Jadi Panggung Kebebasan Pers, Festival Media Selat Malaka 2026 Digelar Perdana di Dua Kota

Abdul Azis Maulana • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 12:00 WIB
Rapat persiapan festival Media Selat Malaka 2026 oleh panitia di Batam. F Abdul Azis/Batam Pos
Rapat persiapan festival Media Selat Malaka 2026 oleh panitia di Batam. F Abdul Azis/Batam Pos

Batampos - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia akan menggelar Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026 pada 19–21 September 2026 mendatang untuk pertama kalinya.

Penyelenggaraan dilakukan di dua kota sekaligus, yakni Batam dan Tanjungpinang, sebagai upaya memperluas ruang kolaborasi sekaligus mengangkat posisi strategis Kepulauan Riau dalam percakapan mengenai kebebasan pers, hak asasi manusia, dan demokrasi di kawasan Asia Tenggara.

Dua hari pertama festival akan berlangsung di Politeknik Negeri Batam sementara hari terakhir dipusatkan di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, kawasan bersejarah yang dikenal sebagai pusat perkembangan intelektual dan kebudayaan Melayu.

Festival Media merupakan agenda tahunan AJI Indonesia yang mempertemukan jurnalis, akademisi, mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, komunitas, pegiat seni, hingga pembuat kebijakan. Tahun ini, penyelenggara mengusung Selat Malaka sebagai identitas sekaligus tema besar festival.

Baca Juga: Dapur MBG Tak Penuhi Standar Akan Ditutup

Ketua AJI Kota Batam, Yogi Eka Sahputra mengatakan pemilihan tema tersebut tidak lepas dari posisi geografis Batam dan Tanjungpinang yang berada di jalur pelayaran internasional paling sibuk di dunia.

Menurut dia, Selat Malaka bukan sekadar lintasan perdagangan global, melainkan ruang pertemuan berbagai persoalan strategis, mulai dari perdagangan internasional, lingkungan hidup, masyarakat pesisir, keamanan maritim, migrasi, hingga isu kebebasan pers dan hak asasi manusia.

"Festival ini bukan sekadar acara. Ini adalah cara menjaga agar isu-isu strategis tersebut tetap menjadi perhatian publik," kata Yogi, Jumat (24/7).

Selama dua hari di Batam, festival akan menghadirkan Seminar Nasional bertema "Kemerdekaan Pers dan Keadilan HAM di Asia Tenggara" serta 12 workshop paralel yang membahas beragam isu aktual. Materinya mencakup peningkatan kapasitas jurnalis, transisi energi, perubahan iklim, lingkungan hidup, masyarakat adat, pulau-pulau kecil, keamanan digital, hingga kesejahteraan pekerja media.

Tidak hanya menghadirkan forum diskusi, penyelenggara juga menyiapkan panggung seni budaya, bazar UMKM, serta pameran komunitas dan mitra. Beragam kesenian khas Melayu seperti permainan gasing, Tari Mak Yong, dan Tari Dangkong akan ditampilkan sebagai bagian dari promosi budaya Kepulauan Riau kepada peserta dari berbagai daerah.

Baca Juga: Terjaring Razia, Motor Pelanggar Lalu Lintas Ditahan sampai Putusan Pengadilan

Ketua Panitia Festival Media Selat Malaka 2026, Adam Zulfikar mengatakan festival diperkirakan diikuti perwakilan 40 AJI Kota dari Aceh hingga Papua, bersama akademisi, mahasiswa, organisasi non-pemerintah, komunitas, pegiat budaya, dan masyarakat umum.

Berdasarkan pengalaman penyelenggaraan sebelumnya, Festival Media mampu menarik antara 2.000 hingga 4.000 pengunjung.

"Kami juga telah bekerja sama dengan sejumlah kampus di Batam agar mahasiswa dan dosen dapat terlibat aktif dalam festival. Selain itu, berbagai media di Batam dan Tanjungpinang ikut bergabung sebagai media partner," ujar Adam.

Seluruh rangkaian pertunjukan seni, bazar UMKM, dan area pameran dapat diakses masyarakat tanpa dipungut biaya. Adapun peserta seminar maupun workshop dapat melakukan pendaftaran sesuai kelas yang diminati melalui laman resmi festival.

Adam berharap festival menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan yang mampu memperkuat demokrasi, kebebasan pers, sekaligus perlindungan hak asasi manusia.

*"Kami ingin Festival Media Selat Malaka menjadi ruang kolaborasi yang memberi manfaat, bukan hanya bagi dunia jurnalistik, tetapi juga masyarakat luas,"* katanya.

Baca Juga: Peringati HAN, Selvi Gibran Ajak Anak Bintan Jaga dan Rawat Laut

Puncak Festival Media Selat Malaka 2026 akan berlangsung di Pulau Penyenga, Tanjungpinang. Lokasi ini dipilih bukan semata karena nilai historisnya sebagai destinasi wisata, tetapi juga karena perannya dalam sejarah perkembangan intelektual Melayu dan lahirnya tradisi pers di Nusantara.

Ketua AJI Tanjungpinang, Sutana mengatakan Pulau Penyengat merupakan bekas pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga yang wilayah kekuasaannya dahulu meliputi Riau, Lingga, Johor, Pahang hingga Singapura.

Menurutnya, dari pulau kecil tersebut lahir berbagai pemikiran yang memberi kontribusi besar terhadap perkembangan bahasa Melayu dan kemudian menjadi fondasi bahasa Indonesia.

*"Pulau Penyengat memiliki nilai sejarah yang luar biasa. Dari pulau kecil inilah lahir banyak pemikiran besar yang menjadi fondasi kebudayaan Melayu sekaligus turut membentuk perkembangan bahasa Indonesia,"* ujar Sutana.

Ia menjelaskan, pada 1895 berdiri Rusydiah Klub yang dikenal sebagai organisasi intelektual pertama di Nusantara. Perkumpulan tersebut menjadi pelopor tradisi menulis, penyebaran ilmu pengetahuan, dan cikal bakal perkembangan pers di Kepulauan Riau.

Karena itu, AJI memandang Pulau Penyengat sebagai simbol pertemuan antara sejarah intelektual dengan masa depan pers Indonesia.

"Pelaksanaan Fesmed di Penyengat merupakan pertemuan antara sejarah dan masa depan pers Indonesia," kata Sutana.

Di Pulau Penyengat, festival akan ditutup dengan dua agenda utama, yakni Focus Group Discussion (FGD) dan Sarasehan AJI se-Indonesia.

Forum tersebut menjadi wadah memperkuat solidaritas jaringan jurnalis sekaligus merumuskan rekomendasi bersama mengenai berbagai isu strategis.

Salah satu pembahasan penting dalam FGD adalah mendorong Pulau Penyengat menjadi Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO.

Usulan tersebut didasarkan pada kekayaan warisan budaya benda maupun tak benda yang dimiliki kawasan tersebut, termasuk situs-situs bersejarah, tradisi pantun, serta Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji .

Tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional itu juga dikenal melalui karya monumental lain seperti Kitab Pengetahuan Bahasa yang dianggap sebagai kamus bahasa Melayu pertama, serta Tuhfat al-Nafis.

Pemikiran Raja Ali Haji dinilai memberi sumbangan besar terhadap perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi dasar bahasa Indonesia.

Warisan intelektual itulah yang menjadi salah satu alasan utama AJI menempatkan Pulau Penyengat sebagai lokasi penutupan Festival Media Selat Malaka 2026 sekaligus memperkuat dorongan agar kawasan tersebut memperoleh pengakuan sebagai Warisan Dunia UNESCO. (*)

Editor : Chahaya Simanjuntak
Festival Media Selat Malaka