batampos – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SMA di Provinsi Kepulauan Riau kembali menjadi sorotan. Sejumlah orang tua calon peserta didik meminta Dinas Pendidikan (Disdik) Kepri mengevaluasi mekanisme seleksi yang dinilai terlalu bertumpu pada hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan belum mengakomodasi rekam jejak prestasi siswa melalui nilai rapor.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Kantor Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau Wilayah Batam, Kasdianto, menjelaskan bahwa penggunaan nilai TKA dipilih untuk mempermudah proses pendaftaran karena sistem telah terintegrasi secara digital.
"Kalau menggunakan nilai TKA lebih mudah. Nilainya sudah langsung terkoneksi dengan aplikasi sehingga anak-anak tidak perlu lagi mengunggah dokumen," ujar Kasdianto, Rabu (1/7).
Menurutnya, apabila seleksi menggunakan nilai rapor, calon peserta didik harus memindai dokumen terlebih dahulu, mengubahnya ke dalam format PDF, kemudian mengunggahnya ke sistem. Proses tersebut dinilai lebih rumit dan berpotensi menyulitkan peserta.
Baca Juga: Jadi Sekda, Sularno Diminta Mampu Berkoordinasi dan Meningkatkan Disiplin Pegawai
"Kalau nilai rapor kan harus difotokopi, dibuat PDF, lalu diunggah. Sebenarnya penggunaan nilai TKA ini untuk mempermudah anak-anak mengunggah nilainya, karena kalau rapor prosesnya lebih sulit," katanya.
Jalur Prestasi Tetap Jadi Pertimbangan
Kasdianto menegaskan bahwa meskipun seleksi akademik didominasi oleh nilai TKA, pelaksanaan SPMB tetap memberikan ruang bagi peserta melalui jalur prestasi.
Menurutnya, prestasi akademik maupun nonakademik tetap menjadi salah satu komponen yang dipertimbangkan dalam proses penerimaan siswa baru.
"Kami juga tetap mengambil pertimbangan dari prestasi akademik maupun nonakademik," ujarnya.
Sistem Dinilai Lebih Baik
Kasdianto menilai pelaksanaan SPMB tahun ini menunjukkan sejumlah perbaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Salah satu peningkatan yang dirasakan adalah kemudahan akses terhadap sistem pendaftaran sehingga proses registrasi berlangsung lebih lancar.
"SPMB tahun ini ada kemajuan. Untuk mengakses sistem sekarang jauh lebih mudah dibanding sebelumnya," katanya.
Daya Tampung Jadi Penyebab Keluhan
Menanggapi banyaknya keluhan dari orang tua calon peserta didik, Kasdianto menilai persoalan utama bukan terletak pada sistem seleksi, melainkan tingginya minat masyarakat terhadap sejumlah sekolah favorit yang memiliki daya tampung terbatas.
Ia mengatakan sebagian orang tua tetap memaksakan memilih sekolah tertentu, meskipun lokasi tempat tinggal sebenarnya berada di luar jangkauan sekolah yang dipilih.
"Keluhan sekarang karena orang tua memaksakan memilih satu sekolah tertentu. Mereka menggunakan domisili tertentu, padahal jarak rumah sebenarnya jauh, sehingga akhirnya terlempar ke sekolah lain," tutupnya. (*)
Editor : Putut Ariyo