Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Sisakan Trauma, Pelajar di Siantan Tengah Pilih Tak Mau Konsumsi Menu MBG

Ihsan Imaduddin • Kamis, 23 April 2026 | 19:00 WIB
PELAJAR SD Negeri 001 Air Asuk, Kecamatan Siantan Tengah. Beberapa pelajar mengaku alami trauma usai keracunan MBG. F Ihsan Imaduddin/Batam Pos
PELAJAR SD Negeri 001 Air Asuk, Kecamatan Siantan Tengah. Beberapa pelajar mengaku alami trauma usai keracunan MBG. F Ihsan Imaduddin/Batam Pos

Batampos - Pasca peristiwa keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Siantan Tengah, Kabupaten Kepulauan Anambas, sejumlah pelajar dilaporkan mengalami trauma. Dampaknya, mereka enggan kembali mengonsumsi makanan dari program tersebut.

Kondisi itu terungkap saat Batam Pos mengunjungi SD Negeri 001 Air Asuk. Di sekolah tersebut, beberapa siswa yang ditemui mengaku menjadi korban dalam insiden keracunan yang terjadi beberapa waktu lalu.

Seorang pelajar perempuan menceritakan pengalamannya saat mengalami keracunan hingga harus mendapatkan perawatan medis. Ia mengaku masih merasa takut untuk kembali mengonsumsi MBG. “Iya kemarin (keracunan) diinfus, tak mau lagi lah makan MBG,” ujarnya singkat.

Baca Juga: Polisi Militer Razia di Bintan, Puluhan Motor Berknalpot Brong Diwajibkan Ganti di Tempat

Tak hanya korban langsung, rasa trauma juga dirasakan oleh siswa lain yang menyaksikan kejadian tersebut. Meski tidak mengalami keracunan, mereka tetap merasa khawatir.

Seorang pelajar lainnya mengaku ketakutan setelah melihat teman-temannya jatuh sakit secara bersamaan. Kondisi itu membuatnya enggan mengonsumsi makanan dari program MBG.

“Nengok (lihat) kawan-kawan sakit, muntah-muntah, diinfus jadi takut. Mak kami pun tak kasih makan MBG lagi,” katanya.

Dari pantauan di sekolah, suasana belajar mengajar tetap berjalan seperti biasa. Namun, terlihat sebagian siswa memilih tidak menyentuh makanan yang disediakan melalui program tersebut.

Beberapa wali murid juga disebut mulai mengambil sikap dengan melarang anak-anak mereka mengonsumsi MBG untuk sementara waktu. Kekhawatiran terhadap keamanan makanan menjadi alasan utama.

Kepala SD Negeri 001 Air Asuk, Herman, membenarkan bahwa sebagian besar siswa penerima manfaat mengalami trauma pascakejadian tersebut.

“Sebagian trauma, kita sudah memberikan imbauan kepada wali murid juga dan BGN sudah turun ke sekolah kami. Dan kita sudah evaluasi,” kata Herman.

Ia menjelaskan bahwa pihak sekolah telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Badan Gizi Nasional (BGN), untuk menindaklanjuti kejadian tersebut.

Baca Juga: BAZNAS Batam Permudah Akses Kurban, Sasar Mustahik di Hinterland

Menurut Herman, situasi di lingkungan sekolah saat ini masih dalam kondisi kondusif. Proses belajar mengajar tetap berjalan tanpa gangguan berarti.

Meski demikian, ia tidak menampik adanya permintaan dari sejumlah wali murid agar program MBG dihentikan sementara waktu.

“Ini kan program Presiden, tidak bisa kita hentikan begitu saja. Lagi pula di Air Asuk sudah satu tahun berjalan, namun baru kali ini kejadian. Kita menunggu hasil penyelidikan juga,” jelasnya.

Ia berharap hasil penyelidikan dari pihak terkait dapat segera keluar agar memberikan kepastian kepada masyarakat. Dengan begitu, kepercayaan terhadap program MBG bisa kembali pulih.

Herman juga berharap ke depan pengawasan terhadap kualitas makanan semakin diperketat, sehingga kejadian serupa tidak terulang dan para siswa bisa kembali merasa aman mengonsumsi MBG.

Diketahui, peristiwa terjadinya ratusan pelajar keracunan MBG pada Rabu, (15/4/2026) pekan lalu. (*)

Editor : Chahaya Simanjuntak
#anambas #keracunan mbg