Waduk Nongsa Terancam Sedimentasi, Permukaan Air Menyusut dan Kapasitas Tampung Berkurang

Jamaluddin Lobang • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 09:59 WIB
Kondisi waduk Nongsa yang menyusut dan terlihat hamparan sedimen tanah merah di dasar waduk dan mengeras ketika mengering. Foto: Akar Bhumi Indonesia/chatgpt
Kondisi waduk Nongsa yang menyusut dan terlihat hamparan sedimen tanah merah di dasar waduk dan mengeras ketika mengering. Foto: Akar Bhumi Indonesia/chatgpt

batampos – Waduk Nongsa di Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, menghadapi tekanan serius akibat penyusutan muka air dan sedimentasi yang terus terjadi. Di sejumlah titik dasar waduk kini mulai terlihat hamparan tanah merah yang mengering, mengeras, dan membentuk daratan baru.

Pantauan Batam Pos pada Kamis (6/8) menunjukkan permukaan air waduk surut lebih dari dua meter. Area yang sebelumnya terendam kini berubah menjadi hamparan lumpur dan tanah merah yang retak-retak akibat kehilangan kadar air.

Di sekitar daerah tangkapan air (DTA), bekas aktivitas pemotongan bukit dan penggalian pasir juga masih terlihat. Kondisi tersebut dikhawatirkan mempercepat masuknya material sedimen ke badan waduk saat hujan turun.

Pendiri Akar Bhumi Indonesia (ABI), Hendrik Hermawan, mengatakan sedimentasi menjadi ancaman utama terhadap keberlanjutan fungsi Waduk Nongsa sebagai sumber air baku.

Baca Juga:  Sorotan Pengavelingan Laut di Batam

"Sedimentasi ini merupakan dampak pembukaan lahan. Ketika hujan turun, lumpur dan pasir bekas galian terbawa masuk ke waduk, lalu mengendap dan mengeras saat mengering," kata Hendrik, Kamis (6/8).

Menurutnya, sedimentasi secara bertahap akan mengurangi kapasitas tampung waduk sehingga berpotensi memengaruhi ketersediaan air bersih bagi masyarakat.

Kapasitas Waduk Relatif Kecil

Selain sedimentasi, Hendrik menyebut penurunan volume air dipengaruhi kondisi daerah tangkapan air, curah hujan yang rendah, serta meningkatnya kebutuhan air di kawasan Nongsa.

Data BP Batam menunjukkan Waduk Sei Nongsa memiliki volume tampung sekitar 720 ribu meter kubik dengan kapasitas produksi sekitar 60 liter per detik.

Kapasitas tersebut tergolong kecil dibandingkan waduk-waduk utama lain di Batam.

Secara teoritis, dengan kapasitas produksi 60 liter per detik, Waduk Nongsa mampu menghasilkan sekitar 5,18 juta liter atau 5.184 meter kubik air per hari jika beroperasi penuh selama 24 jam. Dalam satu tahun, total produksinya mencapai sekitar 1,89 juta meter kubik.

Di sisi lain, kebutuhan air di wilayah Nongsa terus meningkat seiring berkembangnya kawasan permukiman, industri, pariwisata, dan pusat ekonomi digital.

Karena itu, Hendrik menilai persoalan Waduk Nongsa tidak bisa hanya dilihat dari kondisi muka air saat ini, tetapi juga harus memperhatikan keberlanjutan sumber air baku di masa depan.

Menurutnya, keterbatasan produksi Waduk Nongsa membuat pasokan air ke kawasan tersebut harus mendapat dukungan dari sumber lain. Selama ini BP Batam telah mengalihkan sebagian suplai air baku dari Waduk Duriangkang.

"Batam hanya bergantung pada bendungan yang menampung air hujan. Karena itu, perlindungan daerah tangkapan air menjadi sangat penting," ujarnya.

Sedimen Membentuk Daratan Baru

ABI juga menemukan endapan tanah merah yang mulai memenuhi sebagian badan waduk. Hamparan sedimen tersebut diperkirakan telah memanjang lebih dari 200 meter di salah satu sisi waduk.

Saat mengering, endapan tersebut berubah menjadi permukaan keras menyerupai daratan baru dengan retakan-retakan yang terlihat jelas.

Hendrik mengingatkan sedimentasi yang terus berlangsung akan mengurangi kapasitas tampung air secara permanen jika tidak segera ditangani.

"Batam tidak memiliki banyak pilihan sumber air baku. Setiap bendungan harus dijaga sebelum kerusakannya menjadi permanen," katanya.

Ia juga menyoroti adanya pembukaan lahan baru seluas lebih dari dua hektare menggunakan alat berat di sekitar kawasan daerah tangkapan air Waduk Nongsa.

Menurut Hendrik, tekanan terhadap daerah tangkapan air juga terjadi di waduk lain di Batam, termasuk Waduk Tembesi yang menghadapi aktivitas pertanian, peternakan, industri kecil, dan pembangunan kawasan.

Ia mengingatkan agar setiap rencana pembangunan di sekitar waduk tetap mengutamakan fungsi kawasan sebagai penyedia air baku.

"Jangan sampai demi mengejar energi bersih, kita justru mengorbankan sumber air baku masyarakat," ujarnya menyinggung rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di Waduk Tembesi.

BP Batam Siapkan Mitigasi

Kondisi Waduk Nongsa sebelumnya telah menjadi perhatian BP Batam. Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, pada Januari 2026 meninjau langsung empat waduk utama yang menjadi sumber air baku Batam, yakni Waduk Nongsa, Sei Ladi, Sei Harapan, dan Duriangkang.

Dalam peninjauan tersebut, BP Batam mengevaluasi kualitas dan kuantitas debit air serta meminta pengelola Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) meningkatkan pengawasan dan mempercepat langkah mitigasi.

"Kami terus bergerak untuk menuntaskan persoalan air, terutama di wilayah-wilayah yang masuk kategori stress area atau area dengan gangguan suplai yang tinggi," kata Li Claudia.

Ia menegaskan penanganan persoalan air harus dilakukan melalui langkah jangka pendek maupun strategi jangka panjang agar kontinuitas layanan tetap terjaga.

Sebagai langkah antisipasi, BP Batam juga merencanakan operasi modifikasi cuaca pada 2026 untuk meningkatkan curah hujan di daerah tangkapan sejumlah waduk, termasuk Waduk Nongsa, guna menjaga cadangan air baku menghadapi potensi El Nino.

Saat ini kapasitas produksi seluruh Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Batam tercatat mencapai 3.487 liter per detik.

SWRO Jadi Alternatif Sumber Air Baru

Dalam Rencana Strategis (Renstra) BP Batam 2025–2029, pemerintah juga menyiapkan alternatif sumber air melalui pembangunan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) tahap pertama di Nongsa.

Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 300 liter per detik, atau sekitar lima kali lebih besar dibandingkan kapasitas optimal Waduk Nongsa yang mencapai 60 liter per detik.

SWRO diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan Batam terhadap waduk yang seluruhnya bergantung pada curah hujan.

Meski demikian, hingga kini BP Batam belum mengumumkan jadwal maupun tahapan pembangunan proyek tersebut.

Dengan meningkatnya sedimentasi, kerusakan daerah tangkapan air, dan kebutuhan air yang terus bertambah, keberlanjutan Waduk Nongsa menjadi perhatian penting. Tanpa langkah konservasi dan pengendalian yang lebih serius, kapasitas waduk berisiko terus menurun sehingga mengancam pasokan air baku bagi kawasan Nongsa yang terus berkembang. (*)

Editor : Putut Ariyo
Waduk Nongsa Sedimentasi Daerah Tangkapan Air bp batam Air Bersih Batam