Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Budidaya Ikan Bioflok 2026, Solusi Lahan Sempit di Perkotaan Batam

Antara • Minggu, 10 Mei 2026 | 23:55 WIB
 Bantuan beberapa kolam terpal untuk budidaya ikan dengan sistem bioflok di Rempang Eco City Kota Batam, Kepri, Selasa (5/5/2026). (ANTARA/Amandine Nadja)
Bantuan beberapa kolam terpal untuk budidaya ikan dengan sistem bioflok di Rempang Eco City Kota Batam, Kepri, Selasa (5/5/2026). (ANTARA/Amandine Nadja)

batampos - Dinas Perikanan (Diskan) Kota Batam, Kepulauan Riau, terus memperkuat pengembangan budidaya ikan sistem bioflok sebagai solusi atas keterbatasan lahan di wilayah perkotaan yang semakin padat.

Kepala Diskan Kota Batam, Yudi Admajianto, mengatakan sistem bioflok memungkinkan masyarakat melakukan budidaya ikan dengan kebutuhan lahan yang jauh lebih kecil dibandingkan kolam konvensional.

“Ini menjadi solusi keterbatasan lahan yang ada di Batam. Kalau kolam biasa bisa membutuhkan ukuran 5 kali 10 meter, bioflok cukup 4 kali 5 meter. Ada juga kelompok yang melakukan budidaya di perumahan dan di halaman rumah,” ujar Yudi, Sabtu.

Menurutnya, satu unit kolam bioflok bahkan dapat menampung hingga 1.000 benih ikan, sehingga dinilai lebih efisien dan cocok diterapkan di kawasan perkotaan maupun permukiman padat penduduk.

 

Program 2026: 96 Kolam Bioflok untuk 24 Kelompok

Pada tahun 2026, Diskan Batam menyiapkan 96 kolam bioflok yang akan disalurkan kepada 24 kelompok penerima manfaat. Program ini menjadi bagian dari penguatan ekonomi masyarakat berbasis perikanan budidaya.

“Seluruh kelompok penerima akan kita beri pelatihan mulai dari pembibitan, pembuatan flok, sampai proses panen. Kami biasa mendatangkan ahli budidaya dari Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam atau akademisi,” jelas Yudi.

Saat ini, kelompok penerima bantuan telah melalui proses verifikasi, sementara pembangunan kolam bioflok sedang berlangsung di lapangan. Target penyelesaian pembangunan ditetapkan sekitar tiga bulan.

“Pembangunan ditargetkan rampung sekitar Juli, setelah itu dilakukan tes air, lalu penebaran benih ikan,” tambahnya.

Bantuan Terintegrasi dan Pendampingan Pasar

Tidak hanya infrastruktur kolam, Diskan Batam juga memberikan paket bantuan lengkap berupa benih ikan, pakan, serta peralatan budidaya.

“Semua satu paket, mulai dari benih, peralatan, sampai pakan. Kita juga bantu pemasaran dengan menghubungkan ke pasar dan pengepul ikan,” kata Yudi.

Program ini telah berjalan selama tiga tahun dan menunjukkan respons positif dari masyarakat. Pada 2025 tercatat 137 kolam bantuan, sementara pada 2024 terdapat 79 kolam bantuan bioflok yang telah disalurkan.

 

Dorong Kemandirian Pembudidaya

Diskan Batam berharap program ini tidak hanya meningkatkan produksi perikanan, tetapi juga membangun kemandirian ekonomi masyarakat.

“Nanti setelah berjalan harapannya mereka bisa mandiri untuk membeli pakan dan benih pada siklus selanjutnya,” tutup Yudi.

Dengan pendekatan teknologi budidaya modern seperti bioflok, Batam diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sektor perikanan sekaligus membuka peluang usaha baru di tengah keterbatasan lahan perkotaan. (*)

Editor : Putut Ariyotejo
#budidaya ikan #Diskan Batam #bioflok #batam #perikanan