Bukan Cuma Investasi, Ini Masa Depan Hubungan Batam dan Singapura

Muhammad Sya'ban • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 10:35 WIB

Singapura dan Batam, dari Mitra Menjadi Saudara
8 September 2026
Podcast yang dipandu Komisaris Batam Pos, Muhammad Iqbal (kanan) dan menghadirkan narasumber Menteri Negara Urusan Luar Negeri dan Dalam Negeri Singapura, Zhulkarnain Abdul Rahim (tengah) dan Kepala BP Batam yang juga Wali Kota Batam, Amsakar Achmad di Wisma Otorita Batam di Sekupang, Kota Batam, Jumat (4/9). Foto: Ari Akbar/Batam Pos
Singapura dan Batam, dari Mitra Menjadi Saudara 8 September 2026 Podcast yang dipandu Komisaris Batam Pos, Muhammad Iqbal (kanan) dan menghadirkan narasumber Menteri Negara Urusan Luar Negeri dan Dalam Negeri Singapura, Zhulkarnain Abdul Rahim (tengah) dan Kepala BP Batam yang juga Wali Kota Batam, Amsakar Achmad di Wisma Otorita Batam di Sekupang, Kota Batam, Jumat (4/9). Foto: Ari Akbar/Batam Pos

batampos – Hubungan Batam dan Singapura memasuki babak yang semakin luas. Kedekatan geografis kedua wilayah tidak hanya mendorong investasi dan perdagangan, tetapi juga membuka peluang kerja sama di bidang pendidikan, teknologi, sumber daya manusia (SDM), pariwisata hingga kebudayaan.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Podcast Batam Pos yang digelar di Wisma Otorita Batam, Kecamatan Sekupang, Jumat (4/9).

Podcast tersebut dipandu Komisaris Batam Pos Muhammad Iqbal dengan menghadirkan Menteri Negara Urusan Luar Negeri dan Dalam Negeri Singapura Zhulkarnain Abdul Rahim serta Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam yang juga Wali Kota Batam Amsakar Achmad.

Bagi Zhulkarnain, Batam bukanlah kota yang asing. Ia mengaku pernah berkunjung ke Batam sebelumnya dan melihat langsung perubahan kota yang hanya dipisahkan oleh perairan dari Singapura.

Ia menilai Batam merupakan kota yang dinamis dan terus berkembang.

“Batam ini seperti pergi ke macam tetangga kita terdekat. Ramai pengunjung dari Singapura dan ramai perusahaan,” kata Zhulkarnain.

Kedekatan geografis tersebut membuat hubungan Batam dan Singapura berkembang dalam berbagai sektor. Selain perdagangan dan investasi, interaksi kedua wilayah juga berlangsung melalui pariwisata, pendidikan, bahasa, kebudayaan hingga hubungan antarmasyarakat.

Singapura Jadi Salah Satu Investor Terbesar Batam

Peran Singapura terhadap perekonomian Batam terlihat dari besarnya realisasi investasi.

Pada semester pertama 2026, total investasi yang masuk ke Batam mencapai sekitar Rp38,97 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp10,8 triliun berasal dari Singapura.

Besarnya investasi tersebut menunjukkan posisi Singapura sebagai salah satu mitra ekonomi utama Batam.

Namun, Zhulkarnain menilai hubungan kedua wilayah seharusnya tidak berhenti pada investasi. Singapura memiliki pengalaman dalam pengelolaan investasi dan pengembangan ekonomi, sementara Batam mempunyai ruang pertumbuhan, kawasan industri, SDM serta posisi strategis di jalur perdagangan internasional.

Menurut dia, kedekatan tersebut dapat menjadi modal untuk membangun pertumbuhan bersama.

“Kita semua ingin negara maju bersama,” ujarnya.

Ia berharap hubungan yang telah terbentuk antara masyarakat maupun pelaku usaha Batam dan Singapura semakin diperkuat melalui pendidikan, budaya, bahasa, perusahaan dan kerja sama ekonomi.

BP Batam Pangkas Hambatan Perizinan

Amsakar mengatakan besarnya kontribusi Singapura terhadap investasi Batam menjadi alasan hubungan kedua wilayah perlu terus diperkuat.

Menurut dia, Batam, Singapura dan Malaysia memiliki kepentingan yang saling berkaitan dalam pengembangan ekonomi kawasan.

“Ketika kita berbicara Singapura, Malaysia dan Batam, saling memperkuat satu sama lain. Hubungan sekarang ini sangat baik. Kita ingin ke depan jauh lebih baik lagi,” kata Amsakar.

Salah satu fokus pemerintah adalah menciptakan iklim usaha yang lebih mudah dengan memangkas hambatan birokrasi.

Amsakar mengatakan penyederhanaan perizinan menjadi salah satu arahan Presiden Prabowo Subianto dalam pengembangan Batam sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional.

Sejumlah regulasi pemerintah pusat, termasuk PP Nomor 25, PP Nomor 28, dan PP Nomor 47, disebut memberikan ruang lebih besar bagi BP Batam untuk mempercepat proses perizinan.

BP Batam kemudian membentuk kelompok kerja yang dapat berkoordinasi langsung dengan kementerian, lembaga maupun pemerintah provinsi untuk menyelesaikan persoalan perizinan.

“Perizinan jauh lebih mudah dan jauh lebih singkat,” ujar Amsakar.

Ia mencontohkan proses Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL). Jika sebelumnya proses tersebut dapat membutuhkan waktu hingga sekitar satu tahun, pemerintah kini menargetkan waktu penyelesaian yang jauh lebih singkat.

Digitalisasi pelayanan melalui sistem perizinan terpadu dan OSS juga terus diperkuat untuk mengintegrasikan layanan yang sebelumnya tersebar di berbagai kementerian dan lembaga.

Bagi Amsakar, penyederhanaan perizinan bukan sekadar mengurangi tahapan birokrasi. Tujuan akhirnya adalah memberikan kepastian bagi investor untuk menjalankan usaha dan membuka lapangan pekerjaan.

“Yang namanya perizinan berusaha untuk menunjang usaha,” katanya.

Batam Butuh Tenaga Kerja Terampil

Zhulkarnain menilai kemudahan investasi harus dibarengi dengan peningkatan kualitas SDM.

Menurut dia, pertumbuhan investasi tidak akan optimal apabila kebutuhan industri tidak diimbangi dengan ketersediaan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai perkembangan zaman.

Keberadaan pendidikan vokasi di Batam dinilai dapat menjadi penghubung antara dunia pendidikan dan industri.

“Naikkan skill atau value warga Batam,” kata Zhulkarnain.

Kebutuhan tenaga kerja di Batam juga mulai mengalami perubahan. Selain manufaktur yang selama ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi kota, Batam mulai mengembangkan sektor baru seperti pusat data dan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Perubahan tersebut menuntut dunia pendidikan dan pemerintah untuk menyesuaikan kompetensi tenaga kerja.

“Baguskan lagi data dan pendidikan kita,” ujarnya.

Amsakar mengatakan Pemerintah Kota Batam telah mengalokasikan sekitar 26 persen APBD untuk sektor pendidikan. Anggaran tersebut antara lain diarahkan untuk meningkatkan kapasitas SDM.

BP Batam juga menjalankan sejumlah program pendidikan dan pelatihan. Pada 2026, sebanyak 48 anak Batam disebut mendapat kesempatan pendidikan melalui berbagai skema kerja sama.

Rinciannya, 13 anak mendapatkan beasiswa, lima di antaranya melalui kerja sama dengan IPS, meski dua peserta kemudian mengundurkan diri. Selain itu, sekitar 30 mahasiswa Politeknik Negeri Batam mengikuti program tersebut.

Pemerintah juga mendorong penguatan pendidikan vokasi di tingkat sekolah menengah kejuruan (SMK), sehingga lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.

BP Batam turut menyiapkan sekitar Rp39 miliar untuk program pelatihan dan bursa kerja melalui aplikasi Mantap.

“Artinya untuk skill sudah kita siapkan ke depan. Karena ke depan agar meminimalisir pengangguran di Batam,” kata Amsakar.

Kerja sama dengan dunia usaha juga diperluas melalui nota kesepahaman dengan sejumlah perusahaan. Pemerintah berharap perusahaan memberikan kesempatan yang lebih besar kepada tenaga kerja lokal.

“Fokus kita, MOU agar memperhatikan anak-anak asli Batam,” ujarnya.

Batam-Singapura Tak Sekadar Hubungan Bisnis

Di tengah perubahan ekonomi dan geopolitik global, Amsakar menilai hubungan Batam dan Singapura perlu dibangun lebih luas dari sekadar kepentingan bisnis.

Kedua wilayah memiliki posisi strategis di kawasan Selat Malaka dan terhubung dengan rantai perdagangan serta industri Asia Tenggara.

Karena itu, kerja sama di berbagai bidang dinilai menjadi semakin penting.

“Menurut saya, kita maju harus sama-sama atau saling mengisi satu sama lain,” kata Amsakar.

Zhulkarnain juga melihat peluang pengembangan kerja sama pada sektor energi, investasi, pendidikan, pelabuhan, teknologi dan industri berbasis AI.

Ia mendorong Batam untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan tenaga kerja agar mampu mengikuti perubahan kebutuhan industri.

Menurutnya, Batam telah berada di jalur yang tepat. Tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan investasi juga memberikan dampak terhadap kualitas hidup masyarakat.

Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat perusahaan dan konektivitas ekonomi, tetapi juga pendidikan dan kualitas SDM di kawasan ASEAN.

“Supaya ASEAN kita maju bersama, perusahaan, pelabuhan dan pendidikan,” kata Zhulkarnain.

Bagi Amsakar, hubungan Batam dan Singapura pada akhirnya tidak cukup disebut sebagai hubungan antarmitra ekonomi. Kedekatan selama lebih dari lima dekade telah membentuk hubungan yang lebih luas dan melibatkan masyarakat kedua wilayah.

Ia berharap hubungan tersebut berkembang menjadi kerja sama yang semakin erat dan saling menguatkan.

“Ibarat negara serumpun, kakak-adik yang harus memperkuat satu sama lain,” kata Amsakar. (*)

Editor : Putut Ariyo
Zhulkarnain Abdul Rahim amsakar achmad batam singapura investasi batam