Batampos - Mayoritas masyarakat Kabupaten Kepulauan Anambas mengaku trauma menggunakan maskapai Wings Air untuk rute Batam–Letung maupun sebaliknya. Kondisi ini dipicu seringnya pembatalan penerbangan secara mendadak.
Pembatalan itu kerap terjadi dengan alasan jumlah penumpang yang minim. Namun, keputusan sepihak tersebut dinilai merugikan masyarakat, terutama saat momentum penting seperti mudik Lebaran.
Sejumlah warga mengaku kecewa karena sudah merencanakan perjalanan jauh hari, namun harus menerima kenyataan penerbangan dibatalkan. Situasi ini bahkan disebut terjadi berulang kali.
Sugeng Riyadi, warga Anambas yang hendak mudik ke Bogor, mengaku dirugikan akibat pembatalan mendadak tersebut. Ia menyebut masyarakat menjadi korban dari kebijakan maskapai.
“Bahkan di musim mudik lebaran ini membatalkan penerbangan. Kami sudah jauh-jauh hari mempersiapkan mudik, tidak tahunya malah batal berangkat,” ujar Sugeng, Rabu (18/3/2026).
Menurut Sugeng, maskapai seharusnya bisa mengantisipasi kondisi sepi penumpang sejak awal. Salah satunya dengan tidak membuka penjualan tiket secara terus-menerus jika belum pasti beroperasi.
Ia juga menilai frekuensi penerbangan Wings Air yang mencapai empat kali dalam seminggu perlu dievaluasi. Jadwal tersebut dinilai tidak sebanding dengan jumlah penumpang yang ada.
“Nah, kalau empat kali seminggu itu penumpang sepi, ya dikurangi saja penerbangan. Mungkin dua kali seminggu. Jadi masyarakat tidak dikorbankan seperti ini,” tegasnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Bambang, warga Jemaja. Ia mengaku trauma menggunakan Wings Air karena sering mengalami pembatalan penerbangan secara tiba-tiba.
Menurut Bambang, dampak pembatalan tidak hanya soal tertundanya perjalanan, juga kerugian finansial yang cukup besar bagi penumpang.
“Harga tiket bukannya murah, hampir Rp2 juta. Kalau tiba-tiba cancel, rugi uang, rugi waktu, semuanya rugi. Belum lagi kalau kita sudah beli tiket lanjutan ke daerah lain,” ungkapnya.
Ia menambahkan, selama musim mudik tahun ini, Wings Air tercatat sudah dua kali membatalkan penerbangan, yakni pada 16 Maret dan rencana 20 Maret, dengan alasan sepi penumpang.
Kondisi ini membuat kepercayaan masyarakat terhadap maskapai tersebut semakin menurun. Warga berharap ada perbaikan layanan agar kejadian serupa tidak terus berulang. “Mudah-mudahan ada evaluasi pelayanan terhadap Wings Air,” harap Bambang.
Sementara itu, Kepala Bandara Letung, Denny Armanto, membenarkan bahwa jumlah penumpang Wings Air kerap minim sehingga memicu pembatalan penerbangan.
“Setiap hari kami monitor dengan maskapai, sudah berapa jumlah penumpang. Karena banyak masyarakat yang bertanya ke kami, apakah pesawat berangkat atau tidak,” jelas Denny.
Di sisi lain, kondisi berbeda justru terjadi pada maskapai perintis Susi Air. Rute Tanjungpinang–Letung yang dilayani maskapai tersebut hampir selalu penuh penumpang.
Bahkan, selama musim mudik Lebaran, Susi Air menambah frekuensi penerbangan menjadi dua kali untuk mengakomodasi lonjakan penumpang. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak