batampos - Direktur Utama BPJS Kesehatan RI Mayjen TNI (Purn.) Dr. dr. Prihati Pujowaskito turun langsung mengecek pelayanan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam, Jumat (28/8).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan pelayanan peserta JKN di fasilitas kesehatan berjalan sesuai standar, mudah diakses, berkualitas, sekaligus memberikan proteksi finansial kepada masyarakat.
Prihati mengatakan, kunjungan ke sejumlah rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan merupakan bagian dari upaya memastikan secara langsung kondisi pelayanan di lapangan.
Saat berada di RSBP Batam, ia bahkan berbincang dengan sejumlah pasien dari berbagai segmen kepesertaan JKN untuk mengetahui langsung pengalaman mereka selama mendapatkan pelayanan.
“Kita tanya kepada pasien apakah ada diskriminasi atau tidak. Mudah, cepat, dan kemudian kita tanyakan bagaimana pelayanan di rumah sakit ini,” kata Prihati.
Baca Juga: UT Batam Perkuat SALUT, Perluas Akses Pendidikan Tinggi di Kepri
Dari lima pasien yang ditemuinya, seluruhnya memberikan penilaian positif terhadap pelayanan yang diterima. Kelima pasien tersebut berasal dari berbagai segmen, mulai dari Pekerja Penerima Upah (PPU), peserta mandiri, hingga Penerima Bantuan Iuran (PBI).
Menurut Prihati, kondisi tersebut harus terus dipertahankan oleh seluruh rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.
Ia menegaskan, pelayanan kepada peserta JKN harus sesuai dengan standar dan regulasi Kementerian Kesehatan. Pasien juga tidak boleh dibebani biaya yang semestinya menjadi tanggungan program JKN.
“Sekali lagi, kita pastikan mereka tidak mengeluarkan uang. Ini adalah proteksi finansial,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, Prihati juga menekankan pentingnya perubahan paradigma pelayanan kesehatan, dari volume-based menuju value-based.
Ia menjelaskan, pelayanan kesehatan tidak seharusnya berorientasi pada sebanyak-banyaknya tindakan medis, tetapi pada hasil pelayanan yang berkualitas dengan biaya seefisien mungkin.
“Value itu adalah pasien sembuh dengan biaya seefisien mungkin. Jadi kita nanti bukan hanya sebagai pembayar pasif, tetapi pembayar yang memilih kualitas layanan yang sesuai dengan yang dibutuhkan pasien,” jelasnya.
Menurut Prihati, pelayanan harus diberikan secara tepat sasaran berdasarkan indikasi medis. Tindakan medis tidak boleh dilakukan hanya untuk mengejar volume pelayanan atau keuntungan.
“Jangan volume asal mendapatkan uang yang lebih, tapi mengancam keuangan BPJS,” tegasnya.
Pendekatan value-based tersebut, kata Prihati, menjadi salah satu upaya BPJS Kesehatan menjaga keberlanjutan program JKN di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan.
Saat ini, BPJS Kesehatan bekerja sama dengan sekitar 3.200 rumah sakit di Indonesia. Sekitar 2.100 di antaranya merupakan rumah sakit swasta.
Baca Juga: Pipa 800 Milimeter Bocor di Mukakuning, Air Menyembur ke Jalan
Selain persoalan pembiayaan, Prihati mengingatkan masyarakat agar menjaga kepesertaan JKN tetap aktif. Menurutnya, semangat gotong royong menjadi fondasi utama keberlangsungan program tersebut.
“Jangan lupa iuran BPJS-nya juga harus diperhatikan, jaga kepesertaannya tetap aktif. Karena dengan BPJS ini, gotong royong, semua tertolong,” katanya.
Ia juga mengajak rumah sakit turut mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya mempertahankan kepesertaan JKN.
Sementara itu, Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam Ariastuty Sirait menyambut baik kunjungan Direktur Utama BPJS Kesehatan beserta jajaran ke RSBP Batam.
Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara BP Batam, RSBP Batam, dan BPJS Kesehatan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
Ariastuty mengatakan RSBP Batam merupakan salah satu rumah sakit rujukan di Provinsi Kepulauan Riau dengan status rumah sakit tipe B nonpendidikan. Rumah sakit tersebut memiliki kapasitas 200 tempat tidur dan telah meraih akreditasi Paripurna.
Tahun ini, RSBP Batam juga memperoleh apresiasi dari BPJS Kesehatan Wilayah 2.
“Capaian ini tentu bukan sekadar penghargaan, tetapi merupakan motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan,” ujarnya.
Dari sisi kinerja, Ariastuty menyebut pendapatan RSBP Batam tahun ini meningkat 14,13 persen. Peningkatan tersebut salah satunya didorong oleh pendapatan dari pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) serta pelayanan peserta BPJS Kesehatan.
“Ini di antaranya didorong oleh peningkatan pendapatan melalui Instalasi Gawat Darurat dan pelayanan melalui BPJS Kesehatan. Terima kasih BPJS Kesehatan,” katanya.
Baca Juga: Polda Kepri: Yuwanky Ditangkap, Bukan Menyerahkan Diri
Namun, Ariastuty menegaskan peningkatan pendapatan tidak semata-mata dilihat sebagai capaian finansial. Menurutnya, pertumbuhan tersebut juga mencerminkan semakin optimalnya pelayanan serta meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap RSBP Batam.
“Semakin besar kepercayaan masyarakat, maka semakin besar pula tanggung jawab yang harus kami jaga,” ujarnya.
Ia menegaskan peningkatan kinerja harus berjalan beriringan dengan peningkatan mutu pelayanan, kualitas sumber daya manusia kesehatan, tata kelola yang baik, serta pelayanan yang mudah, cepat, aman, dan manusiawi.
“Karena pada akhirnya, di balik sistem regulasi, di balik klaim dan aplikasi yang kita kelola, ada pasien dan keluarga yang menaruh harapan kepada kita untuk mendapatkan pelayanan terbaik,” katanya. (*)
Editor : Yofi Yuhendri