleh warga dari berbagai latar belakang.
Kawasan ini juga memiliki prestasi yang tercatat dalam sejarah. Salah satu Rukun Warga (RW) di Kelurahan Bukit Cermin, dinobatkan sebagai Kampung Iklim pertama di Kepri dengan meraih penghargaan Proklim Lestari 2024.
Penghargaan yang diberikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ini, sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan Kelurahan Bukit Cermin dalam melakukan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang terintegrasi.
Pencapaian ini tidak hanya mendukung target penurunan emisi gas rumah kaca nasional. Namun juga meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim. (*)
Editor : Tunggul Manurung