Kasus HIV di Batam 230 Kasus Baru, Batam Kota Jumlah Terbanyak
Rengga Yuliandra• Kamis, 25 Juni 2026 | 23:24 WIB
Ilustrasi HIV/AIDS. F. JawaPos.com
Batampos – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat sebanyak 230 kasus HIV positif ditemukan sepanjang Januari hingga Mei 2026. Dari jumlah itu, temuan terbanyak ada di Kecamatan Batam Kota.
Para penderita didominasi kelompok usia produktif 25 hingga 49 tahun, yang mencapai 159 kasus atau sekitar 69 persen dari total kasus yang ditemukan. Data ini menunjukkan penularan HIV masih banyak terjadi pada kelompok usia yang aktif secara sosial dan ekonomi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, dr. Didi Kusmarjadi, mengatakan upaya deteksi dini terus diperkuat melalui pemeriksaan pada kelompok populasi kunci dan kelompok berisiko.
“Penemuan kasus yang tinggi bukan berarti penularan meningkat drastis, tetapi menunjukkan semakin banyak masyarakat yang berhasil dijangkau untuk melakukan pemeriksaan. Tujuan kami adalah menemukan kasus sedini mungkin agar penderita segera mendapatkan pengobatan ARV dan tidak menularkan kepada orang lain,” ujar Didi, Kamis (25/6/2026).
Berdasarkan data Dinkes Batam, dari total 230 kasus HIV yang ditemukan hingga Mei 2026, sebanyak 172 kasus berasal dari laki-laki dan 58 kasus perempuan. Kelompok umur 25-49 tahun menjadi penyumbang terbesar dengan 159 kasus, disusul usia 20-24 tahun sebanyak 37 kasus, usia di atas 50 tahun sebanyak 18 kasus, serta usia 15-19 tahun sebanyak 14 kasus.
Dari sisi pekerjaan, penderita HIV terbanyak berasal dari kalangan pegawai atau karyawan swasta sebanyak 128 orang. Selanjutnya wiraswasta 22 orang, tidak bekerja 21 orang, kategori pekerjaan lain yang tidak diketahui sebanyak 18 orang, ibu rumah tangga 15 orang, serta pekerja seks sebanyak 12 orang.
Sementara berdasarkan wilayah tempat tinggal, Kecamatan Batam Kota mencatat jumlah penderita HIV terbanyak dengan 48 kasus. Disusul Kecamatan Batuaji sebanyak 41 kasus, Lubuk Baja 29 kasus, Sekupang 26 kasus, Bengkong 21 kasus, dan Sagulung 17 kasus. Kecamatan Bulang, Belakang Padang, dan Galang menjadi wilayah dengan jumlah kasus paling sedikit.
Didi menjelaskan, hingga Mei 2026 pihaknya telah melakukan tes HIV terhadap 6.144 orang dari target sasaran kelompok berisiko sebanyak 16.839 orang. Dari jumlah tersebut ditemukan 230 kasus positif HIV.
Kelompok yang paling banyak menyumbang kasus positif berasal dari kelompok laki-laki seks dengan laki-laki (LSL) sebanyak 116 kasus, pasien tuberkulosis (TBC) sebanyak 46 kasus, serta wanita pekerja seks (WPS) sebanyak 23 kasus.
“Karena itu kami terus memperluas layanan skrining HIV pada kelompok berisiko, termasuk pasien TBC, ibu hamil, warga binaan pemasyarakatan, serta populasi kunci lainnya,” katanya.
Untuk mendukung penanggulangan HIV/AIDS, Dinkes Batam saat ini telah menyediakan layanan konseling, tes HIV, serta pengobatan antiretroviral (ARV) di puluhan puskesmas dan rumah sakit di Kota Batam. Layanan tersebut diharapkan memudahkan masyarakat melakukan pemeriksaan tanpa rasa takut maupun stigma.
Didi juga mengingatkan masyarakat agar tidak memberikan stigma kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Menurutnya, HIV merupakan masalah kesehatan yang dapat dikendalikan dengan pengobatan rutin.
“ODHA yang menjalani terapi ARV secara teratur dapat hidup sehat dan produktif seperti masyarakat lainnya. Yang terpenting adalah deteksi dini, pengobatan rutin, dan dukungan dari keluarga maupun lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pemerintah Kota Batam terus menargetkan pencapaian program Three Zero, yakni nol infeksi baru HIV, nol kematian akibat AIDS, dan nol stigma terhadap ODHA melalui edukasi, perluasan layanan pemeriksaan, serta pengobatan berkelanjutan. (*)