Inflasi Batam Tembus 4,03 Persen, Harga Emas hingga Nasi dengan Lauk Melonjak

Rengga Yuliandra • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 20:16 WIB
Kepala BPS Kota Batam Devi Indriastuti. F.Istimewa
Kepala BPS Kota Batam Devi Indriastuti. F.Istimewa

 batampos - Laju inflasi Kota Batam pada Agustus 2026 mencapai 4,03 persen secara tahunan atau year on year (y-on-y). Kenaikan harga paling terasa pada sejumlah kebutuhan masyarakat, mulai dari makanan, transportasi, makanan dan minuman jadi, hingga perawatan pribadi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2026 tercatat 113,38. Angka tersebut meningkat dibandingkan IHK Agustus 2025 yang berada di level 108,99.

Kepala BPS Kota Batam Devi Indriastuti mengatakan, inflasi tahunan tersebut terjadi karena seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks.

Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai 10,49 persen. Disusul kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 5,77 persen, transportasi 5,17 persen, serta makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,09 persen.

Sementara itu, kelompok kesehatan mengalami kenaikan sebesar 2,50 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 2,47 persen, pendidikan 2,20 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 1,76 persen, serta pakaian dan alas kaki 1,19 persen.

“Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga naik 1,14 persen. Sedangkan informasi, komunikasi dan jasa keuangan menjadi kelompok dengan kenaikan paling rendah, yakni 0,88 persen,” ujarnya, Rabu (2/9).

Baca Juga: Cara Cek Desil BPS 2026 untuk Bansos dan Subsidi Pertalite

Dari sisi komoditas, sejumlah barang dan jasa menjadi penyumbang utama inflasi tahunan Batam. Di antaranya emas perhiasan, nasi dengan lauk, bensin, angkutan udara, daging ayam ras, beras, sigaret kretek mesin (SKM), sewa rumah, tulang sapi, akademi/perguruan tinggi, dan air kemasan.

“Cabai merah, sepeda motor, cabai rawit, udang basah, jeruk dan pisang juga turut memberikan tekanan terhadap inflasi tahunan,” sebut Devi.

Jika dilihat dari sumbangan masing-masing kelompok, makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,46 persen. Kemudian transportasi 0,71 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,70 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,53 persen.

Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga menyumbang 0,19 persen, pendidikan 0,16 persen, perlengkapan rumah tangga 0,07 persen, pakaian dan alas kaki 0,06 persen, kesehatan 0,06 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,05 persen, serta rekreasi, olahraga dan budaya 0,04 persen.

Meski inflasi tahunan masih berada di level 4,03 persen, perkembangan harga di Batam pada Agustus 2026 justru menunjukkan tren penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

“Secara month to month (m-to-m), Batam mengalami deflasi sebesar 0,20 persen. IHK turun dari 113,61 pada Juli menjadi 113,38 pada Agustus 2026,” tuturnya.

Deflasi bulanan tersebut terutama dipengaruhi turunnya harga angkutan udara, bayam, kangkung, tomat, bensin, jeruk, bawang merah, cabai rawit, sawi hijau, ketimun, dan bawang putih.

Namun, tidak seluruh komoditas mengalami penurunan. Beberapa komoditas justru memberikan tekanan inflasi bulanan, antara lain emas perhiasan, angkutan laut, air kemasan, semangka, udang basah, daging ayam ras, dan sigaret kretek mesin.

Baca Juga: Sensus Ekonomi 2026 di Batam Capai 90 Persen, BPS Kejar Responden yang Sulit Ditemui

Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas pendidikan, seperti taman kanak-kanak dan sekolah menengah atas, serta telur ayam ras dan pisang.

Secara kumulatif, tingkat inflasi Batam sejak awal tahun atau year to date (y-to-d) tercatat sebesar 1,53 persen.

Meski mengalami deflasi bulanan pada Agustus, laju inflasi tahunan Batam masih lebih tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya. Pada Agustus 2025, inflasi y-on-y tercatat 2,37 persen, sedangkan pada Agustus 2024 sebesar 2,79 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga di Batam secara tahunan masih cukup kuat, meski dalam jangka pendek perkembangan harga pada Agustus 2026 mulai mengalami penurunan. (*)

Editor : Yofi Yuhendri
IHK harga kebutuhan bps batam inflasi ekonomi