Program ini dihadirkan untuk memastikan masyarakat di wilayah sulit akses dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.
Kepala Bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Anambas, Muswandar, mengatakan PKB kali ini difokuskan pada tiga desa yang masuk kategori sangat terpencil. Ketiga desa tersebut berada di wilayah kerja Puskesmas yang memiliki akses terbatas.
“Wilayah yang masuk terpencil itu Desa Kiabu di Kecamatan Siantan Selatan, Desa Munjan di Kecamatan Siantan Timur, dan Desa Bayat di Kecamatan Siantan Utara,” ujar Muswandar, Jumat (12/12).
Dijelaskan Muswandar, program ini menghadirkan 14 jenis layanan kesehatan.
Di antaranya pemeriksaan gula darah, golongan darah, asam urat, kolesterol, pelayanan dokter umum, hingga layanan dokter spesialis.
Adapun dokter spesialis yang diturunkan meliputi dokter spesialis bedah, spesialis anastesi, spesialis kandungan, serta spesialis penyakit dalam.
Tak hanya itu, masyarakat juga bisa melakukan skrining Tuberkulosis (TB) secara langsung.
Menurut Muswandar, keberadaan dokter spesialis merupakan hal yang jarang ditemui di Puskesmas yang ada di wilayah terpencil tersebut.
Jika biasanya masyarakat harus ke RSUD untuk mendapatkan pelayanan lanjutan, kini mereka bisa langsung diperiksa tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
“Masyarakat sangat terbantu adanya kegiatan ini, karena untuk berobat ke RSUD butuh biaya dan waktu tempuh yang tidak sedikit,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Anambas, Yessy Ariessandy, menegaskan bahwa PKB merupakan upaya pemerintah daerah dalam pemerataan layanan kesehatan.
Program ini diharapkan mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di seluruh kecamatan.
Menurut Yessy, salah satu tantangan terbesar dalam pemerataan layanan kesehatan di Anambas adalah aksesibilitas. Banyak wilayah yang sulit dijangkau karena kondisi geografis yang terdiri dari pulau-pulau kecil.
“Permasalahan utama yang dihadapi dalam pemerataan layanan adalah akses yang terbatas, khususnya bagi daerah terpencil dan sangat terpencil,” kata Yessy.
Ia menambahkan, tidak adanya transportasi rutin menuju desa-desa tertentu membuat masyarakat terkendala untuk datang berobat. Situasi ini diperparah dengan biaya transportasi carter yang cukup mahal.
Karena itu, pihaknya berinisiatif menjalankan program PKB agar pelayanan kesehatan bisa mendatangi langsung masyarakat. Langkah ini dinilai lebih efektif dibanding menunggu warga datang ke fasilitas kesehatan.
“Kita berikhtiar menjalankan program ini agar masyarakat terpencil tetap mendapatkan hak mereka atas layanan kesehatan,” ujar Yessy.
Dengan hadirnya pelayanan langsung ke desa, warga tidak hanya bisa memeriksakan kondisi kesehatan mereka, tetapi juga menerima edukasi mengenai pentingnya pencegahan penyakit.
Program PKB juga diharapkan mampu mendeteksi dini penyakit yang mungkin tidak terpantau selama ini akibat minimnya fasilitas kesehatan di wilayah terpencil.
Melalui upaya ini, pemerintah daerah menargetkan meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat serta menurunnya angka penyakit yang tidak tertangani dengan baik. (*)
Editor : Tunggul Manurung