Rupiah Diproyeksi Tembus Rp18.070 per Dolar AS, Ini Faktor Pemicunya

batampos – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Kamis (22/10/2026). Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi sentimen kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), serta risiko fiskal dan perkembangan pasar keuangan domestik.
Pada perdagangan Rabu (21/10/2026), rupiah ditutup melemah 30 poin menjadi Rp18.022 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan hari ini.
“Untuk perdagangan (22/10), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp18.020–Rp18.070,” ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Kamis (22/10).
Sentimen The Fed Tekan Rupiah
Dari eksternal, salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah adalah meningkatnya perhatian pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.
Laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan Indeks Harga Produsen (IHP) AS periode September disebut memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi di negara tersebut belum sepenuhnya mereda.
Kondisi tersebut berpotensi membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dapat mendukung penguatan dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Investor juga mencermati data klaim pengangguran awal (Initial Jobless Claims) AS yang diperkirakan meningkat dari 199.000 menjadi 200.000.
Perkembangan data ekonomi AS menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan moneter The Fed serta arah pergerakan dolar AS.



