batampos – Tren pertumbuhan investasi di Batam berlanjut pada awal 2026. Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat realisasi investasi pada periode Januari hingga Maret 2026 mencapai Rp17,4 triliun atau meningkat 102,85 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Nilai tersebut terdiri dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp8,8 triliun yang tumbuh 50,71 persen serta Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp8,5 triliun yang melonjak 216,18 persen secara tahunan.
Lima negara penyumbang investasi terbesar pada triwulan pertama 2026 berasal dari Singapura, Hong Kong, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang.
Menurut BP Batam, keberagaman negara asal investasi tersebut menjadi modal penting untuk menjaga ketahanan ekonomi daerah karena tidak bergantung pada satu sumber investasi tertentu.
Industri Elektronik dan Kimia Dominasi
Dari sisi sektor usaha, investasi yang masuk ke Batam didominasi sektor bernilai tambah tinggi.
Industri mesin dan elektronik menjadi sektor terbesar dengan kontribusi 23,65 persen dari total investasi. Posisi berikutnya ditempati industri kimia dan farmasi sebesar 21,18 persen, sektor jasa lainnya sebesar 17,70 persen, serta kawasan industri dan properti sebesar 13,09 persen.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa investasi yang masuk ke Batam semakin berkualitas karena ditopang sektor manufaktur, teknologi, logistik, dan industri produktif lainnya yang berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja.
Kawasan Bebas Bertambah Jadi 22 Pulau
Untuk menjaga momentum pertumbuhan investasi, BP Batam terus mendorong kebijakan strategis, salah satunya melalui perluasan wilayah Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2025.
Melalui kebijakan tersebut, wilayah KPBPB Batam bertambah dari delapan pulau menjadi 22 pulau. Luas kawasan juga meningkat signifikan dari sekitar 71.500 hektare menjadi 152.686 hektare.
Perluasan ini membuka peluang pengembangan investasi baru di sektor industri, logistik, energi, pariwisata, hingga ekonomi berbasis teknologi.
Selain itu, BP Batam juga mempercepat pembangunan berbagai infrastruktur strategis seperti jalan dan jembatan, pelabuhan, bandara, Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), instalasi pengolahan air limbah, pengelolaan limbah B3, hingga fasilitas kesehatan.
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, menegaskan bahwa investasi dan pembangunan infrastruktur merupakan dua aspek yang saling mendukung dalam menciptakan iklim usaha yang kompetitif.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap investor yang datang memperoleh kepastian usaha, dukungan infrastruktur yang memadai, serta pelayanan yang cepat dan profesional. Dengan sinergi tersebut, investasi yang masuk tidak hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Editor : Putut Ariyo