Migrasi ke Batam Melonjak, Li Claudia Khawatir Pengangguran Ikut Bertambah

Muhammad Sya'ban • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 14:08 WIB
Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra.
Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra.

batampos – Batam semakin menarik bagi masyarakat dari berbagai daerah yang datang untuk mencari pekerjaan. Namun, tingginya arus migrasi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam karena berpotensi menambah tekanan terhadap angka pengangguran apabila tidak diimbangi ketersediaan lapangan kerja.

Wakil Kepala BP Batam yang juga Wakil Wali Kota Batam, Li Claudia Chandra, mengungkapkan persoalan tersebut saat bertemu dengan insan pers di Gedung Marketing BP Batam, belum lama ini.

Menurut Li Claudia, daya tarik Batam sebagai kawasan industri menjadi salah satu faktor yang mendorong masyarakat dari berbagai daerah datang untuk mencari pekerjaan.

Ia menggambarkan kondisi tersebut dengan perumpamaan Batam sebagai "gula" yang menarik "semut" untuk datang.

"Batam ini termasuk lima kota dan kabupaten yang gula. Yang semut pada mau ke sini, dan orang datang pada mau cari kerja," ujar politikus Partai Gerindra tersebut.

Migrasi Batam Disebut Kini di Posisi Pertama

Li Claudia mengatakan sebelumnya Batam berada di posisi kelima daerah dengan tingkat migrasi penduduk yang tinggi.

Empat daerah lain yang disebut memiliki tingkat migrasi tinggi adalah Bogor, Bekasi, Bandung, dan Kabupaten Tangerang.

"Beberapa bulan yang lalu, Batam nomor lima, yang migrasi penduduknya sangat banyak," katanya.

Namun, kondisi tersebut disebut mengalami perubahan. Li mengaku baru berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian dan memperoleh informasi bahwa posisi Batam kini berada di urutan pertama dalam tingkat migrasi penduduk.

"Itu kan jadi takut saya, jadi harus hati-hati," ujar Li.

Menurut dia, tingginya migrasi tidak dapat disikapi dengan menolak masyarakat dari daerah lain yang ingin menetap di Batam. Selama persyaratan administrasi terpenuhi, pemerintah harus memproses perpindahan penduduk sesuai aturan yang berlaku.

Li mencontohkan masyarakat dari Medan atau Tangerang Selatan yang membawa dokumen perpindahan resmi dari daerah asal. Pemerintah Batam tetap harus mengakomodasi mereka karena terdapat ketentuan perundang-undangan yang mengatur administrasi kependudukan.

Pendatang Enam Bulan Masuk Cakupan Penduduk

Li mengatakan persoalan menjadi lebih kompleks ketika masyarakat yang datang ke Batam untuk mencari pekerjaan belum mendapatkan pekerjaan setelah menetap di kota tersebut.

Ia mengaku telah mengumpulkan sejumlah camat, Dinas Tenaga Kerja, serta instansi yang menangani administrasi kependudukan dan pencatatan sipil untuk membahas persoalan tersebut.

Dalam pembahasan itu, Li mendapatkan penjelasan bahwa seseorang yang telah berada di Batam selama enam bulan dapat masuk dalam cakupan penduduk yang digunakan dalam survei Badan Pusat Statistik (BPS).

"Mereka bilang kalau sudah di sini enam bulan sesuai survei BPS, kalian sudah termasuk warga Batam," kata Li.

Kondisi tersebut kemudian membuat Li mempertanyakan dampaknya terhadap gambaran tingkat pengangguran di Batam.

Ia memberikan ilustrasi, seseorang datang ke Batam dengan tujuan mencari pekerjaan. Setelah tinggal selama enam bulan, tetapi belum memperoleh pekerjaan, orang tersebut tetap masuk dalam cakupan penduduk Batam dalam survei.

"Jadi kalian di sini enam bulan, enggak kerja, sudah termasuk warga Batam. Gimana coba surveinya?" ujarnya.

Menurut Li, kondisi itu berpotensi membuat angka pengangguran Batam ikut meningkat ketika arus migrasi terus bertambah sementara kesempatan kerja tidak tumbuh dengan kecepatan yang sama.

"Berarti angka pengangguran Batam sekarang nomor satu. Gula, yang semut sekarang sudah datang ke sini," katanya.

Lapangan Kerja Jadi Tantangan

Li menegaskan persoalan utama bukan pada keinginan pemerintah untuk membatasi masyarakat dari luar daerah yang ingin pindah ke Batam.

Menurutnya, pemerintah justru harus memastikan peningkatan jumlah penduduk berjalan seimbang dengan kemampuan daerah menyediakan lapangan pekerjaan.

"Tapi anak-anak ini tidak kerja. Tapi di survei, bilangnya sudah anak Batam," ujar Li.

Peningkatan migrasi, kata dia, menjadi tantangan tersendiri bagi Batam sebagai kota industri. Pertumbuhan investasi dan aktivitas industri perlu diikuti dengan penciptaan lapangan kerja yang memadai agar penduduk yang datang tidak berakhir menjadi bagian dari kelompok pengangguran.

Karena itu, pemerintah perlu memperkuat koordinasi antara kebijakan kependudukan, investasi, dan ketenagakerjaan agar daya tarik Batam sebagai pusat ekonomi tetap memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus mampu mengantisipasi dampak pertumbuhan penduduk.

Judul SEO:
Migrasi ke Batam Melonjak, Li Claudia Khawatir Pengangguran Ikut Bertambah

Judul Google Discover:
Batam Jadi Magnet Pencari Kerja, Li Claudia: “Semut Sekarang Sudah Datang ke Sini”

Meta deskripsi:

Tag:

Teks foto:
Li Claudia Chandra menyampaikan persoalan migrasi dan lapangan kerja di Batam saat bertemu insan pers.

Editor : Putut Ariyo
migrasi Batam bp batam batam pengangguran Li Claudia Chandra