BP Batam Tangani 29 Titik Rawan Banjir, Evaluasi Drainase Terus Berjalan

batampos - Penanganan banjir di Batam mulai menyasar sejumlah titik yang selama ini kerap menjadi langganan genangan. Sebanyak 29 titik telah ditangani Badan Pengusahaan (BP) Batam melalui perbaikan infrastruktur maupun kolaborasi dengan Pemerintah Kota (Pemko) Batam.
Namun, penanganan tersebut tidak berhenti pada pekerjaan fisik. BP Batam masih melakukan evaluasi kondisi di lapangan untuk memastikan saluran yang dibangun maupun diperbaiki mampu berfungsi optimal ketika hujan turun.
Wakil Kepala BP Batam merangkap Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra beberapa kali turun langsung meninjau infrastruktur yang telah ditangani.
Pada Selasa (25/8), misalnya, Li Claudia meninjau sejumlah infrastruktur, mulai dari drainase Jalan S. Parman, Tanjungpiayu, Kecamatan Sungai Beduk; drainase di depan RS Graha Hermine, Batuaji; Drainase Spillway Muka Kuning; hingga ruas Simpang Pollux-Simpang Telkom yang direncanakan mendapat Penerangan Jalan Umum (PJU).
Di tiga titik drainase, Li Claudia melihat langsung kondisi saluran sekaligus progres penanganannya. Ia ingin memastikan pekerjaan tidak sekadar selesai secara fisik, tetapi sesuai dengan persoalan dan kebutuhan di masing-masing kawasan.
“Kami ingin melihat langsung kondisi di lapangan. Infrastruktur seperti drainase maupun penerangan jalan memiliki manfaat yang langsung dirasakan masyarakat. Sehingga perlu kita perhatikan dan evaluasi sesuai kondisi serta kebutuhan masing-masing lokasi,” kata Li Claudia.
Pengecekan berlanjut pada Kamis (27/8). Bersama Anggota/Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam Mouris Limanto dan jajaran, Li Claudia meninjau Drainase Jalan Tengku Sulung di depan Perumahan Odessa dan Drainase Jalan Hang Tuah, Taman Raya Tahap 4, di depan SMP Negeri 28 Batam, Kelurahan Belian.
Baca Juga: Dirut BPJS Kesehatan Kunjungi RSBP Batam, Dorong Pergeseran dari Volume-Based ke Value-Based
Di dua lokasi tersebut, tim menemukan persoalan yang berkaitan dengan kelancaran aliran air. Penumpukan material menjadi salah satu hal yang diperhatikan karena berpotensi menghambat saluran dan memicu genangan.
Selain drainase, akses jalan inspeksi di sekitar saluran juga menjadi perhatian. Infrastruktur pendukung tersebut diperlukan agar pemeliharaan dan pemeriksaan saluran dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Li Claudia mengatakan pembenahan drainase harus berangkat dari kebutuhan masyarakat. Infrastruktur yang telah dibangun juga membutuhkan pemeliharaan agar fungsinya tidak kembali terganggu.



