batampos – Tren gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja mulai menjadi perhatian serius di Kota Batam. Dinas Kesehatan (Dinkes) mencatat, dari 9.255 anak usia 7 hingga 18 tahun yang menjalani skrining kesehatan jiwa pada Januari–Maret 2026, sebanyak 254 anak terindikasi mengalami masalah kejiwaan.
Pemeriksaan dilakukan melalui skrining di sekolah-sekolah menggunakan instrumen Mini Mindhear Youth Scale (MMYS).
Kepala Dinkes Kota Batam, Didi Kusmarjadi, menegaskan bahwa angka tersebut masih sebatas deteksi dini dan belum dapat dikategorikan sebagai gangguan jiwa, karena memerlukan pemeriksaan lanjutan oleh psikolog atau psikiater.
“Dari hasil skrining, sekitar 2,7 persen anak terindikasi memiliki masalah kejiwaan. Ini belum diagnosis, masih perlu pemeriksaan lanjutan oleh tenaga ahli,” ujar Didi, Rabu (28/4).
Menurutnya, tren peningkatan gangguan mental pada anak terjadi secara global dan kini mulai terlihat di tingkat daerah. Namun, peningkatan angka tersebut tidak selalu berarti lonjakan kasus, melainkan juga dipengaruhi semakin aktifnya upaya deteksi dini.
“Ini menunjukkan kesadaran kita untuk mendeteksi lebih awal semakin baik. Tapi sekaligus menjadi sinyal bahwa kesehatan mental anak harus menjadi perhatian bersama, bukan hanya sektor kesehatan,” katanya.
Didi menjelaskan, pemerintah daerah telah menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat pencegahan dan penanganan. Salah satunya melalui penguatan layanan kesehatan jiwa di puskesmas lewat integrasi layanan primer (ILP), termasuk skrining rutin bagi anak dan remaja.
Selain itu, edukasi kepada orang tua juga terus digencarkan melalui posyandu remaja, sekolah, dan komunitas, terutama terkait pola asuh positif dan pentingnya komunikasi yang sehat di dalam keluarga.
Dinkes juga berkolaborasi dengan sektor pendidikan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih ramah anak, tidak semata berorientasi pada capaian akademik.
“Kami menyediakan layanan konseling dan terus mengampanyekan kesehatan mental untuk mengurangi stigma. Masih banyak kasus tidak tertangani karena anak dan orang tua merasa takut atau malu mencari bantuan,” ungkapnya.
Ia menyoroti sistem pendidikan yang masih terlalu menitikberatkan pada nilai akademik sebagai tolok ukur keberhasilan. Jika dibiarkan, kondisi ini berisiko melahirkan generasi yang unggul secara akademis, tetapi rapuh secara mental.
“Kalau keberhasilan hanya diukur dari angka di rapor, anak bisa tumbuh dengan tekanan berlebihan, takut gagal, dan minim kemampuan mengelola emosi,” jelasnya.
Padahal, tantangan kehidupan saat ini membutuhkan generasi yang tangguh, adaptif, dan memiliki kecerdasan emosional yang baik.
Didi menegaskan, keberhasilan anak harus dilihat secara menyeluruh, tidak hanya dari prestasi akademik, tetapi juga dari kesehatan mental, kebahagiaan, serta kemampuan menghadapi tekanan hidup.
“Peran orang tua sangat penting. Pola asuh yang hangat, komunikasi terbuka, dan penerimaan tanpa syarat jauh lebih menentukan masa depan anak dibanding sekadar nilai tinggi,” tutupnya. (*)
Editor : Jamil Qasim