Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

BP Batam Siapkan Batam Jadi Hub MRO Asia Pasifik

Abdul Azis Maulana • Rabu, 10 Juni 2026 | 14:38 WIB
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis (kiri) bersama Ketua IAMSA Andi Fahrurrozi (tengah) menyampaikan pandangannya terkait pengembangan industri Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) dalam Indonesia MRO Summit (IMROS) 2026 di Batam, Senin (9/6). F. Azis Maulana / Batam Pos
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis (kiri) bersama Ketua IAMSA Andi Fahrurrozi (tengah) menyampaikan pandangannya terkait pengembangan industri Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) dalam Indonesia MRO Summit (IMROS) 2026 di Batam, Senin (9/6). F. Azis Maulana / Batam Pos

batampos – Badan Pengusahaan (BP) Batam mempercepat langkah untuk menjadikan Batam sebagai pusat industri perawatan pesawat terbang atau Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) di kawasan Asia Pasifik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menyiapkan tambahan lahan seluas 100 hektare di kawasan sekitar Bandara Internasional Hang Nadim.

Lahan tersebut diproyeksikan menjadi ruang ekspansi bagi investor yang bergerak di sektor perawatan pesawat, manufaktur komponen penerbangan, hingga industri dirgantara pendukung lainnya.

Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, mengatakan pengembangan industri penerbangan menjadi salah satu fokus utama dalam strategi investasi Batam beberapa tahun ke depan.

Menurutnya, Batam memiliki peluang besar untuk mengambil peran lebih penting dalam bisnis MRO regional yang selama ini didominasi negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia.

Baca Juga: 

“IMROS 2026 menjadi kesempatan bagi Batam untuk memperlihatkan kesiapan infrastruktur dan ekosistem industri penerbangan kepada calon investor global,” kata Fary, Rabu (10/6).

Ia menjelaskan, kawasan di sekitar Bandara Hang Nadim memiliki nilai strategis karena terintegrasi dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang saat ini menjadi lokasi operasional Batam Aero Technic (BAT), perusahaan perawatan pesawat milik Lion Group.

Keberadaan BAT dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun klaster aerospace yang lebih besar di Batam. Seiring meningkatnya aktivitas industri, kebutuhan ruang pengembangan juga terus bertambah.

Karena itu, BP Batam menyiapkan tambahan lahan sekitar 100 hektare untuk mendukung perluasan fasilitas MRO maupun investasi baru di sektor penerbangan.

“Kami membuka peluang bagi investor yang ingin mengembangkan fasilitas perawatan pesawat maupun industri pendukung lainnya di kawasan tersebut,” ujarnya.

Dalam jangka panjang, kawasan aerospace Batam diperkirakan mampu menyerap hingga 16 ribu tenaga kerja. Saat ini, jumlah pekerja yang telah terlibat dalam aktivitas industri penerbangan di kawasan tersebut mencapai sekitar 5.000 hingga 6.000 orang.

Bidik Investasi Global

BP Batam berharap ketersediaan lahan baru dapat meningkatkan daya tarik investasi di sektor penerbangan. Tidak hanya perusahaan MRO, investor yang bergerak di bidang manufaktur komponen, teknologi dirgantara, hingga rantai pasok industri aerospace juga menjadi target pengembangan.

Strategi tersebut sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat industri penerbangan nasional agar tidak terlalu bergantung pada layanan perawatan pesawat di luar negeri.

Di saat yang sama, Batam juga mencatat pertumbuhan investasi yang cukup signifikan. BP Batam menyebut realisasi investasi pada awal 2025 meningkat hingga 105 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Capaian tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah pusat mendorong Batam sebagai model percepatan investasi nasional melalui penyederhanaan regulasi dan pelayanan perizinan.

Fary mengatakan sejumlah kewenangan yang sebelumnya berada di kementerian kini mulai dilimpahkan kepada BP Batam agar proses investasi menjadi lebih cepat dan efisien.

“Arahan Presiden jelas, yakni memberikan kepastian regulasi dan mempercepat layanan investasi sehingga pelaku usaha tidak menghadapi proses yang berbelit,” katanya.

Kekuatan Batam di Jalur Perdagangan Dunia

Selain dukungan lahan dan kemudahan perizinan, posisi geografis Batam menjadi keunggulan yang sulit ditandingi. Lokasinya yang berdekatan dengan Singapura dan berada di jalur perdagangan internasional menjadikan Batam ideal sebagai basis industri penerbangan.

Industri MRO sangat bergantung pada kelancaran distribusi suku cadang dan komponen pesawat. Karena itu, integrasi antara kawasan industri, pelabuhan, dan bandara menjadi faktor penting yang terus diperkuat BP Batam.

Dengan kombinasi lokasi strategis, infrastruktur logistik yang terus berkembang, kemudahan investasi, serta ketersediaan lahan baru, Batam dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi salah satu pusat industri MRO dan dirgantara terkemuka di Asia Pasifik dalam beberapa tahun mendatang.

Editor : Putut Ariyo
#MRO #Industri Dirgantara #bp batam #Batam Aero Technic #hang nadim