Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Natal 2025 di Tengah Bencana Ekologis Sumatera, Dekorasi Sederhana dan Refleksi Penyerahan Diri yang Dalam untuk Kembali Menjaga Alam

Chahaya Simanjuntak • Rabu, 24 Desember 2025 | 13:23 WIB

 

Ephorus HKBP dan Ketua PGI Sumut, Victor Tinambunan.
Ephorus HKBP dan Ketua PGI Sumut, Victor Tinambunan.

Batampos – Perayaan Natal 2025 terlihat berbeda. Jika sebelumnya identik dengan dekorasi mewah dan konsumsi berlebihan, kini semakin banyak keluarga dan gereja memilih merayakan Natal secara sederhana, ramah lingkungan dengan konsep sederhana penuh makna.

Tahun ini, perayaan berlangsung di tengah pemulihan bencana ekologis yang terjadi di Sumatera, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

"Dari Sibolga, kami menyampaikan salam kasih dan selamat menyongsong Malam Natal kepada para sahabat terkasih. Perayaan Natal tahun ini kita fokuskan atas keprihatinan atas saudara kita di Sumatera. Mari merayakan Natal dengan sederhana tapi penuh sukacita," ujar Ephorus HKBP, Victor Tinambunan lewat pesan Natalnya melalui akun media sosial Facebook, Rabu (24/12/2025) siang.

"Sebagai warga gereja kita dipanggil untuk terus menjaga alam, mengasihi sesama, dan sebagai penguat persatuan bagi bangsa," tambahnya.

Dalam ibadah malam natal, dia akan membaur dan merayakannya bersama para korban bencana di Distrik Humbang. " Kita merayakan Natal bersama saudara-saudara kita yang sedang memikul penderitaan  sebagai korban bencana ekologis," ungkap Tinambunan yang juga Ketua PGI Sumatera Utara ini.

Senada dengan pernyataannya, semakin banyak umat Kristen kini menjalankan tren Natal berkelanjutan atau eco-friendly Christmas. Hal ini terlihat dari penggunaan dekorasi minimalis, pohon Natal daur ulang, hingga pengurangan sampah makanan dan plastik sekali pakai.

Kesadaran ini sejalan dengan meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim yang semakin rentan mengakibatkan bencana.

Di sejumlah gereja, dekorasi Natal dibuat dari bahan alami seperti ranting, daun kering, kayu bekas, serta kain yang dapat digunakan kembali. Lampu hias juga mulai diganti dengan lampu LED hemat energi.

"Makna Natal bukan pada kemewahan, tetapi pada kesederhanaan dan kepedulian terhadap sesama, termasuk terhadap alam ciptaan Tuhan. Kepedulian lingkungan itu juga bagian dari kasih. Yesus lahir ke dunia dengan kesederhanaan di dalam palungan di Betlehem, kita juga harus seperti itu di masa kini, hidup sederhana dan juga mengasihi sesama dan alam," ujar Nurhalima Simanjuntak, seorang warga yang peduli lingkungan.

"Bencana Sumatera ini menjadi refleksi penyerahan diri yang paling dalam bagi pribadi masing-masing saat ini. Jangan lagi mendukakan hati Tuhan dengan merusak alam. Dampaknya bukan ke kita, lihatlah berapa ribu saudara kita yang kehilangan nyawa, kehilangan anggota keluarganya. Natal ini menjadi perenungan bagiku sebagai warga Toba di perantauan," tambah wanita yang bekerja sebagai Auditor independen dan juga Akunting di Perusahaan Ekspor Impor Perikanan Beku ini.

Ada pun tema Natal jemaat HKBP di seluruh dunia di 2025 ini yakni Allah hadir untuk menyelamatkan keluarga. Diambil dari nats Alkitab Matius 1:21-24.

Ephorus menjelaskan, tema ini menegaskan dalam Yesus Kristus, Imanuel hadir memulihkan kehidupan manusia, dimulai dari keluarga. Kiranya kehadiran-Nya meneguhkan iman, menghidupkan pengharapan, dan memperdalam kasih kita di tengah dinamika zaman.

"Perayaan Natal tahun ini juga disertai keprihatinan atas bencana ekologis di Sumatera. Tema Natal mengajak kita merawat keselamatan keluarga sekaligus keselamatan "Rumah Bersama" yakni alam ciptaan Tuhan. Damai Natal diwujudkan melalui solidaritas nyata bagi para korban serta komitmen menjaga kelestarian lingkungan demi masa depan bersama," tegasnya.

Dia pun mengajak seluruh umat yang merayakan, supaya tetap penuh kewaspadaan, serta menjaga keamanan dan ketertiban. "Sebagai warga gereja dan warga bangsa, kita dipanggil menjadi pembawa damai dan penguat persatuan," ujarnya.

Selain itu, kepada umat yang berbeda keyakinan, Victor Tinambunan menyampaikan menyampaikan permohonan maaf apabila perayaan Natal berdampak pada kenyamanan publik. Karena Natal juga menjadi saat untuk mendoakan Indonesia agar senantiasa dianugerahi damai, keadilan, toleransi, dan persaudaraan sejati.

"Kiranya Natal 2025 membawa berkat bagi gereja, masyarakat, dan seluruh bangsa Indonesia. Tuhan memberkati kita semua," tutup pimpinan tertinggi HKBP yang juga tokoh yang fokus menyuarakan supaya hutan dan lingkungan di Indonesia khususnya di Toba tidak semakin dirusak oleh oknum-oknum yang fokus pada raihan keuntungan tanpa mempertimbangkan keselamatan dan mata pencaharian warga sekitar dan dampak panjang kerusakan lingkungan. (*)

 

Editor : Chahaya Simanjuntak
#Ephorus HKBP #Natal 2025 #Bencana Ekologis Sumatera #Victor Tinambunan