batampos – Tenggelamnya kapal kargo MV Golden Star 1 berbendera Tanzania di jalur pelayaran internasional Selat Singapura menyisakan tantangan besar bagi otoritas maritim. Selain penyelidikan penyebab kecelakaan, perhatian kini tertuju pada upaya pencarian dan pengamanan puluhan kontainer yang hanyut ke wilayah perairan Batam dan berpotensi membahayakan keselamatan pelayaran.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Khusus Batam, M. Takwim Masuku, mengatakan fokus utama saat ini adalah mengamankan kontainer yang terbawa arus ke wilayah Indonesia setelah kapal yang berlayar dari Singapura menuju Pasir Gudang, Malaysia, tersebut tenggelam pada Jumat (5/6/2026) malam.
Menurut Takwim, penyebab tenggelamnya kapal masih dalam proses investigasi karena kapal berangkat dari Singapura dan tidak berasal dari pelabuhan Indonesia. Namun demikian, keselamatan alur pelayaran di perairan Batam menjadi prioritas utama yang harus segera ditangani.
Baca Juga: Kontainer Sengaja Dibiarkan Menumpuk di Pelabuhan, Purbaya Ancam Importir Denda Lebih Besar
“Penyebabnya kami masih mendalami karena kapal ini berangkat bukan dari Indonesia, tetapi dari Singapura. Saat ini fokus kami adalah penanganan kontainer yang hanyut untuk memastikan alur pelayaran Indonesia, khususnya Batam, tetap aman dari sisa kontainer yang hanyut,” ujar Takwim dalam konferensi pers, Sabtu (6/6/2026).
MV Golden Star 1 diketahui mengangkut sebanyak 107 kontainer saat mengalami kecelakaan di kawasan Traffic Separation Scheme (TSS) Selat Singapura, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia yang setiap hari dilintasi kapal-kapal niaga internasional.
Sebagian kontainer yang terlepas dari kapal dilaporkan terbawa arus menuju wilayah perairan sekitar Batam. Keberadaan kontainer terapung maupun setengah tenggelam dinilai sangat berbahaya karena berpotensi menjadi objek tabrakan bagi kapal yang melintas, terutama pada malam hari atau saat jarak pandang terbatas.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, KSOP Batam bersama Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) Kelas II Tanjung Uban, Distrik Navigasi, serta nelayan setempat terus melakukan operasi pencarian dan pengamanan di lapangan.
Hingga Sabtu (6/6), sebanyak 18 kontainer telah berhasil ditemukan dan diamankan sementara di kawasan Pulau Putri. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan bertambah seiring berlanjutnya proses pencarian terhadap kontainer lain yang belum teridentifikasi.
“Kami berharap kontainer itu tetap mengapung sehingga bisa ditemukan dan diamankan. Jika tenggelam, justru akan lebih berisiko karena dapat menjadi ancaman bagi keselamatan pelayaran,” katanya.
Selain operasi pencarian, KSOP Batam juga mengaktifkan sistem peringatan navigasi melalui Vessel Traffic Service (VTS) Batam. Informasi mengenai keberadaan kontainer hanyut disampaikan secara berkala kepada kapal-kapal yang melintasi Selat Singapura dan perairan Batam agar meningkatkan kewaspadaan selama pelayaran.
“Kami memberikan informasi melalui VTS kepada seluruh kapal yang melalui jalur ini untuk berhati-hati dan terus memantau kondisi perairan,” ujar Takwim.
Di sisi lain, otoritas pelayaran juga terus memantau kemungkinan dampak lingkungan akibat kecelakaan kapal tersebut. Meski hingga kini belum ditemukan indikasi pencemaran di wilayah perairan Batam, langkah antisipasi tetap disiapkan untuk menghadapi kemungkinan kebocoran bahan bakar maupun limbah lain yang dapat terbawa arus.
Baca Juga: Terendus Jual Mesin Jahit Curian, Pria Ini Tak Berkutik Saat Diamankan Warga
“Sejauh ini kami belum melihat potensi pencemaran lingkungan, khususnya dari bahan bakar akibat kecelakaan tersebut. Namun kami tetap menyiapkan langkah antisipasi. Jika terlihat adanya potensi pencemaran, kami akan segera melakukan penanganan, khususnya yang masuk ke wilayah Batam,” tegasnya.
KSOP Batam juga telah berkoordinasi dengan otoritas maritim Singapura terkait penanganan kontainer yang hanyut. Koordinasi tersebut diperlukan untuk memastikan keselamatan pelayaran tetap terjaga sekaligus menentukan langkah lanjutan terhadap kontainer yang menjadi tanggung jawab pemilik muatan.
Di tengah masih berlangsungnya investigasi penyebab tenggelamnya MV Golden Star 1, pencarian kontainer yang belum ditemukan menjadi perhatian utama. Keberadaan puluhan kontainer di jalur pelayaran internasional berpotensi menimbulkan risiko serius bagi lalu lintas kapal yang setiap hari melintasi perairan Batam dan Selat Singapura.
Karena itu, operasi pencarian dan pengamanan akan terus dilakukan hingga seluruh kontainer yang terlepas dari kapal dapat ditemukan atau dipastikan tidak lagi mengganggu keselamatan pelayaran. (*)
Editor : Putut Ariyo