batampos - Indonesia masih kehilangan potensi bisnis bernilai miliaran dolar AS dari sektor perawatan pesawat terbang atau Maintenance, Repair and Overhaul (MRO). Meski memiliki pasar penerbangan terbesar di Asia Tenggara, hampir separuh kebutuhan perawatan armada nasional masih dikerjakan di luar negeri.
Isu tersebut menjadi sorotan utama dalam Indonesia MRO Summit (IMROS) 2026 yang digelar di Batam, Senin (9/6), dan mempertemukan regulator, maskapai, perusahaan MRO, produsen pesawat, serta investor untuk membahas masa depan industri perawatan pesawat nasional.
Ketua Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA) yang juga Direktur Utama GMF AeroAsia, Andi Fahrurrozi, menilai Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi pusat layanan MRO regional.
Baca Juga: Belanja Pegawai Batam Tembus 39 Persen APBD, Pemko Minta Relaksasi Aturan ke Pusat
Menurutnya, pertumbuhan armada pesawat yang tinggi, pasar domestik yang besar, tenaga kerja kompeten, serta posisi geografis strategis merupakan keunggulan yang sulit ditandingi negara lain di kawasan.
"Pertumbuhan saja tidak cukup. Untuk tetap kompetitif, kita harus membangun industri yang tangguh, inovatif, dan kolaboratif," ujar Andi.
Ketergantungan pada Luar Negeri Masih Tinggi
Andi menjelaskan bahwa industri MRO nasional telah mampu menangani sekitar 90 persen pekerjaan perawatan struktur pesawat (airframe) di dalam negeri. Namun, tantangan terbesar masih berada pada sektor perawatan mesin (engine) dan komponen pesawat.
Sekitar 70 persen perawatan mesin pesawat Indonesia masih dilakukan di luar negeri. Akibatnya, peluang bisnis bernilai tinggi dan potensi devisa negara justru dinikmati perusahaan asing.
Baca Juga: SPMB 2026 Dibuka, SMKN 1 Batam Sediakan Posko Konsultasi untuk Calon Siswa dan Orang Tua
Data industri menunjukkan sekitar 46 persen pasar MRO Indonesia hingga kini masih dikuasai oleh pelaku usaha luar negeri. Kondisi ini menjadi indikator bahwa kapasitas industri domestik belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar nasional.
"Kendala kita ada di komponen dan engine. Investasinya sangat besar. Banyak OEM sekarang membangun fasilitas MRO sendiri sehingga semakin eksklusif," kata Andi.
Regulasi Dinilai Perlu Disederhanakan
Selain investasi, pelaku industri menyoroti sejumlah regulasi yang dianggap menghambat efisiensi usaha, terutama terkait kebijakan larangan dan pembatasan impor (lartas) serta pengaturan HS Code suku cadang pesawat.
IAMSA berharap pemerintah segera menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan yang akan menjadi dasar pemberian berbagai insentif fiskal dan relaksasi aturan impor komponen pesawat.
Kebijakan tersebut diyakini dapat menekan biaya operasional, mempercepat arus masuk suku cadang, serta meningkatkan daya saing industri MRO Indonesia dibanding negara pesaing seperti Singapura dan Malaysia.
Batam Diproyeksikan Jadi Hub MRO Nasional
Pemerintah menilai pengembangan industri MRO harus berjalan seiring dengan pembangunan konektivitas dan sistem logistik nasional.
Sekretaris Deputi Koordinasi Konektivitas Kementerian Koordinator Infrastruktur RI, Rustam Efendi, menegaskan bahwa keberadaan fasilitas perawatan pesawat yang efisien merupakan faktor penting dalam meningkatkan daya saing sektor penerbangan nasional.
"Kalau ingin sektor penerbangan kita kompetitif, tidak cukup hanya bicara avtur atau kapasitas bandara. MRO menjadi salah satu komponen penting yang menentukan efisiensi dan keberlanjutan industri penerbangan," ujarnya.
Dalam strategi nasional tersebut, Batam dinilai memiliki posisi strategis untuk berkembang sebagai pusat MRO Indonesia karena berada di jalur perdagangan internasional, dekat dengan Singapura, serta didukung kawasan industri yang terus berkembang.
Selain Batam, pemerintah juga mengembangkan Jakarta, Surabaya, dan Makassar sebagai simpul konektivitas nasional yang terintegrasi dengan kawasan industri dan logistik.
Kunci Sukses: Ekosistem dan SDM
Pemerintah dan pelaku industri sepakat bahwa keberhasilan Indonesia menjadi pusat MRO Asia tidak hanya bergantung pada investasi dan insentif fiskal. Penguatan sumber daya manusia, percepatan logistik, integrasi infrastruktur, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penentu.
Andi Fahrurrozi menekankan bahwa keberhasilan industri MRO membutuhkan sinergi antara pemerintah, regulator, maskapai penerbangan, perusahaan MRO, produsen pesawat, pemasok komponen, lembaga pendidikan, hingga investor.
"Keberhasilan bergantung pada kekuatan ekosistem. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, regulator, maskapai, penyedia MRO, OEM, pemasok, institusi pendidikan, dan investor," tegasnya. (*)
Editor : Jamil Qasim