
Konsumsi Buah dan Sayur Disebut Tembus 90 Persen, BGN Akui Masih Ada 16 Persen Sekolah Belum Terlayani
batampos – Badan Gizi Nasional (BGN) mengklaim program Makan Bergizi Gratis (MBG) meningkatkan konsumsi protein hewani pada anak sekolah dari 26 persen menjadi 84 persen. Sementara itu, konsumsi buah dan sayur disebut meningkat dari sekitar 65 persen menjadi 90 persen setelah program tersebut berjalan.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, peningkatan konsumsi makanan bergizi tersebut perlu diimbangi dengan edukasi gizi agar anak-anak memahami pentingnya pola makan sehat dan seimbang.
Menurutnya, keberhasilan pemenuhan gizi anak tidak cukup hanya mengandalkan makanan yang disediakan melalui program MBG. Pemahaman mengenai kebutuhan nutrisi juga perlu ditanamkan sejak dini, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga.
"Tingkat konsumsi buah dan sayur, sebelum ada MBG sekitar 65 persen dan setelah ada MBG naik menjadi 90 persen. Jadi, sudah agak tinggi, kemudian dengan MBG lebih tinggi lagi," kata Sudaryono melalui pernyataan yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Senin (19/10).
Ia menilai, guru memiliki peran penting dalam membangun kesadaran anak mengenai pentingnya mengonsumsi makanan bergizi. Karena itu, pemerintah daerah beserta jajarannya diharapkan turut mendorong pendidikan gizi di sekolah.
Menurut Sudaryono, pemahaman gizi yang baik juga dapat membantu orang tua memenuhi kebutuhan nutrisi anak ketika berada di rumah.
Dengan demikian, asupan protein, sayuran, serat, dan karbohidrat anak dapat dipenuhi secara lebih optimal melalui kombinasi makanan di sekolah dan di rumah.
"Generasi kita mendatang dengan tambahan MBG, ditambah kesadaran yang baik terhadap pemahaman gizi, maka orang tua bisa melengkapi kebutuhan gizinya," ujarnya.
Masih Ada 16 Persen Belum Terlayani
Meski mengklaim adanya peningkatan konsumsi makanan bergizi, Sudaryono mengakui pelaksanaan program MBG belum menjangkau seluruh anak sekolah.
Ia menyebut masih ada 16 persen anak sekolah yang belum mendapatkan layanan MBG karena dapur penyedia makanan belum beroperasi di wilayah mereka.
"Kenapa 84 persen, kenapa enggak 100 persen? Karena masih ada 16 persen anak-anak kita yang sekolahnya berada di wilayah yang dapur-dapur MBG-nya belum beroperasi," jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi BGN untuk memperluas jangkauan program, terutama di daerah yang belum memiliki fasilitas penyedia makanan bergizi.
Sudaryono menegaskan, percepatan operasional dapur MBG menjadi salah satu tanggung jawab BGN agar seluruh anak sekolah yang menjadi sasaran program dapat memperoleh layanan.
Ia berharap pemerataan program dapat segera diwujudkan sehingga tidak ada anak yang tertinggal dalam memperoleh manfaat pemenuhan gizi di sekolah.
"Ini menjadi tanggung jawab saya beserta jajaran BGN. Bagaimana caranya sesegera mungkin anak-anak yang membutuhkan bisa mendapatkan haknya, yaitu makan bergizi gratis di sekolah masing-masing," tegasnya.
Edukasi Gizi Tetap Penting
Peningkatan konsumsi makanan bergizi yang diklaim BGN menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan program MBG. Namun, upaya meningkatkan kualitas gizi anak juga membutuhkan dukungan berbagai pihak.
Sekolah, keluarga, pemerintah daerah, dan penyedia makanan perlu memastikan anak memperoleh asupan yang beragam dan sesuai kebutuhan.
Edukasi gizi juga diperlukan agar anak tidak sekadar mengonsumsi makanan yang disediakan, tetapi memahami manfaat protein hewani, sayuran, buah-buahan, serat, dan zat gizi lainnya bagi pertumbuhan.
Dengan kombinasi pemenuhan makanan bergizi dan edukasi yang berkelanjutan, program MBG diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas kesehatan serta tumbuh kembang anak Indonesia. (*)



