batampos – Dugaan praktik pungutan liar (pungli) terhadap wisatawan oleh oknum Imigrasi Batam di Pelabuhan Ferry Batam Center memicu reaksi keras dari pelaku industri pariwisata di Kepulauan Riau. Isu ini dinilai berpotensi merusak kepercayaan wisatawan sekaligus mencoreng citra Batam sebagai gerbang wisata internasional.
Ketua ASPABRI, Johanes Purba, menyatakan keprihatinannya atas kabar tersebut. Ia menilai, jika terbukti benar, kasus ini dapat menjadi pukulan serius bagi upaya pemulihan sektor pariwisata.
“Wisatawan sangat sensitif terhadap kenyamanan dan keamanan. Isu seperti ini bisa berdampak besar terhadap kepercayaan mereka,” ujarnya.
Johanes mendesak agar otoritas terkait segera memberikan klarifikasi sekaligus mengambil langkah tegas agar persoalan tidak berlarut.
“Kami berharap segera ada penanganan serius. ASPABRI siap mendukung perbaikan agar Batam tetap menjadi destinasi yang aman dan ramah,” katanya.
Hal senada disampaikan Sekretaris BPD PHRI Kepri, Tedi Hermansyah. Ia menilai dugaan pungli tersebut bertolak belakang dengan upaya pemulihan ekonomi melalui sektor pariwisata.
“Ini sangat kontraproduktif. Keamanan dan kenyamanan wisatawan harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Tedi mendorong dilakukannya investigasi menyeluruh untuk mengungkap oknum yang terlibat, termasuk melalui penelusuran rekaman CCTV dan laporan korban.
“Kami juga meminta transparansi biaya resmi di pelabuhan agar tidak ada celah pungli,” ujarnya.
Ia menegaskan, sanksi tegas harus dijatuhkan kepada pelaku jika terbukti bersalah.
“Sanksi penting untuk memberikan efek jera,” katanya.
Sementara itu, Ketua DPD ASITA Kepri, Eva Betty, menilai isu ini berpotensi menurunkan minat kunjungan wisatawan ke Batam.
“Kalau benar terjadi, ini bisa membuat wisatawan merasa tidak aman dan enggan datang,” ujarnya.
Ia meminta pemerintah dan instansi terkait segera menuntaskan persoalan tersebut serta menyampaikan pernyataan resmi kepada publik.
“Kepercayaan wisatawan harus segera dipulihkan,” tutupnya. (*)
Editor : M Tahang