batampos – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang terjadi dua kali dalam waktu berdekatan mulai menekan dunia usaha logistik di Batam.
Pelaku usaha menilai kebijakan tersebut memberatkan karena dilakukan tanpa jeda cukup di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Batam, Yasser Hadeka Daniel, mengatakan penyesuaian harga yang beruntun menyulitkan pelaku usaha dalam menentukan tarif layanan.
Baca Juga: Pertalite Disedot Sindikat, “Surat Tembak” Jadi Senjata Andalan
“Kami tidak bisa langsung menaikkan tarif angkutan. Sebelumnya sudah ada penyesuaian, jadi tidak ideal jika dalam waktu kurang dari sebulan harus dua kali naik,” ujarnya, Rabu (6/5).
Menurut dia, pelaku usaha saat ini cenderung menahan diri sambil memantau kondisi ekonomi. Langkah tersebut diambil untuk menjaga stabilitas bisnis dan hubungan dengan pelanggan.
Namun, kenaikan BBM tetap berdampak signifikan terhadap biaya operasional. Tekanan semakin terasa karena terjadi bersamaan dengan penurunan volume kontainer di Batam pada kuartal pertama tahun ini.
“Ini seperti efek domino. Volume turun, lalu BBM naik, tentu biaya operasional semakin tertekan,” katanya.
Baca Juga: 5.312 Jemaah Haji Embarkasi Batam Telah Diberangkatkan, 14 Ditunda dan 1 Wafat di Madinah
Meski begitu, hingga kini belum ada laporan dari anggota ALFI terkait penutupan usaha atau pengurangan tenaga kerja.
Di sisi lain, masyarakat juga mengeluhkan kenaikan harga BBM nonsubsidi yang dinilai terlalu cepat dan membebani daya beli.
Mereka berharap pemerintah lebih cermat dalam mengambil kebijakan yang berdampak langsung terhadap biaya hidup dan aktivitas ekonomi. (*)
Editor : M Tahang