Batampos – Korps militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara dengan menjatuhkan bom penghancur bunker seberat 5.000 pon ke sejumlah situs rudal anti-kapal milik Iran di pesisir dekat Selat Hormuz, Selasa (17/3/2026) waktu setempat.
Serangan tersebut menargetkan fasilitas pertahanan yang telah diperkuat, yang digunakan Iran untuk menyimpan dan meluncurkan rudal jelajah anti-kapal.
Komando Pusat Amerika Serikat, Centcom menyatakan, keberadaan rudal tersebut berpotensi mengancam jalur pelayaran internasional. " Rudal jelajah anti-kapal Iran di lokasi tersebut menimbulkan risiko bagi pelayaran global di selat itu," tulis Centcom dalam pernyataannya seperti dilansir dari The Hill, Rabu (18/3/2026) malam ini.
Baca Juga: Sabram Anyam Ketupat, Warisan Indonesia Turun-Temurun yang Masih Dijalankan Saat Idulfitri
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran paling strategis di dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati wilayah tersebut.
Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sejak operasi militer bersama yang dimulai pada 28 Februari 2026 lalu.
Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, sebelumnya menyatakan negaranya dapat menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan tersebut.
Jika hal itu terjadi, dampaknya diperkirakan akan signifikan terhadap distribusi energi global.
Hingga kini, ketegangan di kawasan tersebut masih berlangsung dan terus menjadi perhatian dunia internasional. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak