batampos - Kapolresta Barelang Kombes Pol Anggoro Wicaksono memastikan bentrokan di kawasan Jembatan III Barelang, Senin (14/9), murni dipicu konflik lahan. Polisi menegaskan tidak ada unsur suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dalam bentrokan yang menewaskan dua orang tersebut.
Anggoro mengatakan, konflik lahan yang melibatkan dua kelompok tersebut telah berlangsung cukup lama. Kepolisian juga telah beberapa kali melakukan mediasi untuk mencari penyelesaian, tetapi belum menemukan titik temu.
“Konflik masalah lahan ini sudah cukup lama berjalan. Sudah beberapa kali dilakukan mediasi oleh polisi,” kata Anggoro di Mapolresta Barelang.
Menurut dia, bentrokan yang terjadi Senin merupakan aksi penyerangan yang melibatkan dua kelompok dan berlangsung secara spontan. Polisi masih mendalami secara utuh rangkaian kejadian yang berujung pada jatuhnya korban jiwa.
Dalam insiden tersebut, dua orang meninggal dunia. Selain itu, sejumlah orang dari kedua kelompok mengalami luka-luka. Anggoro menyebut tiga korban luka berasal dari salah satu kelompok, sementara tiga orang lainnya berasal dari kelompok lainnya. Seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis.
Baca Juga: Sengketa Lahan Berujung Bentrokan di Jembatan III, Dua Orang Tewas
Terkait penyebab kematian dua korban, polisi masih menunggu hasil pemeriksaan medis. Dugaan sementara, kedua korban meninggal akibat penggunaan senjata angin.
“Dua orang meninggal itu diduga ada penggunaan senjata angin. Ini masih dugaan awal karena masih dalam proses pemeriksaan medis,” ujarnya.
Pasca bentrokan, kepolisian langsung melakukan pengamanan dan penindakan. Sejumlah orang telah diamankan untuk dimintai keterangan terkait peristiwa tersebut.
Anggoro memastikan penyidik akan memproses seluruh pihak yang terbukti terlibat tanpa melihat kelompok maupun latar belakangnya.
“Kami pastikan ini masalah konflik lahan, tidak ada masalah SARA. Kami mengimbau masyarakat percaya kepada kami. Kami akan upayakan penegakan hukum secara terbuka kepada semua yang terlibat,” tegasnya.
Anggoro juga meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh isu yang belum terverifikasi. Ia memastikan situasi di lokasi saat ini telah kembali kondusif.
Persoalan lahan tersebut semakin kompleks karena salah satu pihak disebut telah menerima PL (alokasi lahan), sementara pihak lainnya masih menguasai lahan. Kondisi itu telah berlangsung lama dan berulang kali dimediasi.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak terprovokasi dengan isu yang tidak benar. Saat ini situasi kondusif,” katanya.
Personel TNI turut membantu kepolisian menjaga keamanan di lokasi untuk memastikan tidak terjadi bentrokan susulan. (*)
Editor : Yofi Yuhendri