Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Waduk Nongsa Paling Kritis, Cadangan Air Batam Terus Menyusut Jelang Musim Kemarau

Muhammad Syaban • Jumat, 22 Mei 2026 | 23:23 WIB
Waduk Duriangkang, Badan Pengusahaan (BP) Batam pekan lalu melaporkan bahwa debit air di beberapa waduk mengalami penyusutan rata-rata 2 hingga 3 sentimeter per hari. Penurunan itu terjadi akibat minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir. Foto. Cecep Mulyana/ Batam Pos
Waduk Duriangkang, Badan Pengusahaan (BP) Batam pekan lalu melaporkan bahwa debit air di beberapa waduk mengalami penyusutan rata-rata 2 hingga 3 sentimeter per hari. Penurunan itu terjadi akibat minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir. Foto. Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos  – Kondisi cadangan air baku di sejumlah waduk utama Kota Batam mulai memasuki fase mengkhawatirkan. Minimnya curah hujan ditambah tingginya kebutuhan air bersih masyarakat dan industri membuat muka air waduk terus mengalami penyusutan setiap hari.

Berdasarkan laporan ketahanan air waduk BP Batam per 27 April 2026, hampir seluruh waduk utama mengalami penurunan tinggi muka air (TMA). Dari seluruh waduk yang dipantau, Waduk Nongsa menjadi yang paling kritis.

Waduk tersebut mengalami penyusutan sekitar 4 sentimeter per hari, tertinggi dibanding waduk lain di Batam. Jika dihitung secara relatif, Waduk Nongsa menyumbang sekitar 25 persen dari total laju penurunan muka air harian seluruh waduk utama.

Tak hanya itu, simulasi tanpa hujan yang dilakukan BP Batam menunjukkan Waduk Nongsa diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 34 hari apabila tidak ada tambahan pasokan hujan maupun intervensi seperti hujan buatan.

Kondisi itu menjadikan Waduk Nongsa sebagai titik paling rawan terhadap ancaman krisis air baku di Batam.

Selain Nongsa, penyusutan signifikan juga terjadi di Waduk Sei Harapan, Waduk Sei Ladi, dan Waduk Muka Kuning. Ketiganya rata-rata mengalami penurunan muka air sekitar 3 sentimeter per hari.

Baca Juga: Polisi Bergerak Tengah Malam, Gagalkan Dugaan Aksi Bunuh Diri Pasangan Muda di Sagulung

Secara relatif, masing-masing waduk menyumbang sekitar 18,75 persen dari total laju penyusutan harian seluruh waduk utama.

Waduk Sei Harapan diperkirakan hanya memiliki ketahanan air sekitar 62 hari apabila tidak terjadi hujan. Sedangkan Waduk Muka Kuning diproyeksikan mampu bertahan sekitar 138 hari.

Meski memiliki ketahanan lebih panjang dibanding Nongsa dan Sei Harapan, kondisi Waduk Muka Kuning tetap dikategorikan kritis karena mulai mendekati batas dead storage atau ambang minimum cadangan air yang masih bisa dimanfaatkan.

Sementara itu, Waduk Tembesi mengalami penurunan muka air sekitar 2 sentimeter per hari atau sekitar 12,5 persen dari total laju penyusutan relatif antarwaduk.

Adapun Waduk Duriangkang yang selama ini menjadi tulang punggung pasokan air bersih Batam tercatat paling stabil dengan penurunan sekitar 1 sentimeter per hari atau sekitar 6,25 persen.

Meski demikian, BP Batam tetap mengingatkan kondisi Waduk Duriangkang perlu diwaspadai karena menyuplai hampir 50 persen kebutuhan air bersih masyarakat dan industri di Batam.

Tekanan terhadap kebutuhan air disebut terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, investasi, serta ekspansi kawasan industri.

Secara umum, laporan tersebut menyebut kondisi waduk Batam mulai dipengaruhi dampak El Nino lemah yang diprediksi berlangsung hingga Oktober 2026.

Baca Juga:  Diskum Batam Terbitkan 100 NIB UMKM di Pulau Pesisir

Akibatnya, pasokan air masuk atau inflow ke waduk tidak lagi mampu mengimbangi tingginya produksi dan pengambilan air baku setiap hari.

Situasi diperkirakan semakin berat memasuki Juli hingga September 2026 yang diprediksi menjadi periode paling kering tahun ini.

Data curah hujan Januari hingga Maret 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah tangkapan air waduk mengalami hujan relatif rendah. Bahkan beberapa waduk seperti Sei Ladi dan Nongsa tercatat menerima curah hujan sangat minim sejak awal tahun.

Dalam simulasi BP Batam, hujan ringan dinilai belum mampu memberikan dampak signifikan terhadap kenaikan muka air waduk. Kenaikan baru terasa apabila terjadi hujan dengan intensitas lebih dari 100 milimeter per hari.

Melihat kondisi tersebut, BP Batam mulai menggencarkan rencana pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan untuk menjaga ketahanan air baku Batam sebelum memasuki puncak musim kering.

Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan Operasi Modifikasi Cuaca perlu dilakukan sejak Mei karena kondisi awan masih memungkinkan untuk penyemaian garam.

Baca Juga: Olivia Rodrigo Klarifikasi Lagu The Cure, Akui Dekat dengan Robert Smith

“Berdasarkan data dari BMKG, bulan Juni sampai Agustus diperkirakan terjadi musim kemarau panjang sehingga harus diantisipasi agar volume waduk tetap penuh,” ujar Denny.

Ia menyebut tren penurunan muka air kini terus terjadi, terutama di Waduk Sei Harapan, Muka Kuning, dan Nongsa.

“Dan itu harus dilakukan bulan Mei karena bulan ini masih terlihat awan yang bisa disemai garam dalam Operasi Modifikasi Cuaca untuk mempercepat turunnya hujan,” katanya. (*)

 

Editor : Putut Ariyo
#Waduk Batam #krisis air Batam #Waduk Nongsa #hujan buatan #bp batam