Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Merajut Kenangan Masa Lalu lewat Tangga Klasik Abad ke-19 di Kota Lama Tanjungpinang 

Yusnadi BP • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 18:00 WIB

  Tangga klasik dari abad ke-19 yang berlokasi di kawasan Kota Lama Tanjungpinang, resmi ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Tanjungpinang. Penetapan ini bertujuan untuk melestarikan warisan sejarah dan arsitektur yang telah berusia lebih dari 100 tahun itu.

***

Tangga Batu yang berlokasi di kawasan Kota Lama Tanjungpinang.
Tangga Batu yang berlokasi di kawasan Kota Lama Tanjungpinang.

Tangga klasik nan legendaris itu bernama Tangga Batu. Dikenal juga sebagai Tangga Apollo, Tangga 30 atau Tangga Bertingkat. Tangga ini berfungsi sebagai akses publik dan elemen artistik kota sejak abad ke-19.

Tangga Batu di Tanjungpinang telah ada sejak zaman kolonial Belanda. Meskipun telah banyak pembangunan modern menggantikan jalan lama, Tangga Batu tetap berdiri, menyimpan sisa sejarah yang tidak terlupakan.

Tangga Batu berperan penting sebagai fasilitas umum dan akses jalan pintas di Tanjungpinang. Sebab letak geografis Tanjungpinang yang berbukit-bukit, maka pada zaman dahulu kala, dibangun tangga yang terbuat dari batu dengan tujuan agar kota terlihat indah, rapi dan artistik.

Batu yang digunakan pada tangga tersebut berasal dari sebuah pabrik batu alam yang berada di Senggarang pada zaman dahulu. Batu yang digunakan sama dengan yang digunakan pada Masjid Sultan Riau Penyengat.

Oleh karena itu, Tangga Batu bukan hanya sekadar batu-batu yang tersusun menanjak. Tangga klasik nan legendaris itu adalah sejarah masa lalu yang patut dikenang, dirawat dan dibanggakan.

Kini, Tangga Batu menjadi bagian dari upaya penguatan identitas budaya Tanjungpinang dan peningkatan daya tarik wisata. Selain itu, menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.

Tangga Batu atau Tangga Apollo yang berada di kawasan Kota Lama Tanjungpinang ini, bukan hanya struktur fisik, tetapi sebagai simbol perjalanan dan kenangan bagi masyarakat Tanjungpinang.

Namun seiring berjalannya waktu, popularitas dan ketenaran Tangga Batu mulai redup. Pembangunan jalan raya dan akses kendaraan perlahan menggeser fungsi tangga ini sebagai jalan penghubung.

Untuk mengenalkan kembali keberadaan Tangga Batu kepada generasi muda, Pemerintah Kota Tanjungpinang melalui Dinas Budaya dan Pariwisata tidak tinggal diam.

Pihak berwenang mulai memperhatikan keberadaan tangga klasik legendaris yang penuh kenangan ini dengan upaya pelestarian. Salah satunya dengan menjadikan Tangga Batu sebagai objek cagar budaya Tanjungpinang.

Melalui pelestarian dan penghargaan terhadap Tangga Baru sebagai cagar budaya ini, masyarakat dapat terus merajut kisah masa lalu ke dalam kehidupan modern.

Memastikan bahwa sejarah tetap hidup bagi semua generasi mendatang.
Dengan demikian, generasi muda dapat terus merasakan dan dapat menghargai nilai-nilai sejarah yang terkandung dalam Tangga Batu ini.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Tanjungpinang Zulhidayat mengungkapkan, ada lima objek yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya Kota Tanjungpinang pada awal tahun 2025. Salah satunya adalah Tangga Batu.

Melalui penetapan sebagai cagar budaya, lima objek tersebut akan mendapatkan perlindungan hukum. Penetapan itu juga diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi wisatawan serta dapat memperkuat identitas budaya Tanjungpinang.

"Objek cagar budaya akan mendapatkan perawatan dan upaya pelestarian yang lebih baik, sehingga nilai sejarahnya tetap terjaga bagi generasi mendatang," jelasnya.

Selanjutnya, keberadaan cagar budaya baru di Tanjungpinang ini juga dapat memberikan dampak yang positif bagi kehidupan dan perekonomian masyarakat sekitar.

“Dengan penetapan ini, Tanjungpinang semakin kaya akan sejarah dan budaya. Ini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat dengan Tanjungpinang,” terang Zulhidayat.

Cerita Nostalgia Masyarakat di Tangga Batu

Tangga Batu sendiri merupakan tempat yang akan selalu dikenang dan menyimpan cerita nostalgia. Tangga Batu yang masyhur disebut masyarakat sebagai Tangga Apollo ini, menjadi salah salah satu lokasi atau tempat legendaris di Kota Tanjungpinang.

Tangga Batu yang menghubungkan Jalan Diponegoro, Jalan Masjid, Jalan Gereja, Jalan Teuku Umar, Jalan Sunaryo dan Jalan Kemboja Tanjungpinang ini, akan selalu dikenang oleh masyarakat Tanjungpinang.

Sebab, Tangga Batu ini terletak di kawasan pusat Kota Lama Tanjungpinang yang menghubungkan dataran yang rendah dengan dataran yang lebih tinggi di atas perbukitan.

Pada masa lalu, tangga ini dipercaya menjadi akses utama bagi masyarakat yang ingin menuju ke rumah-rumah panggung, sekolah, pasar, masjid dan gereja hingga pelabuhan.

Terbuat dari batu alam dan campuran semen, tangga ini dibangun kokoh dan tahan lama yang seakan-akan menjadi simbol ketangguhan serta keakraban masyarakat dengan lingkungan.

Bagi masyarakat Tanjungpinang, terutama generasi 80-an dan 90-an, Tangga Batu bukan sekadar jalur penghubung. Tempat ini menjadi titik pertemuan, arena bermain masa kecil, bahkan tempat bersantai dan berbagi cerita.

Pada masa lampau itu, baik pagi, siang dan sore hari, tangga ini juga menjadi titik kumpul masyarakat, terutama generasi muda untuk bersosialisasi dan menikmati suasana bersama teman-teman.

"Waktu kecil sekitar tahun 1989-an, biasanya kami berlomba-lomba menaiki anak tangga sambil tertawa riang atau sekadar duduk bersantai di anak tangga bersama kawan-kawan," ungkap warga Jalan Kemboja Tanjungpinang, Nasrul (47).

Dahulu, para pedagang kaki lima menghiasi dan menjajakan makanan ringan di sekitar Tangga Batu. Namun yang paling terkenang pada masa itu adalah camilan es campur yang terkenal dengan sebutan es apollo. Maka disebutlah Tangga Batu itu dengan sebutan Tangga Apollo.

"Kami dan kakak serta adik, kalau pulang dari madrasah di Jalan Sunaryo, pada sore hari pasti kami singgah main di situ (Tangga Batu). Tidak lupa jajan es apollo," kenangnya.

Selain itu, Tangga Batu berfungsi sebagai jalan penghubung antara pemukiman masyarakat di Jalan Kemboja, Kampung Bukit, Jalan Sunaryo dan Jalan Diponegoro, dengan kawasan Kota Lama yakni Jalan Teuku Umar, pasar Jalan Merdeka, Masjid Agung Al Hikmah dan pelabuhan Sri Bintan Pura.

"Dahulu, kami dari rumah kalau mau main ke tepi laut atau belanja ke pasar atau pun pergi salat ke masjid, ya jalan kaki lewat tangga itu sebagai jalan potong (jalan pintas)," kenangnya lagi.

Menurut Nasrul, bagi siapa pun yang pernah melangkah di Tangga Batu, kenangan masa kecil tidak akan pernah benar-benar pudar. Setiap anak tangga seolah menyimpan kenangan dari masa ke masa.

"Tangga Apollo (Tangga Batu) ini harus dijaga karena banyak kenangan di sini. Semoga pihak berwenang memperhatikan tempat ini. Sekarang seperti nampak tidak terawat," harap pengusaha kecil di Tanjungpinang ini. (*)

Editor : Tunggul Manurung
#tangga batu