Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Kendala Trasportasi Jadi Alasan Langkanya MinyaKita di Tanjungpinang

Mohamad Ismail • Rabu, 8 Juli 2026 | 16:30 WIB
Ribuan dus Minyakita saat tiba di Tanjungpinang pada 24 Juni lalu, namun kembali langka pada awal Juli. F. Mohamad Ismail/Batam Pos
Ribuan dus Minyakita saat tiba di Tanjungpinang pada 24 Juni lalu, namun kembali langka pada awal Juli. F. Mohamad Ismail/Batam Pos

Batampos - Minyak goreng subsidi merk Minyakita di Kota Tanjungpinang, Kepri kembali mengalami kelangkaan. Distributor menyebut, kondisi tersebut disebabkan terjadinya kendala dalam proses pengiriman.

Asosiasi Distributor Bahan Pokok (Adibapok) Tanjungpinang mengklaim, alokasi Minyakita dari daerah asal, yakni Dumai dapat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Namun kendalanya ada di transportasi. Harusnya Senin kemarin masuk sekitar 4.400 dus, namun pengiriman tertunda satu minggu," kata Ketua Adibapok Tanjungpinang, Sadmi Al Qoyum, Rabu (8/7/2026).

Baca Juga: Komisi II DPR RI Soroti Regulasi dan Tata Kelola Lahan BP Batam

Ia menjelaskan, jika jadwal kapal pengiriman tidak lagi mengalami perubahan, sekitar 8.800 dus atau sekitar 150 ton Minyakita diperkirakan akan tiba di Tanjungpinang, untuk memenuhi kebutuhan konsumen di Tanjungpinang, Bintan, hingga Lingga.

"Estimasi kita Jumat atau Sabtu sudah masuk. Mudah-mudahan tidak ada lagi kendala kapal," tambahnya.

Selain itu, kata dia penyaluran Minyakita kini juga diperketat melalui aplikasi SIMIRAH (Sistem Informasi Minyak Goreng Curah). Sehingga, distributor hanya diperbolehkan memasok pedagang yang memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan telah terdaftar dalam sistem tersebut.

Pihaknya mencatat, setidaknya ada sekitar 116 pengecer di Tanjungpinang dan Bintan yang terdaftar dalam sistem tersebut. Ia menegaskan, harga eceran tertinggi (HET) Minyakita tetap Rp15.700 per liter.

Baca Juga: Operasi Militer Terbaru Amerika Serikat Gempur 80 Target Iran, Ancaman di Selat Hormuz Meningkat

"Kalau masyarakat menemukan harga di atas HET, silakan cek apakah penjualnya sudah terdaftar di SIMIRAH atau belum," pungkasnya.

Sebelumnya, Ipul, pedagang makanan Tanjungpinang mengaku saat ini ia kesulitan untuk memperoleh minyakita, baik di swalayan, hingga warung pinggir jalan. Kondisi itu sudah terjadi sejak sepekan yang lalu.

"Sekarang minyakita di swalayan sudah kosong, tinggal minyak goreng premium saja," ujar Ipul.

Ia mengaku merasa heran dengan harga minyakita yang berbeda dengan harga eceran tertinggi (Het) yang telah ditetapkan pemerintah. Dimana, sebelumnya ia membeli minyakita dengan harga Rp215 per dus, yang berisikan 12 liter.

"Jadi harga per liternya hampir Rp18 ribu, sedangkan Het Rp15 ribu saja," ujarnya. (*)

Editor : Chahaya Simanjuntak
#Minyakita langka #tanjungpinang #MinyaKita