Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Keamanan Data Indonesia Dinilai Rapuh di Tengah Ancaman AI

J
Penulis: JawaPos❯
Ilustrasi keamanan data (Dok. iStockphoto)
Ilustrasi keamanan data (Dok. iStockphoto)

Advertisement

batampos - Ancaman keamanan siber di Indonesia dinilai semakin canggih seiring berkembangnya teknologi kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Di sisi lain, sistem perlindungan data nasional masih menghadapi berbagai kelemahan.

Risiko tersebut mencakup kebocoran informasi pribadi, penyalahgunaan data, hingga serangan siber yang memanfaatkan teknologi AI untuk mengotomatisasi serangkaian serangan.

Ketua Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) Ardi Sutedja mengatakan, Oktober lalu menjadi salah satu periode dengan peningkatan eskalasi ancaman dan insiden keamanan siber. Sejumlah institusi mengalami serangan serta kebocoran data dalam skala besar.

Advertisement

“Lebih dari itu, rentetan peristiwa ini merupakan indikator kunci dan proyeksi nyata dari lanskap ancaman yang akan terus berlanjut dan memburuk hingga tahun 2027 dan seterusnya,” kata Ardi kepada JawaPos.com.

Menurut dia, Indonesia kini menghadapi perubahan pola ancaman. Teknologi seperti AI otonom atau agentic AI serta kriptografi pascakuantum (Post-Quantum Cryptography/PQC) mulai menjadi bagian dari lanskap ancaman siber.

Ardi menjelaskan, perkembangan AI memungkinkan serangan siber dilakukan secara lebih cepat dan otomatis. Jika sebelumnya pelaku membutuhkan banyak intervensi manusia, agen AI dapat membantu mengotomatisasi rangkaian serangan mulai dari pengintaian hingga eksploitasi.

Advertisement

Indonesia juga menghadapi ancaman dengan pola "harvest now, decrypt later". Dalam skema ini, data rahasia yang saat ini masih dilindungi enkripsi konvensional dicuri dan disimpan untuk kemudian dibuka ketika teknologi komputer kuantum semakin matang.

“Tujuannya sederhana namun mematikan, menunggu hingga komputer kuantum mencapai kematangan operasional untuk membongkar seluruh data tersebut. Ini bukan lagi sekadar pencurian informasi, melainkan ancaman eksistensial terhadap kedaulatan data nasional kita,” ujarnya.

Tata Kelola Keamanan Siber Dinilai Masih Reaktif

Ardi menilai rentetan kasus kebocoran data pribadi menunjukkan masih adanya persoalan sistemik dalam tata kelola keamanan siber di Indonesia.

Advertisement
Editor : Cipi Ckandina

Artikel Terkait

Riset: 3,2 Persen Orang Dewasa Pernah Salahgunakan AI untuk Konten Seksual

Riset: 3,2 Persen Orang Dewasa Pernah Salahgunakan AI untuk Konten Seksual

Riset RMIT University menemukan 3,2 persen orang dewasa di Australia, Inggris, dan AS pernah menyalahgunakan AI untuk membuat atau menyebark

AI Harus Memperkuat Manusia, Bukan Menggantikan Perannya

AI Harus Memperkuat Manusia, Bukan Menggantikan Perannya

PM China Li Qiang menegaskan AI harus memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan peran atau mengendalikan kehidupan manusia.

Higgs Technology Dukung Pengembangan AI untuk Guru di Jatim

Higgs Technology Dukung Pengembangan AI untuk Guru di Jatim

Higgs Technology berkolaborasi dengan Dispendik Jatim mengembangkan kompetensi digital guru melalui pelatihan AI, kompetisi komik digital, d

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer