Batampos - Langkah kaki para pelajar asing itu terdengar ringan saat menapaki pasir Pulau Nongkat, di Kecamatan Palmatak, Anambas. Jauh dari kampung halaman mereka di Denmark, perjalanan sekitar 10 ribu kilometer justru terasa sepadan dengan pengalaman yang kini mereka jalani. Mempelajari budaya melayu dan menikmati kuliner yang disuguhkan Anambas.
Selama tiga bulan, mereka akan tinggal bersama masyarakat. Belajar dari kehidupan sehari-hari yang sederhana namun sarat makna. Berbeda dari kehidupan modernitas mereka di negaranya.
Di pulau kecil itu, ruang kelas mereka bukan hanya bangunan sekolah, melainkan rumah warga, dapur tradisional, hingga halaman tempat anak-anak bermain. Dari pagi hingga petang, mereka diperkenalkan dengan berbagai aspek kultur Melayu.
Mulai dari pakaian adat, ragam kuliner, prosesi pernikahan, hingga tulisan Arab Melayu, semua dipelajari dengan penuh antusias. Bahkan kebiasaan masyarakat seperti cara menyapa, makan bersama, hingga gotong royong menjadi bagian penting dari pembelajaran mereka.
Jens Peter Jacobsen, satu dari 30 pelajar Hojskoleon itu mengaku terkesan dengan keunikan budaya Melayu yang menurutnya sangat berbeda dengan budaya di Denmark. Ia menyebut, kehidupan masyarakat Melayu terasa lebih hangat dan penuh kebersamaan.
“Budaya Melayu sangat unik. Di sini orang-orangnya dekat satu sama lain, saling menyapa, dan banyak kegiatan bersama. Di Denmark, kehidupan lebih individual dan cenderung sibuk dengan urusan masing-masing,” ujar pria yang akrab disapa Jens itu saat ditemui, Rabu, (1/4/2026).
Menurutnya, warga Anambas memiliki nilai kesopanan yang kental dalam kehidupan masyarakat Melayu, mulai dari cara berbicara hingga sikap menghormati yang lebih tua. Hal ini, menurutnya, jarang ditemui dalam kesehariannya.
Ketertarikan Jens juga terlihat saat mengenakan baju adat Melayu. Baginya, pakaian tersebut memiliki keindahan tersendiri yang sederhana namun tetap memancarkan kesan elegan.
“Saya suka baju adat Melayu. Modelnya sederhana, tidak terlalu banyak ornamen, tapi terlihat mewah. Kainnya halus, dipadukan dengan songket dan tanjak membuatnya terlihat istimewa,” ujarnya.
Tak hanya pakaian, pengalaman kuliner juga menjadi hal yang tak terlupakan bagi para pelajar tersebut. Jens menyebut makanan Melayu memiliki cita rasa yang kuat dan kaya rempah.
“Makanan di sini lebih berempah, terutama yang berkuah. Saya suka asam pedas, gulai kari, rasanya kuat tapi enak,” kata Jens.
Ia juga mencoba berbagai makanan tradisional khas Anambas seperti roti kirai yang lembut, lakse dengan kuah kental berbumbu, hingga mie Tarempa yang gurih dan sedikit pedas. Baginya, setiap hidangan memiliki karakter rasa yang berbeda dan khas.
Selain kuliner, para pelajar juga mempelajari kesenian tradisional Melayu. Salah satunya adalah gendang Siantan, alat musik tradisional yang dimainkan secara berkelompok dengan ritme yang dinamis.
Gendang Siantan biasanya digunakan dalam berbagai acara adat dan pertunjukan. Dentuman bunyinya menggambarkan semangat kebersamaan dan kekompakan para pemainnya, sesuatu yang juga dirasakan langsung oleh para pelajar saat mencoba memainkannya.
Mereka juga dikenalkan dengan seni tari bertopeng seperti makyong. Kesenian ini memadukan unsur tari, musik, dan drama yang sarat dengan nilai sejarah serta cerita rakyat.
Dalam pertunjukan makyong, para penari mengenakan topeng dan kostum khas, membawakan cerita dengan gerakan yang halus namun penuh makna. Bagi para pelajar, pengalaman ini menjadi sesuatu yang benar-benar baru.
“Nanti setelah pulang dari Anambas, kami akan mempromosikan kultur Melayu di Denmark. Kami ingin lebih banyak orang tahu tentang budaya ini,” ujar Jens.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Anambas, Masykur, mengatakan program tersebut telah berjalan selama satu tahun dan dilakukan secara bergilir.
“Program ini sudah berjalan sekitar satu tahun. Setiap tiga bulan sekali, pelajar dari Denmark datang secara bergantian untuk belajar budaya Melayu di Anambas,” kata Masykur.
Ia menilai kehadiran pelajar asing ini memberikan dampak positif, tidak hanya bagi promosi budaya, tetapi juga mempererat hubungan antarnegara melalui jalur pendidikan dan kebudayaan.
“Program ini sangat membantu kami dalam memperkenalkan budaya Melayu ke masyarakat internasional. Mereka belajar di sini, lalu menjadi duta yang membawa cerita tentang Anambas ke negaranya,” ujar Masykur.
Di Pulau Nongkat, pertukaran budaya itu terus berlangsung hangat. Di antara suara ombak dan angin laut, para pelajar asing itu perlahan membawa pulang cerita, tentang Melayu, tentang kebersamaan, dan tentang sebuah perjalanan yang tak sekadar jauh, tetapi juga bermakna. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak