batampos – Badan Pengusahaan (BP) Batam mulai menjajaki peluang kerja sama dengan perusahaan asal Jepang, JFE Engineering, untuk mengembangkan teknologi pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WtE). Langkah ini menjadi bagian dari upaya mencari solusi jangka panjang atas meningkatnya volume sampah di Batam, termasuk beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Telaga Punggur.
Meski demikian, BP Batam menegaskan pembahasan dengan perusahaan tersebut masih berada pada tahap awal. Belum ada keputusan maupun kesepakatan kerja sama yang ditetapkan.
Pertemuan penjajakan berlangsung di Marketing Center BP Batam pada Senin (22/6). Direktur Investasi BP Batam, Dendi Gustinandar, bersama jajaran menerima paparan JFE Engineering mengenai teknologi pengelolaan sampah dan pemanfaatannya menjadi energi.
Baca Juga: Hotel dan Restoran Penyumbang Terbesar Food Waste, Pemprov Kepri Dorong Food Bank
Deputi Bidang Investasi BP Batam, Fary Djemy Francis, mengatakan pertemuan tersebut masih sebatas pertukaran informasi dan pembahasan teknis.
"Saat ini pertemuan tersebut masih berada pada tahap penjajakan dan pertukaran informasi teknis. BP Batam menyambut baik ketertarikan JFE Engineering untuk memperkenalkan teknologi pengelolaan sampah yang mereka miliki," katanya kepada Batam Pos, Jumat (26/6).
Menurut Fary, pembahasan saat ini difokuskan pada pemetaan berbagai aspek, mulai dari kondisi persampahan di Batam, kebutuhan kapasitas pengolahan, kesesuaian teknologi yang ditawarkan, hingga kemungkinan skema investasi apabila proyek tersebut dilanjutkan.
Seluruh usulan, kata dia, akan melalui kajian komprehensif sebelum diputuskan menjadi proyek kerja sama.
Fary menegaskan persoalan sampah di Batam tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan satu teknologi. Karena itu, BP Batam mendorong sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi.
Baca Juga: BGN Mulai Seleksi Ulang Penerima MBG, Sekolah Elite Dievaluasi
Pendekatan tersebut meliputi pengurangan sampah dari sumbernya, peningkatan kegiatan daur ulang, penguatan sistem pengumpulan dan pengangkutan, hingga pemanfaatan teknologi modern untuk mengolah sampah menjadi energi.
"Teknologi waste to energy nantinya diposisikan sebagai bagian dari solusi terintegrasi, bukan satu-satunya solusi," ujarnya.
Hingga kini, BP Batam belum menentukan lokasi proyek, kapasitas fasilitas, potensi energi listrik yang akan dihasilkan, maupun target realisasinya. Seluruh aspek tersebut masih menjadi bagian dari kajian awal bersama calon investor.
BP Batam juga belum memastikan skema pembiayaan proyek, apakah sepenuhnya berasal dari investor atau melalui pola kemitraan. Namun, Fary memastikan pihaknya terbuka terhadap berbagai bentuk kerja sama yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan tetap sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
"BP Batam pada prinsipnya terbuka terhadap berbagai alternatif kerja sama yang memberikan manfaat optimal bagi masyarakat dan daerah, termasuk kemungkinan investasi dari pihak swasta maupun skema kemitraan lainnya sesuai ketentuan yang berlaku," katanya.
Baca Juga: AHM Luncurkan New Honda Vario Evo 160, Skutik Sporti dengan Mesin Lebih Bertenaga dan Fitur Baru
Penjajakan ini menjadi salah satu langkah BP Batam dalam mencari solusi pengelolaan sampah berbasis teknologi modern di tengah terus meningkatnya produksi sampah perkotaan.
Apabila kajian tersebut berlanjut hingga tahap investasi, teknologi waste to energy diharapkan mampu mengurangi timbunan sampah di TPA sekaligus menghasilkan energi yang mendukung pengembangan Batam sebagai kawasan industri dan kota berkelanjutan. (*)
Editor : M Tahang