Wamendagri Soroti Tantangan Batam: Air Bersih, Macet hingga Transportasi Publik

Antara • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 18:31 WIB
Suasana kemacetan di Jalan Gajah Mada akibat proyek yang dikerjakan saat jam masuk sekolah. F. Jamaluddin Lobang/Batam Pos
Suasana kemacetan di Jalan Gajah Mada akibat proyek yang dikerjakan saat jam masuk sekolah. F. Jamaluddin Lobang/Batam Pos

batampos – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menilai pesatnya perkembangan Kota Batam, Kepulauan Riau, harus diimbangi dengan penguatan infrastruktur dan pelayanan publik dasar.

Sejumlah persoalan yang perlu menjadi perhatian, antara lain ketersediaan air bersih, kondisi jalan, transportasi publik, pengelolaan sampah hingga laju migrasi penduduk.

“Saya lihat tantangan Kota Batam ini adalah bagaimana perkembangan kota ini diimbangi dengan pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik yang mendasar. Air bersih penting, jalan-jalan yang memadai juga penting,” kata Bima Arya di Batam, Jumat (11/9).

Menurut dia, pertumbuhan Batam yang semakin pesat harus diikuti perencanaan pembangunan yang mampu mengantisipasi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang.

Bima juga menyoroti persoalan kemacetan yang mulai terjadi di sejumlah kawasan Batam. Ia mengaku menemukan kemacetan di beberapa titik saat berada di Batam.

“Akhir-akhir ini saya di Batam dan beberapa sudut tertentu mengalami kemacetan. Saya pikir apakah memang karena ada pembangunan jalan atau memang kondisinya seperti ini,” ujarnya.

Selain infrastruktur dasar, Bima menilai Batam perlu mulai memperkuat sistem transportasi publik. Menurutnya, pembangunan kota harus sejak awal memperhitungkan kebutuhan transportasi agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

Ia mencontohkan Jakarta yang kini memiliki sistem transportasi publik yang semakin terintegrasi melalui MRT, LRT, dan TransJakarta.

“Sekarang lebih nyaman naik transportasi publik ke mana-mana yang terintegrasi. Batam jangan sampai terlambat,” katanya.

Bima menyebut air bersih, pengelolaan sampah, transportasi publik, serta laju migrasi sebagai sejumlah tantangan yang perlu dimitigasi sejak dini.

“Kalau itu bisa dijawab dan dimitigasi, maka Kota Batam akan menjadi salah satu kota termaju di Indonesia,” ujarnya.

Jaga Identitas Melayu

Di tengah pembangunan Batam menuju kota metropolitan, Bima mengingatkan agar pertumbuhan kota tidak menghilangkan identitas daerah.

Menurutnya, pembangunan fisik dan tata kota harus tetap selaras dengan kultur serta adat Melayu yang menjadi bagian penting dari identitas Batam.

“Jangan sampai Kota Batam ini berkembang menjadi kota metropolitan tanpa identitas. Kultur Melayu, adat Melayu ini harus dimuliakan di sini dan selaras dengan desain tata kota di Batam,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan persoalan sampah dan air bersih menjadi perhatian pemerintah daerah.

Untuk pengelolaan sampah, Amsakar menyebut sudah terdapat perkembangan. Namun, persoalan jaringan air bersih masih membutuhkan penyelesaian secara bertahap.

“Pipa-pipa kita usianya sudah 50 tahun. Ini bersinggungan dengan pembangunan infrastruktur. Tapi kami kira ini tidak ada masalah, justru ini menjadi momentum untuk peremajaan,” kata Amsakar.

Ia mengatakan pembenahan jaringan perpipaan akan dilakukan seiring dengan pengembangan dan pengelolaan waduk. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat pelayanan air bersih bagi masyarakat Batam.

Menurut Amsakar, peremajaan infrastruktur perpipaan menjadi bagian penting dalam menjawab kebutuhan Batam yang terus berkembang sebagai kota industri dan metropolitan. (*)

Editor : Jamil Qasim
Wamendagri Macet hingga Transportasi Publik air bersih