Batampos - Kehadiran Balai Latihan Kerja (BLK) di Kabupaten Kepulauan Anambas masih menjadi harapan besar bagi anak-anak tempatan.
Fasilitas pelatihan kerja tersebut dinilai sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing tenaga kerja lokal sebelum terjun ke dunia kerja.
BLK merupakan tempat pelatihan yang berfungsi mengasah keterampilan atau skill sesuai bidang tertentu.
Melalui BLK, peserta dapat memperoleh pelatihan teknis sekaligus sertifikat keahlian yang diakui, sehingga peluang diterima bekerja menjadi lebih besar.
Namun hingga kini, BLK belum juga hadir di Anambas. Kondisi ini membuat banyak pemuda setempat merasa tertinggal dibandingkan daerah lain yang sudah memiliki fasilitas pelatihan kerja yang memadai.
Pemuda Anambas, Bagas Apriboy, menyebut kehadiran BLK selama ini masih sebatas mimpi bagi anak daerah. Ia menilai sudah seharusnya pemerintah menghadirkan BLK demi masa depan generasi muda Anambas.
“Sejauh ini hadirnya BLK hanya mimpi bagi kami. Sudah seharusnya BLK dibangun,” ujar Bagas, Rabu (4/2/2026).
Menurut Bagas, tanpa BLK di daerah sendiri, anak-anak Anambas terpaksa pergi keluar daerah untuk mengikuti pelatihan kerja maupun mengambil sertifikat keahlian. Hal ini tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Ia menjelaskan, letak geografis Anambas yang jauh dari pusat pelatihan membuat biaya yang dikeluarkan semakin besar.
Selain biaya pelatihan, peserta juga harus menanggung ongkos transportasi laut atau udara serta biaya hidup selama mengikuti pelatihan.
“Kami ambil sertifikat yang mandiri biasanya. Kalau mandiri kan untuk sekali ikut bisa jutaan rupiah, belum lagi ongkos transportasinya,” jelas Bagas.
Kondisi tersebut dinilai memberatkan, terutama bagi pemuda dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Akibatnya, banyak anak daerah yang akhirnya mengurungkan niat untuk meningkatkan keterampilan karena keterbatasan biaya.
Bagas berharap, jika BLK benar-benar hadir di Anambas, jenis pelatihan yang disediakan harus disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan yang ada. Menurutnya, sektor migas dan pariwisata menjadi bidang yang paling relevan untuk dikembangkan.
“Kalau pelatihannya sesuai kebutuhan perusahaan, peluang kerja anak daerah pasti lebih besar,” katanya.
Ia pun berharap pemerintah dapat segera mewujudkan pembangunan BLK agar pemuda Anambas tidak terus menjadi penonton di daerah sendiri. “Mudah-mudahan ada harapanlah BLK ada di tempat kita ini,” harap Bagas.
Sementara itu, Bupati Kepulauan Anambas, Aneng, menegaskan bahwa kehadiran BLK memang menjadi keinginannya. Bahkan, pembangunan BLK masuk dalam salah satu janji politiknya yang berfokus pada pengembangan sumber daya manusia.
“Sekarang lagi berusaha mencari jalan kita hadirkan BLK. Sudah ke Pemerintah Pusat dan ke SKK Migas,” ujar Aneng melalui sambungan telepon.
Ia mengakui, hingga saat ini belum ada titik terang terkait pembangunan BLK. Meski demikian, pemerintah daerah terus berupaya dengan melobi perusahaan migas agar bersedia menyalurkan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR untuk mendukung pembangunan BLK.
Menurut Aneng, keberadaan BLK sejatinya akan memberikan manfaat timbal balik bagi daerah dan perusahaan. Dengan adanya BLK, Pemkab Anambas dapat menyiapkan tenaga kerja lokal yang siap pakai sesuai kebutuhan industri.
“Sebenarnya ini kan sinergitas antara Pemkab dan perusahaan. BLK hadir kita bisa menyuplai pekerja ke perusahaan itu sendiri. Mereka tak perlu lagi ambil dari luar,” terang Aneng.
Aneng pun mengajak seluruh masyarakat Anambas untuk turut mendoakan dan mendukung agar rencana pembangunan BLK dapat segera terwujud demi masa depan tenaga kerja dan kemajuan daerah. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak