batampos - Kekayaan sejarah dan budaya Melayu di Pulau Penyengat menarik perhatian Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen (JAM-Intel) Kejaksaan Agung RI, Reda Manthovani. Ia mengunjungi pulau bersejarah tersebut bersama Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Ansar Ahmad, Selasa (25/8).
Kunjungan diawali di Balai Adat Indera Perkasa. Di lokasi tersebut, Ansar memperkenalkan sejarah Kesultanan Riau-Lingga, termasuk sosok Raja Ali Haji yang dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan intelektual dan kebudayaan Melayu.
Ansar juga memperlihatkan maket museum dan Monumen Tugu Bahasa Pulau Penyengat. Ia menjelaskan warisan pemikiran Raja Ali Haji melalui karya monumentalnya, Gurindam Dua Belas, yang menjadi salah satu peninggalan penting dalam perkembangan bahasa dan kebudayaan Melayu.
Rangkaian kunjungan kemudian dilanjutkan dengan ziarah ke kompleks makam Raja Hamidah atau Engku Putri serta makam Pahlawan Nasional Raja Ali Haji.
Kunjungan ditutup di Masjid Raya Sultan Riau Penyengat. Di masjid yang menjadi salah satu ikon Pulau Penyengat tersebut, Ansar menjelaskan sejarah pembangunannya, termasuk keunikan arsitektur dan ornamen yang menghiasi bangunan.
Menurut Ansar, Pulau Penyengat tidak hanya memiliki nilai sejarah yang tinggi, tetapi juga menjadi bagian penting dari kekayaan budaya dan destinasi wisata Kepri.
“Kita memperkenalkan bahwa Kepri memiliki kekayaan sejarah, budaya Melayu, dan warisan Islam yang sangat kuat, sekaligus memiliki potensi pariwisata yang terus dapat dikembangkan,” kata Ansar.
Ia menambahkan, pengenalan sejarah dan budaya Pulau Penyengat menjadi bagian dari upaya memperkuat citra pulau tersebut sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya.
Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga warisan leluhur agar tetap dikenal dan dipahami oleh generasi mendatang.
Sementara itu, Reda Manthovani menyampaikan kekagumannya terhadap berbagai peninggalan sejarah dan budaya Melayu yang masih terjaga di Pulau Penyengat.
“Berbagai peninggalan yang masih terjaga menunjukkan besarnya peran Pulau Penyengat dalam perjalanan sejarah Melayu dan perkembangan peradaban di kawasan tersebut,” ujar Reda. (*)
Editor : Yofi Yuhendri