batampos – Sorak warga pecah setiap kali perahu melaju membelah perairan Tanjung Riau. Dari atas pelantar, ribuan pasang mata mengikuti gerak sampan layar, ketinting, hingga speed boat yang berpacu di laut.
Sabtu (29/8) pagi itu, pelantar dan tepian laut Kampung Tua Tanjung Riau, Kecamatan Sekupang, berubah menjadi panggung pesta rakyat. Warga datang bersama keluarga, sebagian bahkan memilih tiba lebih awal demi mendapatkan tempat terbaik untuk menyaksikan perlombaan.
Anak-anak berdiri di antara kerumunan orang dewasa. Para orang tua sibuk mencari posisi untuk melihat kapal yang berlomba. Sementara di laut, peserta beradu kecepatan dan keterampilan dalam rangkaian Pesta Anak Pantai yang digelar Pemerintah Kota Batam bersama masyarakat Kecamatan Sekupang.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Namun, Pesta Anak Pantai bukan sekadar perayaan kemerdekaan. Di kawasan pesisir Tanjung Riau, kegiatan itu menjadi cara masyarakat menghidupkan kembali tradisi bahari yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Tradisi yang Kembali Bergairah
Sampan layar menjadi salah satu perlombaan yang paling ditunggu. Tahun ini, perlombaan dibagi dalam tiga kategori, yakni sampan layar sembilan orang, tujuh orang, dan lima orang.
Selain itu, masyarakat juga disuguhi perlombaan speed boat kategori 40 PK dan 15 PK serta ketinting SAF luar.
Deru mesin dan kepakan layar membuat suasana di pelantar semakin riuh. Setiap perahu yang melaju cepat langsung disambut sorakan penonton.
Bagi Anita, warga yang datang bersama suami dan kedua anaknya, suasana seperti itu selalu menjadi daya tarik tersendiri.
“Seru. Hampir tiap tahun kami datang ke sini untuk melihat perlombaan kapal,” ujarnya.
Ia sengaja datang lebih pagi agar keluarganya bisa mendapatkan tempat yang nyaman. Selain menyaksikan perlombaan, momen tersebut dimanfaatkannya untuk menikmati waktu bersama keluarga.
Bagi anak-anak, kapal yang berpacu di laut menjadi tontonan yang menghibur. Bagi orang tua, Pesta Anak Pantai menjadi kesempatan berkumpul sekaligus mengenalkan tradisi pesisir kepada anak-anak mereka.
Kemeriahan kemudian berpindah dari laut ke daratan. Setelah perlombaan bahari, warga disuguhi pertunjukan seni dan budaya.
Reog dan berbagai tarian Melayu tampil di panggung hiburan. Kostum warna-warni dan gerakan para penari menarik perhatian warga yang sejak pagi memadati kawasan pelantar.
Musik tradisional berpadu dengan tepuk tangan penonton. Anak-anak yang sebelumnya sibuk melihat perlombaan kapal kini bergeser mendekati panggung.
Laut dan daratan pun seperti menghadirkan dua wajah budaya dalam satu pesta. Di laut, masyarakat mempertontonkan tradisi bahari melalui sampan layar, ketinting dan speed boat. Di darat, keberagaman budaya Nusantara hadir melalui seni pertunjukan.
Perpaduan itu membuat Pesta Anak Pantai tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang untuk mengenalkan tradisi kepada generasi muda.
Simbol Kekompakan Warga
Wali Kota Batam Amsakar Achmad yang hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi antusiasme masyarakat.
Menurut Amsakar, ramainya Pesta Anak Pantai menunjukkan kekompakan masyarakat Sekupang, mulai dari tingkat kecamatan, kelurahan hingga RT/RW.
“Saya sangat bangga dengan Kecamatan Sekupang. Warganya kompak, pimpinan kecamatan kompak, pimpinan kelurahan kompak, RT/RW juga kompak. Masyarakat yang hadir juga sangat antusias,” kata Amsakar.
Ia juga melihat jumlah peserta perlombaan sampan layar meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut dia, tradisi dan kegiatan masyarakat seperti Pesta Anak Pantai merupakan energi positif yang perlu terus dirawat.
“Ini ada energi bersama yang mesti kita kelola dengan baik. Saya sangat berbahagia karena ini menjadi simbol kekompakan kita supaya ada lompatan yang baik,” ujarnya.
Warisan yang Tak Boleh Hilang
Tokoh masyarakat Kampung Tua Tanjung Riau, Hasim, mengatakan Pesta Anak Pantai memiliki arti lebih dari sekadar perlombaan.
Kegiatan tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus hiburan bagi masyarakat. Tingginya antusiasme warga terlihat sejak pagi ketika pelantar dan tepian laut mulai dipenuhi pengunjung.
“Alhamdulillah sangat ramai. Dari pagi tidak berhenti masyarakat datang sampai pelantaran laut penuh semua,” katanya.
Menurut Hasim, meningkatnya jumlah peserta juga menjadi tanda bahwa tradisi bahari masih mendapat tempat di tengah masyarakat.
Ia berharap perlombaan sampan layar, ketinting, dan berbagai kegiatan bahari lainnya terus dipertahankan. Tradisi tersebut, kata dia, telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pesisir sejak masa kakek dan nenek mereka.
“Beberapa acara tradisional seperti sampan layar dan ketinting ini sudah ada sejak kakek nenek kita dulu. Ini harus dan wajib kita lestarikan,” tegasnya.
Hasim berharap Pesta Anak Pantai tidak berhenti sebagai agenda tahunan. Ia ingin kegiatan tersebut terus berkembang, dikemas lebih menarik, tetapi tetap mempertahankan akar tradisi masyarakat pesisir.
“Ke depan saya berharap tetap berlanjut dan lebih spektakuler lagi,” katanya.
Menjelang siang, riuh perlombaan perlahan berganti dengan aktivitas warga yang menikmati panggung hiburan. Namun, jejak pesta masih terasa di sepanjang pelantar.
Laut telah menjadi panggung bagi tradisi bahari. Daratan menjadi ruang bagi seni dan budaya. Sementara pelantar mempertemukan warga dari berbagai usia dalam satu suasana kebersamaan.
Di Tanjung Riau, pesta kemerdekaan akhirnya bukan sekadar tentang merayakan hari besar. Ia menjadi cara sederhana masyarakat menjaga warisan, mempertemukan generasi, dan memastikan tradisi pesisir tetap hidup di tengah perubahan zaman. (*)
Editor : M Tahang