Batampos - Sabran ampak tekun membersihkan daun kelapa muda di beranda rumah kayunya di Desa Tarempa Barat, saat ditemui Rabu (18/3/2026) . Dengan gerakan perlahan namun pasti, ia menyiapkannya sebagai bahan untuk menganyam ketupat, tradisi yang masih ia pertahankan hingga kini.
Meski usianya tak lagi muda, pria 82 tahun ini tetap terampil memilih daun kelapa yang lentur dan layak dianyam. Menurutnya, pemilihan daun menjadi tahap penting dalam proses pembuatan ketupat.
“Kalau daun terlalu tua, susah dibentuk dan mudah patah,” ujarnya pagi tadi.
Bagi Sabran, membuat ketupat bukan sekadar rutinitas menjelang Idulfitri melainkan warisan turun-temurun yang memiliki nilai budaya dan makna mendalam.
Baca Juga: Wings Air Sering Batalkan Penerbangan Secara Mendadak, Warga Anambas Dirugikan
“Dari dulu begini, tidak pernah berubah. Ini sudah jadi bagian hidup kami,” katanya.
Namun, di tengah perkembangan zaman, tradisi menganyam ketupat mulai ditinggalkan. Banyak masyarakat kini memilih membeli ketupat siap saji karena dinilai lebih praktis.
Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat Sabran. Ia tetap bertahan menjaga tradisi yang telah diwariskan oleh orang tuanya. “Kalau beli memang cepat, tapi tidak ada cerita di dalamnya,” ungkapnya.
Sabran berharap generasi muda dapat belajar dan melanjutkan tradisi tersebut agar tidak hilang ditelan zaman. " Selama saya masih bisa, saya akan terus buat ketupat. Biar anak cucu tahu, ini bukan sekadar makanan, tapi bagian dari jati diri kita menyambut perayaan spesial Idulfitri,” tutupnya. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak