batampos – Sutikno, warga Jalan Sawi, Kelurahan Bukit Cermin, Kota Tanjungpinang, terkejut setelah bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) yang selama ini diterimanya mendadak terhenti. Ia justru tercatat dalam desil 9 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Padahal, Sutikno merupakan penyandang disabilitas dan tinggal bersama kakaknya, Maryani, di rumah peninggalan orangtua. Kondisi ekonomi keluarga tersebut juga tergolong terbatas dan masih membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Selama ini, Sutikno menerima bantuan PKH sebesar Rp200 ribu setiap dua bulan. Namun, bantuan tersebut tidak lagi diterimanya sejak Mei 2026.
Maryani kemudian mengecek status adiknya dan mendapati Sutikno tercatat sebagai desil 9. Perubahan status tersebut membuatnya heran sekaligus kecewa.
“Kaget ternyata sudah desil 9. Itukan desil orang kaya yang memiliki mobil dan rumah mewah. Hidup kayak gini kok bisa jadi level (desil) 9, mau makan saja susah,” kata Maryani saat ditemui di kediamannya, Kamis (20/8/2026).
Maryani memastikan, dirinya bersama Sutikno tidak memiliki rumah maupun kendaraan mewah. Mereka masih menempati rumah peninggalan orangtua.
“Kita tinggal di rumah peninggalan orangtua, listrik dan lampu saja anak perempuan saya yang tanggung,” ujarnya.
Maryani kemudian mempertanyakan penghentian bantuan tersebut kepada pihak Kelurahan Bukit Cermin. Namun, saat itu ia mengaku belum mendapatkan penjelasan pasti mengenai penyebab perubahan status desil adiknya.
Ia menduga perubahan data tersebut terjadi setelah rumah yang ditempatinya didatangi petugas pendataan. Saat proses pendataan, Maryani mengaku telah memberikan informasi sesuai dengan kondisi keluarganya.
“Saya sampaikan jika adik saya tidak bisa baca tulis karena keterbelakangan mental. Namun sensus sudah selesai, kok jadinya desil 9,” katanya.
Maryani berharap pemerintah dapat melakukan verifikasi ulang terhadap kondisi keluarganya. Ia juga meminta agar status Sutikno diperbaiki sehingga kembali masuk dalam kelompok penerima bantuan yang sesuai dengan kondisi sebenarnya.
“Saya berharap adik saya bisa kembali menerima bantuan PKH. Kalau memang datanya salah, tolong diperbaiki,” harapnya.
Sementara itu, staf Kelurahan Bukit Cermin yang enggan disebutkan namanya membenarkan adanya sejumlah warga yang datang mempertanyakan perubahan status desil dan penghentian bantuan PKH.
“Sudah ada beberapa yang datang. Namun tetap kita layani, kita akan input ulang datanya agar dapat kembali ke desil 1,” katanya.
Pihak kelurahan selanjutnya akan melakukan penginputan dan pembaruan data warga yang mengajukan keberatan agar kondisi sosial ekonomi mereka dapat kembali diverifikasi sesuai keadaan di lapangan. (*)
Editor : Jamil Qasim