Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Penyengat Diproyeksi Jadi Pusat Ekonomi Oranye

Antara • Jumat, 8 Mei 2026 | 19:19 WIB
 Pulau Penyengat di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) berpeluang menjadi kawasan pengembangan ekonomi oranye berbasis budaya Melayu. (ANTARA/Ogen)
Pulau Penyengat di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri) berpeluang menjadi kawasan pengembangan ekonomi oranye berbasis budaya Melayu. (ANTARA/Ogen)

 

batampos – Pulau Penyengat kembali dilirik sebagai salah satu kawasan strategis pengembangan budaya dan pariwisata nasional. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI menilai pulau bersejarah di Kota Tanjungpinang itu berpeluang besar menjadi pusat ekonomi oranye berbasis budaya Melayu.

Direktur Perencanaan Peningkatan Produktivitas dan Pembangunan Tematik Bappenas, Uke Mohammad Hussein, mengatakan Kepri memiliki kekuatan budaya dan ekonomi kreatif yang tidak dimiliki banyak daerah lain.

“Ekonomi oranye di Pulau Penyengat cukup bagus jika dikelola dengan baik. Kepri bisa menjadi contoh,” ujarnya saat berkunjung ke Tanjungpinang, Jumat.

Ekonomi oranye sendiri merupakan konsep pembangunan ekonomi yang bertumpu pada kreativitas, budaya, seni, dan inovasi. Melalui pendekatan itu, kekayaan intelektual dan warisan budaya diubah menjadi sumber ekonomi baru yang mampu menciptakan lapangan kerja dan keuntungan bagi masyarakat.

Menurut Uke, Pulau Penyengat sebenarnya telah memiliki modal kuat untuk berkembang menjadi destinasi budaya unggulan. Mulai dari jejak sejarah Kesultanan Riau-Lingga, wisata religi, arsitektur Melayu, hingga narasi budaya yang masih terawat.

Namun demikian, besarnya potensi sejarah dan budaya tersebut dinilai belum sepenuhnya memberikan dampak maksimal terhadap penguatan ekonomi kawasan wisata.

Meski begitu, ia mengapresiasi berbagai penataan yang dilakukan pemerintah pusat maupun daerah dalam beberapa tahun terakhir.

“Alhamdulillah banyak kemajuan. Tinggal dicari ruang-ruang yang masih bisa dikembangkan supaya dampaknya lebih besar lagi,” katanya.

Ia menilai Pulau Penyengat kini sudah memiliki storytelling wisata yang cukup kuat, termasuk paket-paket wisata budaya yang mulai terbentuk. Tantangan berikutnya adalah memperkuat promosi dan pemasaran agar lebih dikenal luas, termasuk ke wisatawan mancanegara.

“Sudah ada storytelling dan paket wisata, tinggal promosinya diperluas lagi,” ujarnya.

Bappenas juga mendorong penguatan Destination Management Organization (DMO) dalam pengelolaan kawasan wisata berkelanjutan. Skema ini melibatkan pemerintah, sektor swasta, dan komunitas masyarakat agar pengembangan destinasi tidak berjalan sendiri-sendiri.

Selain itu, Bappenas berencana menggandeng Direktorat Pembangunan Indonesia Barat serta Direktorat Pemajuan Kebudayaan untuk mendukung pengembangan kawasan budaya di Pulau Penyengat.

Sementara itu, Kepala Bappelitbang Kota Tanjungpinang, Riono, mengatakan pemerintah daerah terus memperkuat sektor budaya dan ekonomi kreatif sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi daerah.

Menurutnya, Tanjungpinang tidak hanya dikenal melalui budaya Melayu dan wisata religi Islam di Pulau Penyengat. Kota Gurindam juga memiliki beragam destinasi sejarah dan budaya lain yang potensial dikembangkan.

“Kita bukan hanya punya Penyengat dan budaya Melayu identik Islam, tetapi juga punya kelenteng berusia lebih dari 300 tahun dan Patung Seribu,” katanya.

Selain sektor pariwisata, penguatan ekonomi kreatif juga ditopang keberadaan pelaku UMKM lokal. Berdasarkan data Pemkot Tanjungpinang, jumlah usaha mikro pada 2025 mencapai 15.003 unit usaha dan didominasi sektor kuliner.

Riono berharap kunjungan Bappenas dapat membuka jalan bagi pengembangan budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif yang lebih terintegrasi di Tanjungpinang.

“Semoga ini bisa membantu penguatan perekonomian daerah, khususnya melalui sektor budaya dan pariwisata,” ujarnya. (*)

Editor : Putut Ariyotejo
#Bappenas #Ekonomi Oranye #Pariwisata Budaya #tanjungpinang #pulau penyengat