batampos – Perajin tahu dan tempe di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, mulai terdampak kenaikan harga kedelai impor akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut membuat para pelaku usaha mempertimbangkan pengecilan ukuran produk untuk menjaga stabilitas harga jual.
Salah seorang perajin tahu dan tempe di Jalan Yos Sudarso Tanjungpinang, Ganis, mengatakan harga kedelai impor asal Amerika Serikat kini mencapai Rp580 ribu per karung ukuran 50 kilogram. Padahal sebelumnya harga bahan baku tersebut masih berada di kisaran Rp500 ribu per karung.
“Kedelai ini kan berasal dari Amerika yang dikirim ke Medan, jadi harga dari Medan sudah naik,” kata Ganis, Kamis (21/5).
Ia menjelaskan, kenaikan harga dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah karena transaksi pembelian kedelai dilakukan menggunakan dolar Amerika Serikat.
Baca Juga: Polda Kepri Serukan Persatuan dan Literasi Digital pada Harkitnas ke-118
Meski biaya produksi meningkat, hingga saat ini para perajin belum menaikkan harga jual tahu dan tempe. Harga tempe masih dijual sekitar Rp15 ribu per batang, sementara tahu dijual Rp1.200 hingga Rp1.400 per potong.
Namun demikian, para perajin mulai mempertimbangkan dua opsi, yakni mengecilkan ukuran produk atau menaikkan harga jual apabila kondisi terus berlanjut.
Menurut Ganis, rencana tersebut akan dibahas bersama para perajin tahu dan tempe lainnya di Tanjungpinang agar terdapat keseragaman harga dan ukuran di pasaran.
“Agar kita kompak, jadi tidak ada perang harga dan ukuran. Ya semoga rupiah kembali menguat agar kondisi ini tidak terjadi,” ujarnya.
Dalam sehari, kebutuhan produksi tahu dan tempe disebut mencapai sekitar 100 kilogram kedelai untuk memenuhi permintaan pasar di Tanjungpinang.
Sementara itu, seorang pedagang warung di Tanjungpinang, Isyah, mengatakan harga tempe ukuran sedang saat ini masih dijual Rp4 ribu per bungkus, sedangkan tahu ukuran kecil Rp1.000 per potong.
“Harga masih segitu, tapi kalau bahan baku terus naik kemungkinan nanti ukuran bisa berubah atau harga ikut naik,” katanya. (*)
Editor : Putut Ariyo