batampos – Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ansar Ahmad menegaskan Pulau Penyengat di Kota Tanjungpinang memiliki peran strategis dalam sejarah peradaban Melayu sekaligus menjadi salah satu tonggak penting lahirnya Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa.
Menurut Ansar, Pulau Penyengat bukan sekadar destinasi wisata sejarah, tetapi juga kawasan yang menyimpan warisan intelektual dan budaya Melayu yang memberikan pengaruh besar terhadap perjalanan bangsa Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Ansar saat menjadi narasumber dalam program Jurnal Nusantara Kompas TV bertajuk "Pulau Penyengat Perkuat Identitas Budaya Melayu", Sabtu.
"Pulau ini dahulu merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga yang wilayah kekuasaannya mencakup Riau, Lingga, Johor, Pahang hingga Singapura. Dari pulau kecil inilah lahir banyak pemikiran besar yang menjadi fondasi kebudayaan Melayu dan perkembangan bahasa Indonesia," ujarnya.
Berawal dari Kisah Lebah Menyengat
Ansar menjelaskan, nama Pulau Penyengat berasal dari cerita masyarakat pada masa lampau. Pulau tersebut dahulu menjadi tempat singgah para nelayan dan pelaut untuk mengambil air bersih.
Namun, suatu ketika para pelaut diserang kawanan lebah atau serangga yang menyengat. Sejak itulah kawasan tersebut dikenal dengan nama Pulau Penyengat.
Selain itu, dalam tradisi lisan masyarakat Melayu, Pulau Penyengat juga dikenal sebagai Pulau Mas Kawin. Pulau tersebut dipercaya merupakan mas kawin yang diberikan Sultan Mahmud Syah III kepada permaisurinya, Engku Puteri Raja Hamidah.
Baca Juga: Penurunan IHSG Dinilai Bukan Akibat Pidato Prabowo, Ini Alasannya
"Sejak saat itu Pulau Penyengat menjadi pusat penting Kesultanan Riau-Lingga dan hingga hari ini kita masih dapat menyaksikan berbagai peninggalan sejarah yang terus kita lestarikan bersama," katanya.
Memiliki 46 Situs Cagar Budaya
Ansar menyebutkan, hingga kini terdapat sedikitnya 46 situs cagar budaya di Pulau Penyengat yang menjadi saksi perkembangan peradaban Melayu.
Salah satu bangunan paling ikonik adalah Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat yang dibangun menggunakan campuran pasir, kapur, dan putih telur sebagai bahan perekat.
"Bangunan bersejarah ini tetap kokoh berdiri dan menjadi bukti kecerdasan arsitektur masyarakat Melayu pada zamannya," ujarnya.
Raja Ali Haji dan Tonggak Bahasa Indonesia
Pulau Penyengat juga dikenal sebagai Pulau Penyair karena tradisi literasi yang berkembang pesat sejak abad ke-19.
Ansar menjelaskan, aktivitas menulis semakin berkembang setelah berdirinya percetakan di Pulau Penyengat pada 1886. Tidak hanya kalangan bangsawan dan ulama, kaum perempuan juga aktif menghasilkan karya tulis yang kini menjadi bagian dari warisan intelektual bangsa.
Tokoh paling berpengaruh dari Pulau Penyengat adalah Pahlawan Nasional Raja Ali Haji.
Melalui karya monumentalnya seperti Gurindam Dua Belas, Kitab Pengetahuan Bahasa yang dikenal sebagai kamus bahasa Melayu modern pertama, serta Tuhfat al-Nafis, Raja Ali Haji memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi dasar lahirnya Bahasa Indonesia.
"Bahasa Melayu yang berkembang di Kepri inilah yang kemudian dipilih sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia karena sifatnya yang terbuka, mudah dipelajari, dan telah digunakan sebagai bahasa komunikasi antardaerah sejak ratusan tahun lalu," kata Ansar.
Dibangun Monumen Bahasa Nasional
Sebagai upaya memperkuat pelestarian sejarah dan budaya, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau saat ini tengah membangun Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat.
Monumen yang berdiri di atas lahan sekitar dua hektare tersebut diharapkan menjadi pusat edukasi mengenai sejarah perkembangan Bahasa Indonesia sekaligus memperkuat posisi Pulau Penyengat sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya unggulan di tingkat nasional.
Menurut Ansar, pembangunan monumen tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menjaga warisan budaya Melayu agar tetap dikenal dan dipahami oleh generasi mendatang. (*)
Editor : Putut Ariyo