batampos — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan mulai berdampak terhadap konektivitas udara. Dua penerbangan rute Batam–Pontianak dan sebaliknya terpaksa dibatalkan akibat kondisi tersebut.
Direktur Utama Bandara Internasional Batam (BIB), Annang Setia Budi, mengatakan terdapat dua penerbangan yang terdampak pada Kamis (3/9) dan Jumat (4/9).
Kedua penerbangan tersebut yakni Pontianak–Batam dengan nomor penerbangan JT-955 dan Batam–Pontianak dengan nomor JT-954.
“Dua penerbangan tersebut masing-masing merupakan penerbangan dari Pontianak menuju Batam dengan kode JT-955 dan penerbangan dari Batam menuju Pontianak dengan kode JT-954,” kata Annang, Sabtu (5/9).
Menurutnya, kabut asap berpotensi mengganggu operasional penerbangan apabila menyebabkan jarak pandang menurun, baik di kawasan bandara maupun di sepanjang jalur penerbangan.
“Kondisi itu menjadi salah satu faktor yang harus diperhitungkan dalam keselamatan dan kelancaran penerbangan,” ujarnya.
Meski jarak Batam dan Pontianak mencapai sekitar 600 kilometer, kondisi cuaca dan jarak pandang di wilayah tujuan tetap dapat memengaruhi penerbangan yang menghubungkan kedua kota tersebut.
Untuk mengantisipasi perubahan kondisi, BIB memperkuat komunikasi dengan pihak maskapai. Otoritas bandara juga meminta maskapai memberikan informasi secara berkala apabila terjadi perubahan jadwal maupun kondisi penerbangan.
Langkah tersebut dinilai penting agar penumpang mendapatkan kepastian informasi sebelum maupun selama berada di bandara. Informasi yang cepat juga diperlukan untuk menghindari penumpang menunggu tanpa kepastian ketika terjadi perubahan penerbangan.
“Kami meminta informasi berkala dari pihak maskapai, misalnya apabila ada perubahan jadwal, supaya ini mendukung kelancaran penerbangan. Harap diinformasikan kepada penumpang,” ujar Annang.
Gangguan akibat kabut asap menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara. Ketika jarak pandang menurun, aktivitas penerbangan dan konektivitas udara antardaerah juga dapat ikut terganggu.
Kondisi tersebut menjadi perhatian, terutama bagi penerbangan yang menghubungkan Batam dengan sejumlah kota di wilayah Kalimantan. (*)
Editor : Jamil Qasim