Ruang terbuka hijau yang penuh nostalgia ini bukan sekadar lapangan luas yang dikelilingi pepohonan yang membuat teduh. Namun menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dan perkembangan Tanjungpinang sebagai ibu kota Kepulauan Riau (Kepri).
***
Di tengah pesatnya perkembangan Kota Tanjungpinang, berdiri sebuah ruang teduh yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Kota Gurindam. Ruang terbuka hijau juga pernah mengiringi perjalanan sejarah Tanjungpinang.
Berpuluh tahun lalu, taman ini adalah titik kumpul, magnet keramaian, tempat masyarakat mencari teduh, berbagi cerita, hingga menggelar berbagai aktivitas budaya dan olahraga.
Bagi generasi yang tumbuh pada era 1990–2000-an, taman ini adalah pusat berbagai aktivitas. Dari upacara resmi pemerintahan, lomba rakyat saat perayaan kemerdekaan, hingga arena latihan baris-berbaris para pelajar.
Bahkan, pada pagi dan sore hari, taman yang bersanding dengan lapangan luas ini selalu ramai oleh warga yang berolahraga atau sekadar bercengkerama di bawah naungan pohon hijau yang mekar.
Kini, suasananya tidak sehidup pada masa lalu. Meski masih menjadi ruang terbuka hijau, taman ini perlahan mulai kehilangan gemerlapnya. Taman legendaris yang kini mulai terlupakan itu adalah Taman Pamedan Ahmad Yani, Tanjungpinang.
Meskipun demikian, bagi sebagian warga Tanjungpinang, Taman Pamedan tetap punya tempat spesial di hati dan menjadi tempat nostalgia masa lalu, bercengkrama dan tempat olahraga.
Keistimewaan taman legendaris ini juga terletak pada lokasinya yang strategis karena berada di tengah jantung Kota Tanjungpinang. Berdekatan dengan kantor-kantor pemerintahan, sekolah, dan kawasan perbelanjaan.
Taman Pamedan yang legendaris ini berlokasi di kawasan Batu 4 Tanjungpinang. Dikelilingi empat jalan utama yaitu Jalan Raja Ali Haji, Jalan Ahmad Yani, Jalan Basuki Rahmat, Jalan Pemuda dan hingga Jalan Engku Putri.
Sebagai salah satu ruang terbuka hijau yang masih tersisa, taman yang diperkirakan dibangun pada awal era 1980an ini, sejatinya masih berperan penting bagi kualitas udara dan ruang interaksi yang teduh masyarakat Tanjungpinang.
Di tengah perkembangan pembangunan dan minimnya lahan terbuka di tengah kota, Taman Pamedan Ahmad Yani tetap menyimpan sebuah pesan dan nostalgia. Ruang teduh ini bukan sekadar pelengkap, namun bisa kembali menjadi identitas dan nafas kota.
Menurut warga setempat, keberadaan ruang teduh dan hijau, bukan hanya sebagai pelengkap, Taman Pamedan Ahmad Yani merupakan saksi sejarah perkembangan Tanjungpinang, penyimpan kenangan dan nostalgia hingga menjadi identitas kota.
"Waktu kami kecil, kami sering main bola di lapangan (taman) Pamedan ini, kalau sekarang ke sini ya bisa nostalgia ingat masa kecil," kata Didid (43), warga Jalan Pemuda Tanjungpinang, Minggu (10/8).
Pada era 1990an, ungkap Didid, lapangan atau Taman Pamedan kerap dijadikan tempat berbagai aktivitas atau kegiatan. Terutama tempat digelarnya Pameran Pembangunan Tanjungpinang, setiap satu tahun sekali.
"Dahulu seingat kami, setiap Agustus atau Januari itu, ada Pameran Pembangunan di sini. Waktu itu kami bisa lihat dan belajar segala hal tentang Tanjungpinang, tapi sekarang tidak ada lagi pameran," kenang Didid di sela-sela jalan santai di Taman Pamedan.
Saat ini, lanjut Didid, Taman Pamedan telah dipercantik. Kini telah dilengkapi dengan panggung, tempat bermain anak, musala, jalur jalan santai, batu alam pijat refleksi, lapangan sepak takraw, lapangan basket, papan wall climbing (latihan memanjat) serta gazebo berbangku beton dan besi, toilet hingga tong sampah.
"Kadang hari Sabtu dan Minggu pun sepi. Karena orang-orang pada pergi ke tempat santai baru di Dompak, bandara dan tepi laut," katanya.
Banyak warga Tanjungpinang yang menginginkan Taman Pamedan diberi sentuhan konsep taman modern dan kembali menjadi pusat aktivitas atau kegiatan publik.
Jika dikelola dengan konsep taman kota modern dan tetap mempertahankan nilai sejarahnya, Taman Pamedan Ahmad Yani yang mulai meredup ini bisa kembali bersinar menjadi ikon Kota Tanjungpinang.
Dengan sedikit sentuhan modern yang tepat, taman ini bisa kembali menjadi ruang teduh yang membangkitkan kebersamaan, seperti masa-masa emasnya dulu.
"Cukup bersih lah sekarang taman ini. Setiap hari ada petugas kebersihan yang bersih-bersih. Tapi sayang, toilet kadang tidak ada airnya," sebut Sarjana Ekonomi ini.
Didid menambahkan, tidak hanya menjadi tempat olahraga, saat ini lapangan Taman Pamedan juga kerap dijadikan tempat aktivitas keagamaan, sosial, ekonomi, budaya dan konser musik.
"Kalau ada acara baru ramai. Pas bulan puasa ada pasar Ramadan. Salat Idulfitri dan Iduladha juga di sini (Taman Pamedan)," terangnya. (*)
Editor : Tunggul Manurung