Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Gelombang Data Center Masuk Batam, PII Kepri Soroti Kesiapan Air, Listrik, dan SDM

Muhammad Syaban • Jumat, 5 Juni 2026 | 15:05 WIB
Ketua Persatuan Insinyur Indonesia Wilayah Kepulauan Riau, Prastiwo Anggoro
Ketua Persatuan Insinyur Indonesia Wilayah Kepulauan Riau, Prastiwo Anggoro

batampos – Gelombang investasi pusat data atau data center yang terus mengalir ke Batam dinilai membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, di balik besarnya nilai investasi yang masuk, terdapat tantangan penting yang harus segera dijawab, yakni kesiapan infrastruktur dasar dan sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung kebutuhan industri tersebut dalam jangka panjang.

Ketua Persatuan Insinyur Indonesia Wilayah Kepulauan Riau, Prastiwo Anggoro, mengatakan ketersediaan pasokan air dan listrik merupakan faktor paling mendasar bagi keberlangsungan operasional data center.

Menurutnya, industri pusat data membutuhkan pasokan energi dan air dalam jumlah besar yang harus tersedia secara stabil selama 24 jam tanpa gangguan.

Karena itu, langkah BP Batam yang menyiapkan proyek Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau instalasi desalinasi air laut untuk mendukung kebutuhan kawasan data center dinilai sebagai kebijakan yang tepat.

“Ketersediaan air dan listrik merupakan urat nadi utama bagi operasional data center. Karena itu langkah BP Batam menyiapkan SWRO untuk mendukung kebutuhan kawasan data center merupakan langkah yang sangat tepat,” kata Prastiwo, Kamis (4/6).

Selain sektor air bersih, ia juga melihat perkembangan positif dari sektor energi setelah pengelolaan pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS) kembali berada di bawah PT Perusahaan Gas Negara.

Menurutnya, kepastian pengelolaan tersebut berpotensi memperkuat stabilitas pasokan gas yang selama ini menjadi salah satu sumber energi utama pembangkit listrik di Batam.

Baca Juga: Dishub Batam Tegaskan Hanya Jalankan Perwako dalam Penerbitan Rekomendasi BBM Subsidi

Dengan pasokan gas yang lebih terjamin, PLN Batam diharapkan dapat mengoptimalkan operasional pembangkit listrik tenaga gas yang menjadi tulang punggung kebutuhan energi kawasan industri.

“Kembalinya pengelolaan WNTS ke PGN menjadi sinyal positif. Ini dapat memperkuat pasokan gas untuk PLN Batam sehingga mendukung keandalan pasokan listrik yang sangat dibutuhkan industri data center,” ujarnya.

Meski demikian, Prastiwo mengingatkan bahwa berbagai proyek pendukung tidak boleh berhenti pada tahap perencanaan. Ia menilai BP Batam dan PLN Batam perlu memastikan seluruh infrastruktur pendukung dapat beroperasi tepat waktu seiring meningkatnya investasi data center.

“Ketika investasi terus berjalan, maka proyek-proyek pendukung juga harus berjalan paralel. Jangan sampai investasinya sudah masuk tetapi infrastruktur penunjangnya belum siap,” katanya.

SDM Lokal Harus Dipersiapkan

Menurut Prastiwo, setelah persoalan air dan listrik mulai dipetakan, tantangan berikutnya yang tidak kalah penting adalah kesiapan tenaga kerja lokal.

Ia memperkirakan industri data center berpotensi menyerap ribuan tenaga kerja mulai dari tahap konstruksi, instalasi, operasional hingga pemeliharaan fasilitas.

Kebutuhan tersebut tidak hanya mencakup bidang teknologi informasi, tetapi juga tenaga ahli di sektor kelistrikan, mekanikal, sistem pendingin, keamanan siber, telekomunikasi, energi, hingga manajemen operasional.

Karena itu, ia menilai pengembangan SDM harus dilakukan sejak sekarang agar masyarakat Batam dapat menjadi bagian utama dari pertumbuhan industri tersebut.

“Data center tidak hanya membutuhkan tenaga IT. Ada banyak kompetensi lain yang dibutuhkan mulai dari konstruksi, utilitas, sistem pendingin, keamanan, hingga operasional. Ini harus dipersiapkan dari sekarang,” ujarnya.

Dorong Kolaborasi Triple Helix

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, PII Kepri mendorong penerapan konsep Triple Helix, yakni kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, dan pemerintah.

Perguruan tinggi diharapkan mampu menyesuaikan kurikulum agar lebih relevan dengan kebutuhan industri. Sementara organisasi profesi berperan dalam penyediaan sertifikasi dan standardisasi kompetensi, serta pemerintah hadir melalui kebijakan yang mendukung pengembangan SDM.

Menurut Prastiwo, ketiga unsur tersebut perlu menyusun peta kebutuhan kompetensi yang akan dibutuhkan industri data center di Batam dalam beberapa tahun mendatang.

“Harus ada pemetaan yang jelas mengenai kebutuhan tenaga kerja dan kompetensi yang diperlukan. Dengan begitu dunia pendidikan bisa menyesuaikan diri dan industri juga mendapatkan tenaga kerja yang sesuai kebutuhan,” katanya.

Sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas SDM, PII Kepri berencana menggelar SIJORI Engineering Exhibition pada Agustus mendatang.

Kegiatan tersebut akan mempertemukan kalangan akademisi, dunia usaha, organisasi profesi, dan pemerintah untuk berbagi pengetahuan serta memperkuat kesiapan tenaga kerja menghadapi perkembangan industri teknologi dan data center di Batam.

Prastiwo berharap masuknya investasi data center bernilai ratusan triliun rupiah dapat menjadi peluang besar bagi masyarakat lokal, tidak hanya menghadirkan infrastruktur digital baru, tetapi juga meningkatkan kualitas SDM daerah.

“Tujuan akhirnya bukan hanya membangun infrastruktur digital, tetapi juga meningkatkan kualitas SDM lokal agar mampu bersaing dan mengambil manfaat dari pertumbuhan industri tersebut. Kalau itu bisa dilakukan, maka dampak ekonominya akan jauh lebih besar bagi Batam dan Kepulauan Riau,” ujarnya. (*)

Editor : Putut Ariyo
#Data Center Batam #bp batam #PII Kepri #PLN Batam #investasi batam