batampos – Di tengah upaya pencarian puluhan kontainer yang hanyut akibat tenggelamnya kapal kargo MV Golden Star 1 di Selat Singapura, muncul kekhawatiran baru terkait potensi pencemaran laut yang dapat berdampak hingga ke perairan Batam.
Kapal berbendera Tanzania yang tenggelam di jalur pelayaran internasional tersebut berpotensi menimbulkan pencemaran apabila terjadi kebocoran bahan bakar dari bangkai kapal yang kini berada di dasar laut.
Kekhawatiran itu muncul karena lokasi tenggelamnya kapal berada tidak jauh dari wilayah perairan Batam yang terhubung langsung dengan Selat Singapura dan Selat Malaka. Jika terjadi tumpahan minyak, arus laut berpotensi membawa pencemaran memasuki perairan Indonesia.
Meski demikian, hingga kini Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam mengaku belum melakukan pemantauan langsung terhadap kualitas air laut maupun kemungkinan dampak lingkungan akibat insiden tersebut.
Baca Juga: FIFA Cabut Sebagian Larangan Botol Air di Piala Dunia 2026 Setelah Gelombang Kritik
Kepala Bidang Perlindungan Lingkungan Hidup DLH Kota Batam, IP, mengatakan penanganan awal kecelakaan kapal masih menjadi kewenangan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).
“Jadi gini, kewenangannya kan masih di situ (KSOP),” katanya kepada Batam Pos, Senin (8/6).
Menurut dia, DLH baru akan melakukan pemeriksaan apabila terdapat laporan atau indikasi pencemaran yang ditemukan oleh instansi terkait di lapangan.
Artinya, selama proses evakuasi, penyelamatan, dan investigasi masih berlangsung, pemantauan utama masih berada di bawah koordinasi KSOP bersama instansi maritim lainnya.
“Setelah ada pencemaran baru mereka koordinasi nanti,” ujarnya.
Saat ditanya apakah DLH telah melakukan pengecekan langsung untuk memastikan tidak ada dampak pencemaran di wilayah perairan Batam, ia mengaku belum ada langkah tersebut.
“Belum lah, masih teman-teman KSOP. Kalau ada konfirmasi dari mereka ada sesuatu, misalnya pencemaran, baru kita turun,” jelasnya.
KSOP Fokus Tangani Kontainer Hanyut
Sementara itu, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Khusus Batam, M. Takwim Masuku, mengatakan fokus utama saat ini masih pada penanganan puluhan kontainer yang hanyut pasca tenggelamnya MV Golden Star 1.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan keselamatan pelayaran di wilayah perairan Indonesia, khususnya Batam, tidak terganggu oleh kontainer yang masih tercecer di laut.
“Penyebabnya kami masih mendalami karena kapal ini berangkat bukan dari Indonesia, tetapi dari Singapura. Saat ini fokus kami adalah penanganan kontainer yang hanyut untuk memastikan alur pelayaran Indonesia, khususnya Batam, tetap aman dari sisa kontainer yang hanyut,” ujar Takwim dalam konferensi pers.
Selain keselamatan pelayaran, KSOP juga mengaku terus memantau kemungkinan dampak lingkungan yang dapat muncul akibat tenggelamnya kapal tersebut.
Belum Ada Indikasi Tumpahan Minyak
Hingga saat ini, otoritas pelabuhan belum menemukan indikasi pencemaran laut yang berasal dari bahan bakar maupun muatan kapal.
Meski begitu, KSOP telah menyiapkan langkah antisipasi apabila ditemukan tanda-tanda kebocoran yang berpotensi mencemari perairan.
Baca Juga: Prada Masuk Industri Antariksa, Rancang Pakaian Astronaut NASA untuk Misi Bulan
“Sejauh ini kami belum melihat potensi pencemaran lingkungan, khususnya dari bahan bakar akibat kecelakaan tersebut. Namun kami tetap menyiapkan langkah antisipasi. Jika terlihat adanya potensi pencemaran, kami akan segera melakukan penanganan, khususnya yang masuk ke wilayah Batam,” tegas Takwim.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi jaminan bahwa pemantauan terhadap kondisi laut terus dilakukan meskipun fokus utama saat ini masih pada pengamanan jalur pelayaran dan pencarian kontainer yang hanyut.
Namun demikian, sejumlah pihak menilai pengawasan terhadap kualitas lingkungan perairan juga perlu diperkuat mengingat potensi kebocoran bahan bakar dari bangkai kapal dapat muncul sewaktu-waktu dan berdampak pada ekosistem laut maupun aktivitas masyarakat pesisir di sekitar Batam.
Dengan posisi strategis Batam yang berada di salah satu jalur pelayaran tersibuk dunia, kewaspadaan terhadap potensi pencemaran laut dinilai menjadi bagian penting dalam penanganan pasca tenggelamnya MV Golden Star 1. (*)
Editor : Putut Ariyo