batampos – Keluhan krisis air bersih kembali mencuat di Kota Batam. Kali ini datang dari warga Perumahan Rhabayu Green, kawasan Dapur 12, Sei Pelunggut, Sagulung. Selama delapan bulan terakhir, ratusan rumah di kawasan tersebut disebut mengalami gangguan pasokan air tanpa solusi yang jelas dari pengelola maupun pengembang.
“Sudah delapan bulan kami mengalami krisis air dan sampai sekarang belum ada solusi pasti,” kata Rudi, warga RT 04 RW 09 Perumahan Rhabayu Green, Jumat (8/5).
Menurut Rudi, air hanya mengalir pada tengah malam hingga dini hari dengan durasi terbatas. Dalam kondisi tertentu, pasokan baru muncul sekitar pukul 00.00 hingga 01.00 WIB. Di luar jam tersebut, keran warga nyaris tidak mengeluarkan air sama sekali.
“Kalau siang sampai malam mati total. Kadang air cuma mengalir beberapa jam saja tengah malam,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat aktivitas warga terganggu, mulai dari kebutuhan mandi, mencuci, hingga memasak.
Sejumlah warga bahkan membandingkan kondisi mereka dengan kawasan rumah liar (ruli) yang dinilai justru memiliki akses air lebih baik.
“Sekarang lebih enak tinggal di ruli daripada di perumahan,” keluh salah seorang warga.
Saling Lempar Tanggung Jawab
Warga menilai persoalan air di perumahan tersebut terkesan saling lempar tanggung jawab antara pengembang dan PT Air Batam Hilir (ABH) selaku pengelola distribusi air bersih di Batam.
Menurut warga, pihak ABH meminta pengembang menyurati penguatan jaringan distribusi air. Namun di sisi lain, pengembang disebut menyerahkan persoalan tersebut kepada ABH.
“Kami dilempar ke developer, developer lempar lagi ke ABH. Jadi tidak ada kepastian siapa yang bertanggung jawab,” ujar Rudi.
Masalah semakin rumit karena status administrasi perumahan disebut belum sepenuhnya diserahterimakan pengembang. Tagihan air warga juga masih menggunakan nama perusahaan pengembang, bukan atas nama pelanggan individu.
Diduga Tak Siap Tampung Penghuni
Warga menduga saat tahap awal pemasaran, pasokan air masih relatif lancar karena menggunakan suplai sementara dari tangki atau sistem internal pengembang.
Namun setelah jumlah penghuni bertambah, distribusi air tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan.
“Waktu awal penjualan air lancar. Tapi sekarang setelah banyak penghuni, air jadi sulit,” kata warga.
Sekitar 240 rumah di kawasan tersebut disebut terdampak krisis air.
Ironisnya, hingga kini warga mengaku belum pernah mendapat bantuan air bersih melalui mobil tangki sebagai solusi darurat.
“Tidak ada bantuan mobil tangki sama sekali,” ujar warga.
Khawatir Semakin Parah
Kekhawatiran warga bertambah karena pembangunan tahap dua dan tahap tiga perumahan masih berjalan.
Mereka menilai kondisi geografis kawasan yang lebih rendah dikhawatirkan membuat distribusi air semakin tidak merata jika persoalan jaringan tidak segera diperbaiki.
“Kalau kondisi seperti ini terus, kami di tahap satu takut malah tidak dapat air lagi karena tahap dua dan tiga lebih rendah,” ujar warga lainnya.
Warga berharap pemerintah turun tangan memediasi persoalan tersebut agar ada kepastian tanggung jawab antara pengembang dan pengelola air.
“Harapan kami masalah air ini cepat diselesaikan. Minimal ada mediasi yang jelas antara developer dan ABH,” tutup Rudi. (*)
Editor : Jamil Qasim