Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

75 Ribu Pengangguran di Kepri

Yashinta • Kamis, 2 Juli 2026 | 22:24 WIB
Ilustrasi. Bertapa melelahkan mencari kerja. F. Unsplash
Ilustrasi. Bertapa melelahkan mencari kerja. F. Unsplash

batampos - Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terus berupaya menekan angka pengangguran yang saat ini mencapai sekitar 75 ribu orang. Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad menegaskan bahwa peningkatan investasi menjadi strategi utama untuk menciptakan lapangan kerja baru sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.

"Kalau bicara pengangguran, kita bicara investasi. Itu satu-satunya jalan yang paling baik," kata Ansar.

Menurutnya, meski sebagian investasi yang masuk ke Kepri bergerak di sektor padat modal seperti data center yang relatif menyerap tenaga kerja lebih sedikit, masih banyak investasi di sektor manufaktur dan kawasan industri yang membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar.

 

Investasi Industri Tetap Serap Tenaga Kerja

Ansar mengatakan berbagai proyek investasi yang saat ini berjalan, termasuk di kawasan industri dan PT Bintang Rumina Indonesia, tetap memberikan kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja.

Selain itu, pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) di Kepri juga diharapkan mampu menciptakan peluang kerja baru bagi masyarakat.

"Memang ada investasi yang tidak terlalu banyak menyerap tenaga kerja, tetapi industri-industri lain tetap membutuhkan tenaga kerja. Karena itu situasi daerah harus tetap kondusif agar investasi terus datang," ujarnya.

Baca Juga: Perkuat Keamanan Siber, BSSN Pasang Sistem EDR di Aplikasi SPMB Batam

Kampung Nelayan Merah Putih Siap Dibangun

Selain mengundang investasi swasta, Pemprov Kepri juga mengandalkan berbagai program pembangunan pemerintah untuk membuka lapangan pekerjaan.

Salah satunya melalui pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih yang saat ini terus dipersiapkan.

Ansar menyebut hingga kini telah terdapat 82 lokasi yang terverifikasi. Pemerintah menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 100 lokasi dalam dua hingga tiga pekan mendatang sebelum diajukan kepada pemerintah pusat.

"Kita berharap 100 titik ini bisa segera disetujui. Nilai investasinya cukup besar, ada yang Rp10 miliar, Rp12 miliar hingga Rp22 miliar per lokasi. Masa konstruksinya tentu akan menyerap banyak tenaga kerja," katanya.

Selain itu, program Koperasi Merah Putih dan sejumlah proyek pembangunan lainnya, termasuk pembangunan Monumen Bahasa, juga diproyeksikan membuka kesempatan kerja baru.

 

Persaingan Kerja Semakin Ketat

Ansar mengakui Kepri menjadi salah satu daerah tujuan pencari kerja dari berbagai provinsi sehingga pemerintah tidak dapat membatasi arus masuk tenaga kerja dari luar daerah.

Kondisi tersebut membuat persaingan di pasar tenaga kerja semakin tinggi.

"Kami tidak bisa melarang orang datang mencari kerja ke Kepri. Yang bisa kita lakukan adalah terus mendorong investasi dan meningkatkan kualitas tenaga kerja lokal," ujarnya.

 

Pelatihan Kerja Berbasis Perusahaan

Untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja lokal, Pemprov Kepri mulai mengubah pola pelatihan kerja.

Jika sebelumnya pelatihan lebih banyak dilakukan di Balai Latihan Kerja (BLK), kini pendekatan yang diterapkan adalah pelatihan in-house langsung di perusahaan.

Menurut Ansar, pola tersebut lebih efektif karena peserta memperoleh pengalaman kerja secara langsung dan memiliki peluang lebih besar untuk direkrut setelah pelatihan selesai.

"Kami bantu biaya transportasi dan makan peserta. Model seperti ini lebih efektif dibanding peserta harus tinggal tiga sampai empat bulan di BLK dengan seluruh biaya ditanggung pemerintah. Kalau hasilnya bagus, perusahaan bisa langsung menyerap mereka," jelasnya.

 

Siapkan Sertifikasi Internasional bagi Lulusan SMK

Mulai 2027, Pemprov Kepri juga akan mengalokasikan anggaran sekitar Rp1 miliar per tahun untuk program sertifikasi kompetensi lulusan SMK.

Program tersebut diprioritaskan bagi lulusan yang ingin bekerja di luar negeri, dengan menggandeng lembaga sertifikasi internasional serta Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI).

Menurut Ansar, sertifikasi kompetensi yang diakui secara internasional akan meningkatkan daya saing tenaga kerja Kepri di pasar global.

"Kami ingin membuka peluang kerja lebih luas, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga ke Singapura, Malaysia, Jepang hingga Korea Selatan. Peluangnya banyak, tinggal bagaimana kita mempersiapkan tenaga kerja kami. Memang anggaran kita terbatas, tetapi program ini akan terus kita dorong," tutup Ansar. (*)

 

Editor : Putut Ariyo
#pengangguran kEpri #Investasi Kepri #Lapangan Kerja #Ansar Ahmad #pemprov kepri