Waspada! Vape Etomidate Marak Beredar di Perumahan Warga dan Kos-Kosan, Dijual hingga Rp2 Juta per Cartridge

Batampos - Peredaran vape mengandung etomidate di Kepulauan Riau menjadi perhatian serius Polda Kepri. Selain menyasar Batam, peredarannya diduga telah menjangkau sejumlah daerah lain. Modus penjualannya pun menyasar lingkungan permukiman hingga rumah kos, sehingga dinilai berpotensi mengancam kalangan muda.
Direktur Reserse Narkoba Polda Kepri, Kombes Suyono, mengatakan vape mengandung etomidate umumnya diedarkan secara tertutup. Barang tersebut dijual dengan harga yang jauh lebih mahal dibandingkan rokok elektrik biasa.
“Biasanya peredarannya di daerah-daerah permukiman, termasuk di kos-kosan. Sasarannya bukan hanya Batam, tetapi juga daerah lain,” ujarnya.
Baca Juga: SPPG Batam: Sekolah Elit Sejak Awal Tak Masuk Penerima MBG, Data Siswa Baru Kini Dimutakhirkan
Ia mengungkapkan, berdasarkan hasil penyelidikan terhadap sejumlah tersangka, satu cartridge vape etomidate berisi sekitar 20 mililiter dijual dengan harga antara Rp1,5 juta hingga Rp2 juta.
Menurut Suyono, perbedaan harga menjadi salah satu ciri yang dapat dikenali masyarakat. Sebab, harga vape yang mengandung etomidate jauh lebih mahal dibandingkan cairan vape biasa.
“Kalau harganya sudah sampai jutaan rupiah, tentu patut dicurigai. Itu berbeda dengan liquid vape biasa yang harganya jauh lebih murah,” katanya.
Suyono menjelaskan, etomidate merupakan obat anestesi yang seharusnya digunakan dalam dunia medis dengan pengawasan tenaga kesehatan. Penggunaan di luar indikasi medis atau dicampurkan ke dalam vape merupakan tindakan ilegal dan berbahaya.
Ia mengatakan, pengguna vape etomidate umumnya akan mengalami efek seperti penggunaan narkotika, di antaranya sensasi melayang (fly), penurunan kesadaran, pusing, mengantuk, gangguan koordinasi tubuh, hingga berisiko kehilangan kesadaran apabila digunakan dalam dosis tinggi.
“Efeknya bisa membuat pengguna fly, kesadarannya menurun, bahkan membahayakan keselamatan diri sendiri maupun orang lain,” ujarnya.
Selain menimbulkan efek sesaat, penggunaan berulang juga berpotensi menyebabkan ketergantungan psikologis serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada sistem saraf dan pernapasan.



