Salah satu nelayan, Ridho menuturkan terhentinya pasokan solar ini menyulitkan mereka untuk mencari nafkah.
"Susah dapat solar, penyebabnya kita kurang tahu. Kita mau melautpun terganggu," kata Ridho, Jum'at, (25/10).
Pantauan batampos stok solar di penyalur SPBU Kompak Putra Bersaudara (Enggan), Desa Tarempa Barat terlihat menipis.
Menurut keterangan dari penjaga SPBU, dengan menipisnya stok solar membuat pihaknya membatasi setiap pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) itu.
"Sudah satu minggu kondisi seperti ini. Kita batasi, orang lain tak boleh (beli). Khusus nelayan," kata penjaga SPBU.
Dikatakannya, setiap sekali pengiriman solar pihaknya mendapat jatah sebanyak 20 ton.
Kepala Bagian Ekonomi dan Sumber Daya Alam Anambas, Yohanes Sawu membantah jika pasokan solar menipis. Saat ini stok solar yang tersedia sekitar 7 ribu ton yang akan disebar di 5 penyalur.
Dikatakannya, stok kuota solar dari Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) untuk Anambas akan mencukupi hingga beberapa bulan kedepan.
"Kita sudah kroscek, kondisi ini terjadi karena rekomendasi penggunaan solar untuk nelayan terlambat keluar di Dinas Perikanan Pertanian dan Pangan (DP3)," ujar Yohanes saat dikonfirmasi.
Memang, lanjut dia, sejak bulan Juni lalu, BPH Migas telah mengatur pembatasan untuk nelayan dengan tujuan mencegah penyelewengan solar subsidi.
"Nah rekomendasi itu kan masa berlakunya per tiga bulan. Jadi setiap tiga bulan harus diperpanjang. Ini jadi penyebabnya stok solar menipis karena menunggu pengiriman dari BPH Migas," terang Yohanes.
Senada dengan Yohanes, Kepala Dinas Perikanan Pertanian Pangan (DP3) Anambas, Rovaniyadi mengakui pihaknya kesulitan untuk menggesa rekomendasi penggunaan solar subsidi nelayan supaya segera keluar.
"Ada tahapannya, kita verifikasi terus input sendiri ke BPH Migas. Baru kita berikan ke nelayan. Memakan waktu 10 hari," tutur Rovaniyadi.
Setiap nelayan, lanjut dia, mendapatkan jumlah kuota solar yang berbeda. Tergantung dengan spefikasi kapal, mesin serta jam operasional.
"Jumlah kapal nelayan kita 2.600 unit. Yang baru mengajukan dan pembaharuan rekomendasi ya sekitar 1.200 lah," kata Rovaniyadi.
Rovaniyadi mendorong nelayan yang belum mengajukan permohonan kuota subsidi agar segera mendaftar. Karena, hal ini sangat penting agar Pemkab Anambas mengetahui kebutuhan pasti solar subsidi.
"Data semua belum masuk karena masih ada permohonan baru. Jadi, kita belum tahu berapa kebutuhan real solarnya. Kalau sudah terdata, baru tahu berapa jumlah solar yang dibutuhkan agar tidak seperti ini lagi," pungkas Rovaniyadi. (*)
Editor : Tunggul Manurung